
"Hah!? kenapa?" tanya Vandro.
"Sudahlah Ian, jangan Overeacting, saya kan hanya ingin mencari yang sedang dibutuhkan" kata Penghuni kamar No. 9.
"Overeacting katamu, orang tatapan kosong!?" tanya Vian.
"Tenanglah Vian, sebenarnya apa yang terjadi Vian?" tanya Vandro.
Sebelumnya dikamar Vian....
Begini, aku sedang mengambil berang-barang yang ku butuhkan, dan aku sadar kalau aku belum menutup kamar ku, Tiba-tiba....
"Hah!? sedang apa kau di kamar ku!?" tanya Vian dengan kaget.
"Saya sedang mencari Flashdisk ini, Ian" kata Penghuni kamar No.9
Brak! barang yang dibawa Vian jatuh karena syok melihat kamarnya.
"Ka.... Kamar ku!!!!" Seru Vian.
Flashback Off...
"Gitu ceritanya!! nyebelin kan?" tanya Vian.
"Sudahlah! kau sudah merusak gerbang! Membuat kamar Vian berantakan! dan kau juga hampir membuat dirimu celaka! Toni bahkan semalam hampir menyerang mu! Dan kau bahkan hampir melukai anggota baru kita!" kata Vandro sambil mengarahkan tangannya ke Amanda.
"Oh! Anggota nomor 10! saya sudah mendengarnya dari mas Andra" kata Penghuni kamar no.9 sambil mendekati Amanda.
9\=.......
"Hai! perkenalkan! Panggil saja Sembilan" kata Orang yang dipanggil sembilan.
Hening beberapa saat.....
"Oh, salam kenal! namaku Amanda! jadi panggil saja Sembilan bukan nama?" tanya Amanda dengan berbinar tapi senang dan tanpa sadar itu menunjukkan wajah imutnya.
"I.... imut yang sesungguhnya!!!!" kata Sembilan.
"Ka... kamu imut sekali! saya ingin punya anak sepertimu! bo... boleh peluk?" tanya Sembilan tanpa sadar menunjukkan wajah anehnya.
"Ngga boleh! kamu kira boneka?" tanya Vandro sambil menyingkirkan Amanda dari Sembilan.
"Maaf deh" kata Sembilan.
"Kalau begitu salaman, jangan sentuhan bukan Mahrom kata Amanda ntar" kata Vian dengan agak cemberut.
"Ya" kata Amanda.
Akhirnya mereka salaman tanpa sentuhan.
"Hm melihat dari aura mu, sepertinya jika saya berada di dekat mu, hal-hal seperti keberuntungan yang besar akan terjadi pada saya, ini hal yang hanya kebetulan saja atau bagaimana?" tanya Sembilan.
"Hm? maksudnya gimana?" tanya Amanda agak bingung.
"Tatapannya benar-benar kosong" batin Amanda.
"Senyummu manis ya" kata Sembilan.
"eh, makasih" kata Amanda.
"Oh ya ngomong-ngomong tadi malam ada acara ulang tahun Manda, saya ngga di undang nih! ada yang kangen ngga?" tanya Sembilan.
"Eh? Manda?" tanya Amanda.
"Mana ada yang kangen kamu Bambank!" kata Vian.
"Andlo, kamu kangen saya?" tanya Sembilan.
"Hari ini kamu ketemu Pak Andi ok?" kata Vandro.
"Syukur dihukum Pak Andi!!!" kata Vian.
Malam Harinya.....
Tok! Tok! Tok! Suara ketukan Pintu di kamar Sembilan.
Ceklek!
"Ya? Oh Andlo" kata Sembilan setelah membuka Pintu.
"Maaf aku berkunjung malam-malam Sembilan, ada yang ingin ku bicarakan padamu" kata Vandro sambil menutup pintu.
"Hm ya, silahkan duduk" kata Sembilan sambil duduk di meja tamu kamarnya dan lanjut membaca dokumen laporan.
"Ya, lalu apa yang ingin Andlo tanyakan?" tanya Sembilan.
"Kau juga mengatakan hal itu pada Amanda tadi siang" kata Vandro.
Flashback On....
"Hm, melihat dari aura mu, sepertinya jika saya berada di dekatmu, hal-hal seperti keberuntungan yang besar akan terjadi pada saya, ini hal yang hanya kebetulan saja atau bagaimana?"
