
Meghan, Toni, dan Crish sedang ditahan... mereka bisa saja memberontak dan melawan, tapi hanya saja mereka khawatir jika musuh yang ada melebihi perkiraan dan membahayakan.
DUAK!! Tiba-tiba pengendali kuda terluka karena tendangan.
"Eh?" tanya mereka bertiga.
DUAK! JDAK! Para pemandu dan penjaga langsung pingsan.
CKLAK! Pintu dibuka.
"Kalian baik-baik saja?" tanya Edward.
"Kapten Edward!" kata Crish.
"Edward!? kenapa kau bisa ada disini!?" tanya Meghan.
"Aku mengikuti GPS yang di taruh Cepheus di Pin kalian masing-masing, ng? dimana Yumna?" tanya Edward.
"Dia... dibawa oleh kereta kuda yang lain" kata Toni.
"Begitu... ng? kenapa kau terlihat kesal Crish?" tanya Edward.
"Karena aku sama sekali tidak bisa memaafkan Mizuki" kata Crish dengan muka kesal.
"Kenapa?" tanya Edward.
"Karena... "
Flashback...
"Ah! Yumna!" gumam Crish saat melihat Amanda di tahan Ray.
"Tidak... mungkin" Crish bahkan mendengar apa yang di tulis Erlan di surat yang di titip Ray.
"Apa!? Mizuki!?" batin Crish seraya tidak percaya dan timbul rasa amarah.
Crish akhirnya ketahuan dan di tangkap oleh anggota Rebellion yang lain.
Flashback Off...
"Begitu... " gumam Edward.
"Yumna ditangkap dan dibawa ke penjara bawah tanah" kata Meghan.
"Begitu? baiklah... kalian pergilah ke pos terdekat, disekitar sini ada pos terdekat cabang markas kita, pergilah ke sana.. aku akan mengurus yang satu ini" kata Edward.
"I.. iya"
Di Markas rahasia Rebellion...
"Bagaimana? rasanya terkurung?" tanya Ray.
Amanda membuka matanya.
"Fujiwara Ray... ya? kenapa kau menjebak kami?" tanya Amanda.
"Tentu saja, aku ingin kau berada didalam genggaman ku" kata Ray.
"Begitu, lalu... kenapa? kau bisa mengenal Fujiwara Mika alias Ibu kandungku?" tanya Amanda.
"Hah? serius? kau hanya ingin bertanya hal suram saj-... " belum selesai Ray bicara.
"Jawab saja" kata Amanda dengan mengaktifkan Silent-nya.
"Hah! baiklah! baiklah! dimulai dari mana?" tanya Ray.
"Terserah"
"Begitu ya? hmf... begini.. Generasi Fujiwara sekarang hanya tersisa sampai generasi yang ke sepuluh" kata Ray.
"Lalu?"
"Mendiang Ayahku berasal dari keluarga bagian branch Fujiwara, dan dia memiliki dua istri yang sama-sama berasal dari Fujiwara juga. Istrinya yang pertama berasal dari Fujiwara utama, dia melahirkan ibumu yaitu Fujiwara Mika, sedangkan Istrinya yang kedua berasal dari golongan Fujiwara yang sama yaitu branch, dia melahirkan diriku dan adikku, Fujiwara Hannah" Jelas Ray.
"Karena sifat iri ibuku karena melihat Ayahku lebih peduli pada Ibu tiri ku, itu membuat Ibu tiri ku menjadi tidak enak dan memilih untuk bunuh diri karena itu... akhirnya kakak tiri ku Mika, harus masuk ke akademi militer pelatihan ninja, dia dilatih dan sering di jenguk oleh Ayah... " Jelas Ray.
"Tapi, Mika hanya lebih percaya padaku saja dan akhirnya lebih banyak bercerita padaku... dia merasa kesal karena Ayahnya, Ibu tiri jadi bunuh diri karena itu, makanya setiap ditanya mana keluargamu, dia akan menjawab : 'Keluarganya sudah mati semua' karena dia kesal. Dia juga sering menasihati ku kalau aku tidak boleh membunuh, tapi itu sudah menjadi kebiasaan ku" Jelas Ray.
"Tapi pada akhirnya aku mendengar adikku, Hannah dihamili oleh salah seorang pelanggannya... dan mendengar kabar kalau kak Mika telah menikah dengan pemuda Hasegawa berdarah bangsawan, tapi akhirnya aku juga mendengar meninggal dunia bersama dengan suaminya. Aku hanya bisa melihat kedua putra putrinya yang telah menjadi Terano dan pemegang segel" jelas Ray.
"Maksudnya!? kau dan aku... adalah.. " Amanda memutuskan kata-katanya.
"Ya.. kau dan aku adalah-... " belum selesai Ray bicara.
"Kapten! anda perlu ke ruang kendali! kereta kuda yang membawa tahanan pasukan pengintai gerakan pemberantasan belum sampai sedari tadi! kami harap, anda dapat ikut untuk mengurus hal ini" kata salah seorang anggota Rebellion.
"Baiklah... kalian memang tidak dapat diandalkan! ok Yumna, sampai berjumpa lagi, senang dapat ngobrol sebentar bersamamu" kata Ray.
Amanda hanya terdiam.
