
Keesokan Harinya
Dihari minggu....
"Wah! Pak Vandro ngga apa-apa kan, Pak?" tanya Amanda.
"Ngga apa-apa, semalam Vandro sudah diobati, hanya saja untuk pemulihannya akan bertambah lama, karena luka yang didapatkan dari Sembilan yang memang belum sembuh, tiba-tiba ditambah lagi dengan luka dari tendangan semalam, katanya dia dilukai oleh sepupunya Andra ya?" tanya Randi.
"Ya, begitulah! tapi Vandro ngga apa-apa kan?" tanya Vian.
"Ngga kok, tapi ia akan badmood, dan tidak akan sembuh dalam waktu dekat ini" kata Rahmat.
"Kalau tentang kebobolan semalam bagaimana kak Rahmat?" tanya Amanda.
"Semalam memang kita sempat kebobolan, tapi syukur tidak terlalu parah dan semuanya sudah ditangani Pak Andi dan ia akan berbicara dengan Andra" jelas Rahmat.
"Hei! semuanya, aku datang!" kata Vanora.
"Wah! kak Vanora!" kata Amanda.
"Yaps! Oh ya, Ran! bisa ambilkan barang-barangku dimobil ngga?" tanya Vanora.
"Ya, akan ku ambil sekarang" kata Randi sambil menuju kearah garasi belakang.
"Kak Vanora baru pulang ya?" tanya Amanda.
"Ya, yang seperti kau lihat sekarang" kata Vanora.
"Ya, tante designer baru pulang" kata Vian.
Grrrt! Vanora menjewer telinga Vian.
"Aku bukan tante-tante, Gentong!" kata Vanora.
"A... adududuh! Vanora! kamu ini kenapa sih!?" kata Vian.
"Van! aku udah letakkin semua barangnya di dapur, ini aja kan?" tanya Randi.
"Ya, itu aja"
"Oh ya, Vanora dan Randi! belum makan kan? mau ku buatkan makanan?" tanya Rahmat.
"Wah, boleh tuh Rah.... WADAAAOW!!!!" Randi berteriak karena kaki nya diinjak Vanora.
"Randi.... kamu tahu kan? apa yang seharusnya terjadi? " telepati Vanora tapi tetap senyum untuk tidak mengubah suasana.
"Ba... bagaimana aku bisa luput? Sorry Vaaaan!!! " telepati Randi.
"A... ayo deh! kita pergi dulu, aku mau kasih lihat kalian sesuatu lho!" kata Randi sambil membawa Vian dan Amanda pergi dari situ.
"Apaan sih? aku ngga tertarik sama yang Pornografi lho ya!" kata Vian.
"Suudzon aja Vian! bukan! pokoknya deh! ayo!" kata Randi membawa pergi Amanda dan Vian.
"Jadi tinggal kamu saja?" tanya Rahmat.
"Thanks Ran!!! " batin Vanora.
"Oh ya? tadi kamu mau makan apa?" tanya Rahmat.
"Ahaha, apa aja deh Mat" kata Vanora.
Setelah selesai makan....
"Makasih makanannya ya Mat" kata Vanora yang senang karena berduaan dengan Rahmat.
"Ya, ng?" Rahmat melihat tangan Vanora.
"Oh ya! Keadaan Vandro gimana-.... " Vanora belum selesai bicara.
"Tanganmu kenapa? apakah dia melukaimu?" tanya Rahmat memegang tangan Vanora untuk memeriksa.
"Ah! tidak kok, aku hanya tergores saat aku membantu dia" kata Vanora.
Rahmat mengambil kotak P3K untuk mengobati luka Vanora.
"I... iya Mat" kata Vanora yang pipinya merona.
"Wah, aku bahkan tidak menyangka akan seperti ini, aku harus berterimakasih banyak kepada Randi nanti " batin Vanora.
Klap! Rahmat selesai mengobati luka Vanora dan mengembalikan kotak P3K sambil berbicara.
"Oh ya, Vandro sedang di kamarnya belum keluar pagi ini, mungkin sedang badmood karena terluka semalam" kata Rahmat.
"Hah!!? terluka gimana maksudnya Mat!?" tanya Vanora.
"Semalam ada sedikit rusuh karena kita kedatangan keluarga Andra, tapi sepupu Andra membuat masalah dan Vandro akhirnya menanganinya, tapi karena merasa seperti di ejek, akhirnya sepupu Andra menendang bahu Vandro yang bekas luka karena Sembilan saat ulang tahun Amanda, dan mengurung Vandro di ruang tamu, aku sempat melihatnya dan segera mengambil kunci duplikat karena kunci papan tombol sandi sedang rusak, tapi ia malah lebih memilih memecahkan kaca daripada menungguku untuk membuka kunci" jelas Rahmat.
"Grrrr" Vanora geram.
"Ada apa?" tanya Rahmat.
"MANA SINI RUMAH ORANG ITU!?" tanya Vanora.
"Tu.. Tunggu, kau mau apa?" tanya Rahmat.
"Tentu saja! membalaskan dendam Vandro padanya!" kata Vanora.
"Tunggu, Vandro lebih memilih untuk membahas tentang cemilan yang kau bawa dan ingin menghabiskannya" kata Rahmat yang mengalihkan perhatian Vanora.
"Hah? serius Rahmat!? Waaah! aku senang mendengarnya! beliau pasti juga akan senang!" kata Vanora yang tanpa sadar memeluk Rahmat.
"A.... anu, tidak baik jika kita seperti ini" kata Rahmat.
"Waahhh! Ma... maaf Rahmat" kata Vanora yang wajahnya sangat merah sambil mengelus bahu Rahmat.
"Waah! dekatnya! "
"Va... Vanora"
"Ma... maafkan aku Rahmat" kata Vanora yang masih merah.
Rahmat hanya menatapnya.
.
.
.
.
"Vandro bahkan tidak mau menatapku!!! Tolong aku Rahmat!!"
.
.
.
.
Rahmat hanya mengingat perkataan Vanora yang terisak-isak yang meminta bantuannya.
"Oh ya, jadi? bagaimana jika kita membuat makanan untuk Vandro? makan malam" kata Rahmat.
"Wah! ide yang bagus Mat!... Waah!" Vanora hampir mengenai Rahmat lagi.
Tuk! Rahmat menahan Vanora dengan kotak P3K.
"To... tolong dulu aku minta jangan melakukan hal seperti tadi" kata Rahmat.
"Aku ini sebenarnya terpeleset Mat" kata Vanora.
"A... Aduh! maaf!" kata Rahmat.
"It's okay Mat, ini mungkin karma yang cocok buatku"