Flashback Off....
"Apakah itu artinya kau tahu, siapa jati diri Amanda yang sebenarnya?" tanya Vandro.
Sembilan hanya menatap Vandro sebentar dan menatap kembali Laporannya.
Bret!
"Aduh! robek" kata Sembilan yang melihat laporannya.
"Dia tidak menolak, itu artinya.... " batin Vandro.
"Sembilan, jawab aku! apa sebenarnya yang Andra butuhkan darimu!?" tanya Vandro.
"Jika kamu bertanya padaku, itu artinya kau ingin tahu apa yang Mas Andra tidak beritahukan" kata Sembilan.
"Tapi jika kamu memang bawahan yang setia dan patuh, jadi kau tinggal diam dan duduk manis saja, mengikuti perintahnya dan menunggu apa yang Mas Andra janjikan" kata Sembilan.
Keheningan berlangsung sementara, Vandro menatap Sembilan dan sebaliknya.
"Menjadi bawahan yang setia dan patuh, bukan berarti harus diam saat ada yang mencurigakan" kata Vandro.
"Hm baiklah, jika itu jawabanmu Andlo.... Tugas saya tidak bisa saya beritahu tanpa izin dari Mas Andra" kata Sembilan.
"Oh ya, dan jika kau ingin tahu yang sebenarnya, bertanyalah pada orang-orang yang tepat, dan temukan benang merah yang sebenarnya Andlo" kata Sembilan.
"Hal-hal yang saya ketahui setelahnya adalah hasil dari keingintahuan saja" kata Sembilan.
Blam!
Sementara itu Nera dan Toni....
Hup! Toni melompat masuk ke beranda wilayah halaman ruang perempuan.
"Jadi, bagaimana?" tanya Nera.
"Ada beberapa kerusuhan, dan beberapa nya di titik wilayah, dan diluar wilayah" kata Toni.
"Begitu" kata Nera.
"Mereka juga bertanya, sampai kapan kau akan dirantai ditempat seperti ini?" tanya Toni.
"Hah? Di Rantai?" tanya Nera sambil tersenyum tipis.
"Hahaha, jangan membuatku tertawa! dirantai kata mereka?" tanya Nera.
"Lagipula disini tempatnya asik, Fasilitas ada, tempat hiburan dan semacamnya ada, aku lumayan puas berada disini, kau juga? bagaimana? senang kan? enak kan? enak kan?" tanya Nera dengan tersenyum akrab.
"Nera, aku tahu kau adalah orang yang serius, tapi juga orang yang dapat berteman dan membuat akrab, tapi jangan membuat dirimu teralihkan oleh mereka, ingat tujuan-" Belum sempat Toni menjelaskan.
BUAK!! Nera meninju tembok di belakang Toni dan membuat Toni sedikit terkejut tapi kembali dengan reaksi serius.
"Aku selalu serius akan tujuan, katakan kepada mereka yang mau komplain silahkan, tapi aku sama sekali tidak tolerir akan ketidaksetiaan!!" kata Nera dengan raut wajah yang sangat menyeramkan.
Sraaak! Nera melemparkan kerikil-kerikil pecahan tembok yang ia hancurkan tadi.
"Andra sudah tidak ada kabar, aku harap ia sedang sibuk menepati janjinya, aku masih memiliki kesabaran untuk menunggu Andra menepati janji, tapi kesabaran dan pengorbanan ini ngga murah, jika ia tidak bisa menepati janjinya..... Aku akan Pastikan ia akan menyesal seumur hidupnya" kata Nera.
Kembali ke kamar Sembilan...
"Ya Mas Andra, maaf ya kalau saya kasih tahu sedikit kepada Andlo, kasihan kayaknya polos gitu" kata Sembilan yang sedang menelpon Andra.
"Hm, tentu saya sudah kembali ke Rosement, saya akan menyelidiki sebagian yang diperlukan disini" kata Sembilan.
"Tentu saja, sepertinya pihak tengah sudah kembali" kata Sembilan.
Di Bandara Helvetia International....
Pesawat khusus para Anggota kerajaan.
"Selamat datang kembali, Pangeran Azka" kata Asisten Pribadi.
"Tentu"