
Amanda sedang ada di rumah Putra, ingin membahas beberapa materi dan tugas yang sudah mereka pelajari sebelumnya.
"Ini, silahkan ada oleh-oleh dari saudara, Amanda" kata Mama Putra.
"Hihi, makasih banyak Mbak Cecil, penampilannya ekstra ya?" tanya Amanda.
"Ah, ngga kok.. ini gayaku setiap hari" kata Mama Putra tersenyum akrab.
"Cih! Gaya setiap hari apaan!? hanya denger Amanda mau datang aja mama penampilannya 2 kali lipat dari biasanya, dasar tebar pesona" batin Putra.
Terkadang, Putra dan Mamanya bisa percakapan batin atau lebih tepatnya telepati.
"Makasih banyak Mbak Cecil, jadi ngerepotin" kata Amanda.
"Ngga kok, ya udah... saya ke dapur dulu" ujar Mama Putra.
"Tunggu, sebenarnya Nda, kenapa manggil mamaku 'Mbak Cecil'?" tanya Putra.
"Ah, karena kejadian beberapa hari yang lalu kok" kata Amanda sambil keringatan.
"Ng? kau ketemu mamaku? kapan? cerita dong!" kata Putra memaksa.
"Baik! baik!" ujar Amanda.
Flashback beberapa hari yang lalu...
"Duh! aku kekurangan paracetamol di jurnal, ku beli dulu di apotek deh" gumam Amanda dan pergi ke apotek.
Sesampainya di apotek...
"Ng? Lho!? Mama Putra!?" tanya Amanda.
Mama Putra berbalik.
"Eh? Temannya Alfian ya?" tanya Mama Putra yang langsung blushing melihat Amanda.
Amanda langsung mengambil tangan Mama Putra dan menyalami nya, tak heran banyak orang berbisik melihat kedua perempuan cantik disitu.
"I... Inilah alasan aku melarang Alfian menyalami ku di depan umum" batin Mama Putra.
"Darimana Tan-... " belum selesai Amanda bicara, Mama Putra langsung menutup mulut Amanda dengan tangannya.
"Ini permintaanku seumur hidup, tolong panggil aku Mbak Cecil!" bisik Mama Putra yang anti di panggil Tante.
"Mmmh"
( Baik )
"Ngomong-ngomong, kamu ngapain kesini?" tanya Mama Putra.
"Eh? saya mau membeli paracetamol buat nulis di jurnal" kata Amanda.
"Oh gitu ya, Em.. kalau ngga salah namanya Amanda, Amanda ya?" tanya Mama Putra yang dari tadi menatap Amanda dengan pipi yang merona.
"Eh? iya Mbak" kata Amanda agak penasaran dan heran kenapa Mama Putra menatapnya dengan pipi merona.
"Kalau gitu, kapan mau mampir ke rumah?!" tanya Mama Putra antusias.
"Eh? kayaknya minggu nanti deh Tan, Eh! Mbak" kata Amanda.
"Yakin?!"
"I.. Insya Allah, soalnya mau bahas pelajaran juga" kata Amanda.
"Ya udah, di tunggu ya... makasih!" ujar Mama Putra dan pergi.
Flashback Off....
"Gitu deh Put" ujar Amanda.
"Pantesan" gumam Putra.
"Eh! Putra! ingat gak? pelajaran bermain peran sebagai Apoteker, Tenaga Teknik Kefarmasian, juga pasien pada saat insidental?" tanya Amanda.
"Oh iya"
"Kau masih punya DVD nya? mungkin itu yang paling kita perlu pelajari deh" ujar Amanda.
"Ada, punya banyak... kita ke ruangan seni saja ya, sayangnya kita tidak dapat bermain dengan Benny dia sedang tidur, kalau tidur pulas sekali, bahkan saat aku menyalakan volume suara TV ke tingkat paling tinggi dia sama sekali ngga bangun" Jelas Putra.
"Em, baiklah"
Di Ruang Seni....
"Wah, emangnya ngga apa kalau nyalain AC Put?" tanya Amanda melihat Putra menyalakan AC.
"Tak apa, baiklah... sudah ku putar menjadi layar proyektor, mulai dari... saat kita menjadi TTK aja ya" kata Putra.
"Ah, yang aku ngomong English itu ya?" tanya Amanda.
"Ya,... kalau ngga salah yang jadi sutradaranya Kak Adin, untuk yang menjadi pasien insidental kak Imran kan?" tanya Amanda.
"Benar, kita nonton sekarang"