"Ray.... adalah... tapi, kenapa saat bertemu dengan Ibu, ia tidak menceritakannya? tidak! kau harus bisa mengerti situasi Ana! Ibu masih kesal akan itu, tapi... kenapa Erlan mengirim surat seperti itu? seharusnya aku yang marah" batin Amanda dengan pasrah dan memendam semua yang ada dalam-dalam sambil menutup matanya dan menggenggam syal yang dia pakai.
CTRANG! KLAK!! Pintu sel tiba-tiba terbuka.
"Akhirnya aku menemukanmu, Yumna. Ayo, kita harus keluar dari sini" kata Edward.
"Kap.. ten!? kenapa anda disini?" tanya Amanda kaget.
"Tentu saja untuk menyelamatkanmu, ayo... kita harus pergi" kata Edward.
"Maaf... tapi aku tidak bisa pergi" kata Amanda.
"Hah?" tanya Edward dengan pelan sambil menatap Amanda, darah yang berbekas di wajahnya adalah sisa-sisa pertarungan saat di markas lama Rebellion.
Amanda menunduk.
"Terimakasih kau telah membantuku, tapi... semuanya sudah berakhir, aku bahkan mendengar sedikit cerita pahit dari Ray dan surat dari Erlan" kata Amanda tanpa menatap Edward sedikitpun.
"Aku tidak ada artinya dan hanyalah seorang budak. Pada akhirnya, aku tidak ada bedanya dengan binatang-binatang itu" kata Amanda.
"Aku tidak berharga bagi Er-... " belum selesai Amanda bicara.
GREP! Edward mencengkeram syal biru Amanda dengan kuat.
"Budak? siapa bilang kau seorang budak!? apa yang kau katakan!? kalau kau tidak berharga, untuk apa aku datang membantumu!? Di luar sana ada orang-orang yang khawatir padamu dan menyayangimu! Mereka, kakakmu, teman-temanmu, sedang menunggumu!" Kata Edward dengan menegaskan suaranya.
Amanda hanya meneteskan air matanya mendengar Edward berkata seperti itu sambil memegang syal birunya.
"Lepaskan, kumohon... ini sangat penting bagiku. Dia memberiku ini, dan mengajariku cara untuk hidup dan dia adalah teman pertamaku" kata Amanda sambil bercucuran air mata.
"Aku... Aku tidak bisa melupakan ini, Dasar... " kata Amanda lagi.
Edward hanya melepaskan kerutan di dahinya mendengar ucapan Amanda dan melepaskan cengkeramannya dari syal biru Amanda.
"Sekarang semuanya sudah berakhir" kata Amanda.
Keduanya langsung suram, suasana benar-benar tertekan. Edward hanya terdiam, Amanda hanya menunduk sambil menangis deras tak bersuara.
"Aku mengerti, aku akan menunggu di luar. Jika kau sudah siap... keluarlah" kata Edward sambil pergi dan memakluminya.
Edward dengan suram dan menunduk sedikit langsung pergi dari situ, Amanda hanya menatapnya.
"Mata itu... " batin Amanda.
Beberapa jam kemudian di luar markas Rebellion....
Ray sedang berdiri disitu.
Amanda menatapnya.
"Kenapa kau melakukan hal seperti ini? kenapa kau berbuat jahat? kenapa kau seperti itu? apakah Erlan juga bekerja sama denganmu?" tanya Amanda.
"Aku tahu, kalau kau sebenarnya ingin membantu kami dari-.. " belum selesai Amanda bicara.
"Aku sudah tahu kau akan datang" kata Ray.
Amanda dan Edward terbelalak.
"Apa?" tanya Amanda.
"Kenapa? kalian ada disini? bukankah kalian harusnya langsung pergi bukan?" tanya Ray.
"Ray... aku, hanya ingin tahu kenapa kau bisa ada kontak dengan Erlan? kenapa kau juga ingin diriku dan Kapten Edward?" tanya Amanda.
Ray terdiam sebentar.
"Sudah kubilang kan? Mizuki menginginkan aku mengirimkan pesan untukmu bahwa dia membencimu, Kau mengerti maksudku kan?" tanya Ray.
"Soal untuk aku yang menginginkan kau dan Edward karena hal lain yang tak bisa ku ceritakan, dan itu semua akan terungkap saat kematian" ucap Ray.
"Jujur, aku mendukung kata-kata Mizuki yang membenci orang yang mempunyai ke tekanan seperti Fujiwara, tidak akan mengerti ya?" tanya Ray.
Amanda kaget akan hal itu, Edward langsung geram.
"Aku juga akan menegaskan sekali lagi ucapan Mizuki" kata Ray, Edward melirik Amanda yang membendung air matanya.
"Aku selalu membencimu" kata Ray.
Amanda hanya terkejut dan terbelalak karena Ray.
"Dan sekarang, dia dan aku bebas" kata Ray lagi.
Mata Edward langsung berwarna merah dan mulai menebas Ray, Amanda langsung berada di depannya dan menahan Edward sambil memeluknya, Edward kaget apa yang dilakukan Amanda, karena Ray adalah seorang pembunuh.
"Kau telah berjanji padaku untuk tidak menyakitinya kan?" tanya Amanda
"Ukh... " Ray memegang pipinya yang sedikit terkena tebasan pedang dan langsung pergi dari situ.
"Ray!!" Seru Amanda.
"Tunggulah disini! dia memang berbahaya untuk di biarkan lari" kata Edward sambil pergi dari situ dan mengejar Ray.
"Ka.. Kapten!"