The Unifying Butterfly

The Unifying Butterfly
Chapter 30 : Pilihan



"Bukankah kau Partnerku di Rosement? " tanya Vian.


"Memangnya kenapa? " tanya Amanda.


"Sama denganmu, aku juga punya tujuan yang ingin kudapatkan di Rosement, jadi aku akan berusaha untuk mendapatkannya" ucap Vian.


"Jadi, kau mau kembali maupun tidak itu bukanlah urusanku, tapi mungkin insiden di Rosement itu membuatmu putus asa atas impian apa yang ingin kau dapatkan di Rosement, aku minta maaf jika itu membuatmu putus harapan, jadi kau mau kembali atau tidak pikirkan baik-baik, ingatlah! karena kesempatan itu,..... tidak selalu datang dua kali" ucap Vian dengan berlalu pergi.


"Jika menghancurkan impian dan tekad baik seseorang, orang yang menghancurkan tekadnya itu sama saja seperti pembunuh!! " ucapan Amanda dalam recording yang didengarkan Vian itu masih tertanam sangat dalam di Pikiran Vian.


"Ingatlah! karena kesempatan itu,.... tidak selalu datang dua kali" ucapan Vian masih terpikirkan oleh Amanda.


"Pergi, atau kembali? " batin Amanda dengan gelisah.


"Mari kita bertemu,... disana" ucapan Presdir itupun masih saja terbayang dipikiran Amanda.


"Aduh, sepertinya Alat bantu tulangnya agak,... rusak? susah nih, kalau gini" gumam Amanda.


Di Ruang Privat AR group,...


"Sudah selesai Pak! " ujar Riri setelah menandatangani surat tutup mulut.


"Terimakasih ya Riri" Kata Vandro.


"Apapun untuk anda pak GM" kata Riri sambil tersenyum.


"Baik, kamu silahkan pergi" kata Vandro.


"Ya, permisi Pak" kata Riri sambil menutup pintu.


Blam! klek! Vandro mengunci pintu kembali dari dalam.


"Lalu? bagaimana dengan diriku? apakah aku juga perlu menandatangani surat tutup mulut juga? " tanya Ali yang duduk dengan melipat tangan di dada.


"Tidak perlu, yang penting aku ingin bertanya, kenapa kau menolong Amanda? " tanya Vandro.


"Lho? emangnya ngga boleh? dia juga nantangin aku tadi, berani juga dia" ucap Ali dengan tersenyum tipis.


"Apa!? lalu kau menerimanya begitu saja!? " tanya Vandro dengan kaget.


"Jujur saja sih Dro, Amanda itu anaknya menurutku sangat pintar, mudah membuat strategi, kuat, sangat menjaga kemuliannya, semangat, tapi hatinya lemah seperti... mudah sakit jika mengingat hal yang menyakitkan atau kenangan pahit yang ada dipikirannya semacam itulah. Tapi ia mampu menyembunyikan rasa sakit dihatinya itu dari orang lain, dan dari orang terdekatnya, menurutmu bagaimana tebakan ku? dan bagaimana Amanda itu menurutmu? " tanya Ali dengan tersenyum.


"Menurutku, dia itu adalah beban bagiku" Vandro masih saja mengingat perkataannya.


Sementara itu Amanda,....


"Kak Riri! maaf kak, boleh pinjam hpnya ngga? Hpku rusak" tanya Amanda.


"Wah, Rusak!? boleh pinjem kok! " kata Riri sambil tersenyum.


Tut! Tut! Tut!


"Halo? " tanya Pak Dono.


"Halo, Tante Diana ini Amanda, iya nanti saat setelah isya saya berkunjung" kata Amanda.


Tit!


Ceklek! Blam!


Vandro masuk ke ruang OG dan melihat Amanda tertidur duduk di kursi dengan kepala diatas meja, Vandro duduk disamping Amanda.


Vandro kembali memikirkan percakapannya dengan Ali.


"dan bagaimana Amanda menurutmu? " tanya Ali.


"Menurutku , dia itu adalah beban bagiku" batin Vandro.


"Melindungi Putri Raja memang rasanya seperti gugup, sepertinya aku harus dapat diandalkan Andra" batin Vandro saat melihat Amanda tidur pulas.


"Amanda,.... Amanda,... bangun" ucap Vandro dengan pelan.


"hm? WAAA! TELAT! Pak Vandro juga belum datang!!" Seru Amanda dengan panik dan menuju pintu keluar.


"Tunggu! kamu mau kemana? " tanya Vandro sambil menghalangi Amanda dengan tangannya.


"Lho? Pak Vandro? sejak kapan? saya mau kerumah teman orangtua saya Pak! " kata Amanda dengan berlari melewati Vandro.


"Sini saya Antar-,... " belum selesai Vandro bicara.


"Tidak usah Pak! " kata Amanda dengan lanjut berlari.


"Sepertinya aku harus melakukan, 'itu' kayaknya " kata Vandro dengan berjalan.