The Unifying Butterfly

The Unifying Butterfly
Chapter 31 : Percakapan (1)



"Akhirnya selesai membeli buah tangan dari minimarket, aku harus cepat ke terminal!" kata Amanda dengan bergegas.


Sesampainya di Terminal,....


"Duh! semoga aja busnya ngga ramai!" kata Amanda


Duk! ada seseorang yang keluar dari antrian dan tidak sengaja menyenggol Amanda, alat bantu tulang lututnya pecah karena terbuat dari besi, Amanda hampir jatuh.


"Waaah!" kaget Amanda.


Tap!


"Lho? ngga jatuh?" tanya Amanda yang menyadari kalau ada orang yang mencegahnya jatuh dari belakang.


"Terimakasih sudah membantu,...Lho!?" Amanda kaget melihat orang yang membantunya adalah orang yang sangat ia kenal.


"Sama-sama, Amanda" kata orang yang tak lain adalah Vandro.


"Hah!? Pak Vandro ngapain kesini?" tanya Amanda.


"Saya mengikutimu, ayo kita menepi" kata Vandro.


Akhirnya Amanda dan Vandro pergi menepi.


"Jadi, kenapa pak Vandro mengikuti saya?" tanya Amanda.


"Kamu tidak jujur ke saya, sebenarnya kamu mau kemana?" tanya Vandro.


"Ini,... bukan urusan Pak Vandro" jawab Amanda.


Hah,... Vandro menghembuskan nafas perlahan.


"Saya punya Amanah menjaga kamu, jadi bisa tolong beritahu? kemana kamu mau pergi?" tanya Vandro.


"Ng, saya mau kerumah Bu Dinda, sahabat lama ibu, saya ingin berkunjung karena ingin membicarakan sesuatu" Jelas Amanda.


"Kalau begitu mari saya antar, ini.... pecahan apa!?" tanya Vandro dengan heran melihat serpihan besi menempel di celana Amanda.


"Eh!? Oh, itu... sebenarnya..." belum selesai Amanda menjelaskan.


"Kenapa bisa alat bantu tulang lutut ini, bisa rusak parah begini Amanda?" tanya Vandro yang menyisingkan celana Amanda yang kakinya dilapisi dengan kaos kaki panjang.


"Itu,... karena terjatuh dari tangga saat mengejar suruhan Pak Yudha" jelas Amanda.


"Kalau begitu mau bagaimana lagi, saya akan ikut kamu" kata Vandro.


"Eh!? tidak usah pak!" tolak Amanda.


"Bagaimana dengan kakimu? kalau kambuh dan tiba-tiba saja alat bantu itu langsung rusak dan kamu tidak bisa jalan lagi? bagaimana?" tanya Vandro.


Mendengar pertanyaan dan penjelasan Vandro, Amanda sudah tidak bisa berkata-kata lagi.


"Baiklah Pak, tapi saya mau pakai kendaraan umum saja tidak apa-apa kan, Pak?" tanya Amanda.


"Baiklah tidak apa, ayo kita mengantri, sekitar 7 menit lagi Busnya datang" kata Vandro sambil melihat Arlojinya.


"Kamu sudah makan? kalau belum, ayo kita makan dulu" kata Vandro.


"Sudah tadi Pak, Pak Vandro sudah makan? " tanya Amanda.


"Yah begitulah tadi sudah saya sudah makan bekal" kata Vandro.


Akhirnya Bus yang ditunggu Amanda dan Vandro datang.


Semua Perempuan yang naik naksir kepada Pak Vandro, sementara Amanda hanya heran saja melihat mereka.


Amanda duduk di kursi dengan gelisah seperti tidak nyaman, sementara Vandro yang berdiri sambil memegang pegangan Bus.


"Apa ini? aku sama sekali tidak suka Pak Vandro ikut" batin Amanda.


"Amanda itu, adalah beban untukku"


"Kalimat itu masih saja terngiang-ngiang di kepalaku" batinnya lagi.


"Ini rumahnya Amanda?" tanya Vandro.


"Benar Pak" ucap Amanda.


"Amanda! sudah datang kamu nak? Dinda bilang, kamu ada yang ingin dibicarakan" kata Pak Dono.


"Iya Om Dono, ini saya bawa buah tangan sekalian" ucap Amanda dengan tersenyum.


"Wah, nda usah repot-repot" kata Pak Dono yang langsung mengarahkan pandangannya ke Vandro.


"Selamat Malam, senang bertemu dengan Anda" jawab Vandro dengna karismatiknya.


"Wah!? Pacarnya Amanda!?" tanya Pak Dono dengan kaget.


"Bukan Om" kata Amanda.


Tiba-tiba,....


Brak! suara Pintu dibuka paksa.


"Hah!? Apa ada yang bilang,... Pacar!?" Seru Bu Dinda dengan kaget.


"Bukan Mah, ayo masuk dulu" ajak Pak Dono.


Setelah masuk kerumah, sama sekali tidak ada yang berubah.


"Jadi, bagaimana Pekerjaanmu sebagai Penulis Amanda? lancar? kamu jadi karyawan juga ya sekarang?" tanya Bu Dinda dengan ramah.


"Alhamdulillah tante, Sebagai Penulis masih saya jalankan, sekarang jadi karyawan untuk tambah-tambah penghasilan" Jelas Amanda.


"Ya, Om juga kaget tahu-tahunya kamu bisa nge renovasi rumah mendiang ibu Angkat kamu jadi sebesar itu, ternyata dari uang sebagai penulis rupanya, haha" kata Pak Dono.


"Tapi, untuk kamu! saya tidak tahu apa mau kamu, tapi Amanda itu bukan anak yang suka Pacaran ya! malah nolak yang nembak!" kata Bu Dinda kepada Vandro.


"Saya teman kantor Amanda, hanya ingin menemani saja karena sudah malam" Jelas Vandro dengan karismatik.


"Wah, emang jaman sekarang masih ada ya laki-laki kayak gitu ya, Mah?" tanya Pak Dono.


"Kirain doang Pah, karena Amanda dulu kan ngga banyak teman, paling sering atau selalu dia main terus sama Erlan" kata Bu Dinda.


"Erlan? jadi dia dulu temanku ya?" batin Amanda.


"Erlan? teman Amanda? bukan Erlan yang di Rosement kan?" batin Vandro.


"Jadi, apa yang ingin kamu bicarakan Amanda? " tanya Bu Dinda.


"Eh, em.... itu anu sebenarnya.... " Amanda memberhentikan kata-katanya karena sedikit melirik Vandro.


"Saya akan tunggu diluar saja ya" kata Vandro dengan tersenyum formal.


"Aduh, kok tamu disuruh tunggu diluar?" kata Bu Dinda.


"Tak apa Bu, saya hanya mengantar" kata Vandro sambil membuka pintu.


"Baik, nanti kalau sudah selesai saya akan panggil suami saya kalau sudah selesai" jawab Bu Dinda.


" Tentu Bu" kata Vandro sambil keluar dan menutup kembali Pintu.


Blam!


"Jadi, apa yang ingin kamu bicarakan Amanda? " tanya Bu Dinda.


"Disini kedengaran jelas" batin Vandro.


"Tante, tolong beritahu yang sebenarnya yang Tante tahu" pinta Amanda.


"Tentang apa?" tanya Bu Dinda.


"Karena tante sahabat dekat ibuku, aku ingin menanyakan dan ingin dengar jawaban semua yang tante tahu tentang ibu, dan juga.... tentang Adopsi ku" Jelas Amanda.