
"Jadi ini.. Panel hitam Pandora?" tanya Andra.
"Begitulah, saya rasa ini bagian potongan luarnya, mereka belum memiliki kelengkapan untuk melengkapkannya" ujar Pak Andi.
"Hah! kalau gitu... saya memutuskan untuk menomor belakang kan urusan 'Tanggal Emas' sampai ada petunjuk, sekarang tolong berikan padaku semua berkas-berkas proposal keuangan yang diminta para mentri, Radith" kata Andra.
"Tentu Tuan"
Sementara itu...
"Meski begitu... tetap berdiri tegap dan bersinar saja kediaman Harrison ini" ujar Ilham, ayah Rizal.
"Begitu kah, Paman? sayangnya kak Rizal tidak ingin ikut" kata Alex.
"Sebaiknya kita temui kepala keluarga ini"
Di dalam ruangan....
"Rupanya sedang kedatangan tamu" gumam Ilham.
"Wah.. lihat siapa yang datang?" tanya seseorang.
"Lho? anda?" tanya Ilham.
Kepala keluarga Harrison :
Seno Laksamana Harrison
"Lama tak jumpa ya Ilham?" tanya Seno.
"Wah... Tuan Seno, maaf ya.. ibuku sendiri yang pemimpin keluarga Kencana tidak ingin berkunjung aku jadi tidak enak" kata Ilham.
"Haha, tidak apa... saya sendiri bahkan berharap Nyonya Lestari ingin berkunjung kemari, tak apa" ujar Seno.
Di kediaman Kencana...
"Dimana Ilham?"
"Tuan muda Ilham sedang berada di kediaman Harrison, Nyonya besar" kata pelayan.
"Si Ilham, anak itu... berapa kali aku harus berkata padanya? agar jangan berinteraksi dengan keluarga itu lagi"
Kepala Keluarga Kencana :
Lestari Alya Kencana
"Keluarga Kencana tidak akan pernah berinteraksi dengan keluarga yang bersifat seenaknya itu" ujar Lestari.
"Bagaimana ini? apakah dia akan membocorkan kalau Kotak Pandora ada di tangan keluarga ini? sayangnya kotak ini tidak bisa dibuka"
Lanjut ke Rosement...
Ruang kesehatan...
"Good! tahan ya Amanda, sedikit lagi bisa di buka perbannya" kata Randi.
"Tidak akan sakit kan Pak?" tanya Amanda.
"Tidak" jawab Randi.
"Pelan-pelan ya Randi, nih Amanda.. ku bawakan jus" kata Rahmat.
"Makasih kak" kata Amanda.
Hari ini.. maksudnya, malam ini.. adalah malam di lepasnya perban Amanda.
"Tapi.. tumben sekali kau kesini Andra" ujar Rahmat.
"Saya ingin berbicara ke Randi setelah ini" kata Andra yang beralasan, sebenarnya ingin melihat di lepasnya perban Amanda.
"Kau modus kan?" bisik Vian yang ingin melihat juga.
"Berisik!"
"Ok... ku gunting dulu perbannya" kata Randi.
Bertahap dan bertahap Randi perlahan-lahan melepaskan perban Amanda, mulai dari mengguntingnya dengan sangat hati-hati agar tidak terkena jahitan luka.
"Hah... sekarang tinggal di buka lapisan terakhir nya" kata Randi.
Alhamdulillah, Randi berhasil membukanya dengan sangat hati-hati dan tidak terluka sama sekali.
"Syukurlah, luka jahitan di tanganmu sudah kering, tapi masih terasa sakit, tapi ini masih sekitar 98% dari penyembuhan, tapi ini sudah sembuh kok, tinggal di pakai perban tipis saja selama beberapa minggu dan sembuh total" Jelas Randi sambil memasangkan perban tipis ke Amanda.
"Wah.. Alhamdulillah, terimakasih Pak Randi" kata Amanda sambil tersenyum.
"Yah... ternyata selain julukan mu sebagai dokter mesum, kau ternyata cukup handal juga" ujar Vian.
"Hei! aku ngga mesum!" ujar Randi.
"Sudah... tidak usah berisik" kata Andra.
"Oh ya.. aku ngga lihat Rafa-niichan nih?" kata Amanda.
"Huh! bikin rese denger namanya aja" ujar Vian.
"Jangan kayak gitu deh,.. Rafa-niichan kan baru disini, berteman baik dong" kata Amanda.
Akhirnya semua setelah melihat Amanda mereka langsung ke kamar masing-masing.
"Kak Rahmat,... mau brownies ngga? aku baru buat lho" kata Amanda.
"Ngga usah, makasih" ujar Rahmat.
"Oh ya udah"
****
"Ada ngga ya? Rafa-niichan di kamar?" gumam Amanda.
No. 11...
Tok! Tok! Tok!
"Assalamu'alaikum,... Rafa-niichan? ada di kamar?" tanya Amanda.
"Ngga di jawab? ada apa ya?" batin Amanda.
"Em... Assalamu'alaikum?" tanya Amanda.
Ceklek!
"Siapa?" tanya Rafa sambil membuka pintu.
"Em.. ini aku, Onii-chan" kata Amanda.
"Oh.. ada apa?" tanya Rafa datar.
"Anu, Rafa-niichan ngga keluar kamar tadi siang,.. jadi Rafa-niichan keberatan ngga? kalau makan brownies bareng?" tanya Amanda.
Rafa terdiam.
"Ya.. masuk" kata Rafa datar sambil membiarkan Amanda masuk.
"Em,.. makasih" kata Amanda.
PATS! Rafa menyalakan saklar lampu.
"Be... Berantakan sekali" batin Amanda.
"Anu... Rafa-niichan?" tanya Amanda melihat Rafa bermain Ponsel.
"Apa?" tanya Rafa.
"Em.. kita rapikan kamar yuk!" kata Amanda.
"Rapikan?" tanya Rafa.
"Iya.. biar rapi" kata Amanda.
"Huft! iya.. iya" kata Rafa langsung bangkit dari kursinya.
"Rafa-niichan nanti bersihkan lantai ya... aku mau bersihkan kasur ya" kata Amanda.
"Ya" kata Rafa.
"Em.. aku mau taruh brownies ini di kulkas dulu ya" kata Amanda.
Akhirnya Amanda menaruh Brownies ke kulkas dan membantu Rafa membersihkan.
"HUAA!!!! AMANDA!!!"
"Astaghfirullah! ada apa lagi ini!?"