
Amanda terdiam di kamarnya.
"Apa yang terjadi di dunia ini? kenapa? aku ingin punya keluarga lengkap... tapi Kedua Orang tua kandung ku telah tiada, sekarang masalah lagi! apakah aku tidak boleh hidup senang?" batin Amanda.
"Yah... cara mengalahkan Pascal ya?" gumam Amanda.
Di Kamar No 8...
Vian sedang diam sambil memikirkan beberapa kejadian yang telah lewat.
Flashback...
"Ng? kau Rangga si Genderuwo kan?" tanya Vian.
"Ck! masih saja manggil genderuwo! terserah! aku ingin memberikan ini" kata Rangga dalam wujud astral, Vian dapat melihatnya dengan Turquoise.
"Ng? apa ini?" tanya Vian.
"Ini Batu mustika delima merah, kau.... maksudnya Tuan Putri tadi, kau itu Erlan kan? teman Raja tadi? tapi namamu di klan adalah Kitagawa Mizuki" kata Rangga.
"Ng? lalu buat apa?" tanya Vian.
"Begini-begini, sejujurnya aku tadi memperhatikanmu, yang khawatir pada gadis itu, jadi aku ingin kau menduakan jiwa mu, yang satunya kau bisa menyimpannya tetap di dalam raga mu, satunya lagi di batu ini" kata Rangga.
"Tapi apa untungnya?" tanya Vian.
"Kan udah bilang, agar jiwamu yang sebenarnya sebagai Mizuki, maksudnya Erlan itu tetap bersamanya, agar bisa mengawasinya sebagai penjaga, aku sudah mendengar semua kisah bagaimana kau bisa seperti ini dan wajahmu terubah" kata Rangga lagi.
Vian terdiam.
"Bagaimana? apakah kau ingin dia dalam bahaya?" tanya Rangga.
"Tapi aku masih tidak yakin bisa memberitahu dia! lagipula belum tentu Andra setuju!" kata Vian.
"Aku sudah bilang pada Raja tadi, dia bilang terserah pilihanmu apa" kata Rangga.
"Untuk mengaktifkannya... kau hanya perlu fokus dan seperti kau menduakan jiwa mu, dan terus begitu sambil mengisinya ke dalam batu mustika delima merah dan ucapkan jurus pembangkitnya" Jelas Rangga.
Flashback Off....
GREP!
Vian menggenggam dengan kuat batu mustika delima merah yang di tangannya.
"Sudah ku putuskan!"
"Ninjutsu tenma tensei!"
Vian akhirnya menduakan jiwanya dan pingsan karena tenaganya berkurang drastis dari biasanya.
"Ng? Aura ini? si bodoh itu! seharusnya manggil aku dulu!" batin Rangga dan langsung pergi ke tempat Vian.
Di Kamar No 8...
"Hei! bangun! lama amat pingsannya 10 menit! Hei! bangun!" ujar Rangga.
"Ng? Rangga?"
"Bagaimana? sudah? seharusnya manggil aku dulu!" kata Rangga.
"Terlanjur sih,... tapi mau gimana lagi?" kata Vian.
"Ya, lalu? bagaimana? apakah sudah?" tanya Vian.
"Mm, lihatlah... batu itu bersinar, karena jiwamu sudah ada disitu, sekarang untuk mengaktifkannya, alirkan sedikit saja energi Turquoise mu" kata Rangga.
Vian melakukan yang dikatakan Rangga.
"Hai? bagaimana?" tanya jiwa Erlan.
"Yah, rasanya aneh bicara pada diri sendiri, tapi aku harap kita bisa bekerja sama, aku akan terus pinjam penglihatan mu dan meletakkan nya di mata kiri ku" kata Vian.
"Ya, memang aneh sekali... tapi tak apa, aku berjanji akan menjaga Amanda" kata Jiwa Erlan.
"Ni orang perlu narsis apa ya?" batin Rangga yang dirinya menjadi nyamuk.
"Oh ya, sebaiknya... kau berikan langsung itu kepadanya, dan ceritakan seperlunya pada gadis itu" kata Rangga.
"Ya, makasih, Ngga" kata Vian.
"Baiklah, Erlan" kata Rangga.
"Ya?" tanya Vian dan Jiwa Erlan.
"Duh, susah ya? manggil kalian berdua, karena kalian satu jiwa yang di duakan" kata Rangga.
"Eh?"
"Baiklah, kalian berdua ada yang ingin di tanyakan sebelum aku mau jaga wilayah ku lagi?" tanya Rangga.
"Emang dimana wilayah mu?" tanya Vian.
"Ya Apartemen ini"
"Kau ngomong kayak mau pergi jauh aja!"
"Sebenarnya aku mau bilang.... "