
"Ya Halo? aku mengerti, Erlan. Tetap di Posisimu, jika dia berguna maka dia bisa kerja sama untuk menganalisis organisasi itu, ya ok, sudah dulu, aku ada kerjaan, ya Assalamu'alaikum" kata Andra mematikan ponselnya.
"Maaf, ada apa Tuan?" tanya Radith.
"Identitas Vian ketahuan lagi" kata Andra.
"Ba-... bagaimana bisa Tuan!?" tanya Radith.
"Kita bersyukur kalau yang tahu identitasnya adalah orang yang dapat di ajak kerja sama, sekarang kita akan ke rumah Wanita itu lagi" kata Andra.
"Tentu.... Tuan" kata Radith.
Sesampainya di rumah itu...
Andra mendatangi Wanita itu.
"Apa mau mu!?" tanya Wanita itu.
Grep! Andra memeluk Wanita itu.
"Maafkan aku ibu, aku hanya ingin bermain, maaf karena aku sudah jadi anak yang nakal" kata Andra.
..._________...
"Tidak bisa di percaya! kakakku bahkan mau membiarkan Tuan Raja memegang bonekanya! mereka sedang apa ya?" tanya Adik Wanita itu.
"Beberapa hari yang lalu... Tuan mendapat informasi dari Sembilan" batin Radith.
.
.
.
.
Beberapa hari yang lalu....
"Mas... aku sudah mendapatkan beberapa Informasi yang berguna, saya akan mencari orang yang bersangkutan dengan hilangnya memori anda, ya. Bagas Abifandya, saya sudah menginterogasi beberapa orang termasuk sepupu Anda Pangeran Rafanza" kata Sembilan lewat telepon.
"Begitukah? Ngomong-ngomong Sembilan, bagaimana caranya menginterogasi Rafa?" tanya Andra.
"Ya, saya hipnotis pakai boneka Mas" kata Sembilan.
"Ya, kau membius dirinya dan mengikat tangan serta kakinya lalu memaksanya mengingatnya bukan? jangan bertanya kenapa aku bisa tahu, dia sendiri yang menelpon ku" kata Andra.
"Tikus tidak akan bisa di tangkap jika tidak di jebak atau dalam pemaksaan, Mas" kata Sembilan.
"Ada dua Mas, kelompok yang pertama hanyalah perampok kelas Teri yang ingin menculik Bagas Abifandya untuk di jadikan tahanan dan mendapatkan tebusan, sedangkan kelompok satunya bukan kelompok main-main, sekarang saya sedang menyelidikinya" kata Sembilan lagi.
"Pastikan Bagas Abifandya tidak jatuh ke tangan mereka, bagaimanapun caranya" kata Andra.
"Baik Mas, aku ngerti" kata Sembilan menutup Telepon.
Flashback Off,
Di ruang tamu...
"Setelah kami periksa, kakak Anda terkena gangguan kejiwaan yang berat, hingga ia turun menjadi tahapan kekanak-kanakan" kata Andra.
"Bukankah sudah saya beritahu dan jelaskan kepada Anda berdua?" tanya adik wanita itu yang bisa di sebut namanya Risti.
"Bu Risti, setelah beberapa hari yang lalu saya mengambil beberapa helai rambut, dan menyerahkannya ke laboratorium untuk di periksa, itu terbukti positif rambut manusia, jadi terbukti kalau kakak anda bersalah tapi karena gangguan kejiwaan saya masih sedikit memaklumi nya" kata Andra.
"Terimakasih, saya sungguh meminta maaf akan yang saya sembarangan meletakkan anak itu di panti asuhan, tolong maafkan almarhumah ibu saya juga" kata Risti.
"Ya, tapi jika anda mengulangi kesalahan yang sama, maka saya pastikan akan tidak terjadi kejadian yang sama atau saya akan membuat Anda dan kakak anda untuk tidak melakukan hal itu lagi entah dengan kekerasan atau kehilangan nyawa, saya juga tidak akan membiarkan kakak anda menghantui saya ataupun adik saya lagi" kata Andra dengan sangat dingin.
Deg!
Setelah bicara....
"Ini, tolong di ambil, di dalam rekening ATM bank ini terdapat saldo berjumlah 75 juta untuk sebagai ganti atas terbuangnya waktu dan kesalahan yang membuat bu Risti dan keluarga tidak nyaman" kata Radith.
"Apa!? 75 juta!? apakah tidak terlalu banyak!? terimakasih sekali, beliau seorang raja, dan dia masih sangat muda, saya sungguh berterimakasih atas kebaikan yang di berikan beliau" kata Risti.
"Tuan juga meminta agar anda merahasiakan kedatangan kami dan tuan juga meminta agar anda tidak mengulangi kejadian yang sama" kata Radith.
"Ya, beliau sangat baik, bahkan bijaksana serta selalu tenang" kata Risti.
"Begitukah? tapi aku selalu melihat kalau Tuan hanya tidak ingin kehilangan dirinya" ucap Radith.
Sementara itu Di Rosement pada malam hari...
Kamar No. 10...
"Ng..... "
"Gunting ah! ngga! bajunya jelek! buang aja! huh! rambutnya jelek! potong saja!"
"Ng.... Jangan! jangan! Hah! Hah! Hah! apa tadi!? kenapa... hiks! hiks! mimpi itu lagi!" kata Amanda sambil menangis.
"Ibu.... tolong aku! kenapa ibu pergi duluan!?"