The Unifying Butterfly

The Unifying Butterfly
Season 3 Chapter 30 : Rencana yang berantakan



"Apa!? aku ngga tahu tempat!?" tanya Wildan.


"Karena anda rencana ku menjadi berantakan!" ujar Amanda.


KRING! KRING! Ponsel Wildan berbunyi.


📞"Halo Wildan... kamu dimana? mau makan malam bareng ngga nanti?" tanya Vian.


"Vian! aku dapat OG yang motret fotomu ini!" ujar Wildan.


"Mas Vian! Apakah Pak Wildan ini bisa di percaya? agar saya bisa menjelaskan semuanya, agar dia tidak salah paham atas perbuatannya" ujar Amanda mengarah ke Ponsel Wildan.


"Apa!? ngga usah ikut-ikutan!" kata Wildan.


"Wildan... " batin Vian.


Akhirnya Wildan membawa Amanda ke ruangan Vian dengan kondisi yang lengannya Amanda masih dia pegang.


"Ini OG yang motret kamu sembarangan!" ujar Wildan.


Vian masih terdiam.


"Kau benar-benar ya, OG baru tidak tahu diri! motret orang sembarangan" kata Wildan.


"Aku harap anda menjaga perkataan anda dan tidak terlalu lama mencengkram lengan saya, jika tidak saya akan melakukan sesuatu yang membuat anda tidak mengulangi hal ini pada saya" kata Amanda yang mengedipkan sekali matanya dan matanya langsung berubah menjadi warna merah karena Silent.


"Terserah! aku tidak takut padamu!" Ucap Wildan.


Amanda akan melakukan kekerasan pada Wildan karena dia sudah sangat keterlaluan, Tapi....


"Wildan dengar, kau jangan banyak mengejek ataupun mengatai dia tidak tahu diri" ujar Vian.


"Aku harus bisa mengalihkan perhatian, bisa gawat jika Silent Amanda berubah sepenuhnya menjadi merah pekat maka dia belum tentu akan bisa mengontrol kemarahan dirinya seperti saat Andra marah waktu itu" batin Vian.


Amanda langsung sekuat tenaga melepaskan cengkeraman Wildan dengan menekan tangan Wildan dengan kukunya yang tajam.


"Akh! apa-apaan kau!?" tanya Wildan.


Amanda mendatangi Vian dan berbicara, Vian hanya mengangguk.


"Wildan, sebelumnya aku ingin bilang... kalau OG ini sedang membantuku" kata Vian, sedangkan Amanda berdiri di samping Vian sambil menatap Wildan dan matanya Amanda perlahan-lahan membiru kembali.


"Eh!?" Wildan tidak mengerti.


"Sebelumnya... apakah Pak Wildan tahu apa ini?" tanya Amanda sambil melepaskan bros nya.


"Eh?? Bros?" tanya Wildan.


"Bukan... Ini Kamera yang di samarkan menjadi Bros, saya sedang membantu Mas Vian untuk menemukan siapa yang memotret nya" Jelas Amanda.


Wildan mengingat kembali perkataan Amanda.


"Apa!? Saya tidak tahu tempat!? gara-gara anda, rencana saya jadi berantakan! dan artinya sudah jelas! yang tidak tahu tempat adalah anda!"


"Ja.... Jadi! aku yang salah!?" kata Wildan.


"Tapi Vian! kenapa kau percaya begitu saja pada OG ini!?" tanya Wildan.


"Terserah apa kata kalian! aku hanya bisa percaya padanya! dia satu-satunya yang bisa ku percaya mulai dari hari ini sampai seterusnya! Dan aku percaya padanya! meski dia tidak percaya padaku!" Amanda teringat kalau Erlan pernah berkata begitu.


"Jadi.... kau tidak percaya padaku? aku bahkan bisa melakukannya kan?" tanya Wildan.


"Aku tahu... tapi pekerjaanmu sebagai wakil ku akan mengganggu dan belum terlalu berjalan mulus, sedangkan OG ini... dia bisa kapan saja mengawasi, aku juga tidak ingin kau dalam masalah Wildan" ucap Vian.


"Ta.... Tapi" Wildan masih belum percaya.


"Pak Wildan, saya tahu anda belum sepenuhnya percaya akan hal ini... tapi meski begitu, saya memang melakukan ini dengan tulus karena ingin menolong Mas Vian kok, ngga mengharapkan apapun, jika Bapak tetap mencurigai saya, anda bisa mengawasi saya dan melaporkan yang mencurigakan, lagipula hal ini dilakukan karena memang saya ingin membantu kok" Jelas Amanda sambil menatap Formal.


"Ah... aku, minta... minta maaf Vian, dan A... Amanda" ujar Wildan.


"Iya" Kata Amanda tersenyum.


"Ini pertama kalinya Pak Wildan menyebut namaku" batin Amanda.


****


"Gitu deh ceritanya kak Andra" kata Amanda yang menceritakan sekian kejadian di atas pada Andra.


"Oh.... jadi begitu" kata Andra sambil meminum tehnya.


"Em... Kak Andra, apakah Pak Wildan akan baik-baik saja?" tanya Amanda.


"Ng? maksudnya?" tanya Andra ngga mengerti.


"Ya... gitu deh, perlakuan Pak Wildan padaku.... Apakah kak Andra berpikir mungkin akan menghukum beliau? jadi, sepantasnya akan lebih baik semisal kalau kak Andra ingin turun tangan atas masalah ini lebih baik di selesaikan dengan cara baik" Jelas Amanda.


"Ya,... sudah seharusnya kakak bertindak Rasional juga dengan bijak, memang benar katamu Ana, kakak memang sudah memutuskan jika masalah ini tidak diungkit dan tidak di perbesar, maka kakak tidak akan turun tangan, tapi jika memang masalah ini agak mulai tumbuh, maka kakak akan otomatis melakukan itu dengan sistem hukum yang sudah di wajar kan maka habislah semua" Jelas Andra sambil tersenyum formal dengan meminum kembali Tehnya.


"Wah! kakak memang hebat ya! emang kak Andra top buat jadi Raja yang pantas di banggain lho! aku salut!" kata Amanda dengan terkesima.


"Hmf, biasa saja" ujar Andra.


"Kalau gitu,... gimana latihannya?" tanya Amanda.


"Mau kapan lagi? kalau perlu kita akan latihan ketangkasan jika tanganmu sudah pulih" ujar Andra.


"Sebentar lagi kok kak! hehe, Oh ya kak Andra... sebenarnya, aku... " Amanda memotong kata-katanya.


"Ng? Sebenarnya apa?" tanya Andra sambil membolak-balikan buku yang dia baca.


"Anu... beberapa hari yang lalu aku sedang berinteraksi dengan Ryu" kata Amanda.


Tap, Andra memberhentikan tangannya yang membolak-balikkan buku.


"Waduh! gawat, aku malah gali kuburan sendiri, dasar... " batin Amanda.


"Begitu ya? kakak harap kamu bisa menanganinya dengan baik, karena kamu adalah perempuan kedua terkuat yang paling kakak sayangi" Ucap Andra sambil tersenyum bangga sambil mengelus kepala adiknya itu.


"Oh ya? siapa yang pertama?" tanya Amanda penasaran dengan wajah imut.


"Hehe.... siapa ya?"