The Unifying Butterfly

The Unifying Butterfly
Season 4 Chapter 32 : Besok



"Menara Pandora ya?" tanya Arka.


"Arka... sejujurnya, aku ingin bilang, kalau kau tidak bisa lebih lama lagi menjadi Khodam Putri itu, karena kau ada karena jurus pembangkit, Erlan juga harus kembali ke Raganya, sekarang kau tidak punya raga kau harus pergi" kata Rangga.


"Benarkah? batas waktu sampai kapan?" tanya Arka.


"Tanggal 12 jam 0.00 sudah waktunya kita kembali ke tempat masing-masing, karena disitu Tanggal Emas terjadi, dan kotak Pandora akan menentukannya dengan mengucapkan sebuah permintaan pada jam 23.50" Jelas Pak Andi.


"Begitu ya, aku harap menara Pandora tidak bangkit nantinya" kata Jiwa Erlan.


"Tapi,... aku tidak bisa berpisah dari Amanda, jika aku pergi-... "


"Tenang saja, kan ada aku" kata Jiwa Erlan.


"Bagaimana caranya kau akan bersama Amanda kalau sampai sekarang kau masih marahan sama dia?" tanya Rangga.


JLEB!


"Itu... ya! nanti deh!" kata Jiwa Erlan.


"BTW, dimana si Raja?" tanya Rangga.


"Dia sedang menelpon Pamanku yang sedang di Verheaven" kata Jiwa Erlan.


"Memangnya mau ngapain?" tanya Arka.


"Hmf,.. ngapain ya?" tanya Jiwa Erlan.


Di Ruangan Andra..


"Baik, baik yang mulia, tentu..., Erlan disini baik-baik saja... em, kondisi kotak Pandora? cukup baik, Baiklah... sampai disini dulu ya, tentu... Tentu Raja Daniel" kata Andra mengakhiri telepon.


"Masalah hampir selesai sepenuhnya" batin Andra.


"Ana, dia sedang mempersiapkan untuk wisuda besok, Vandro sedang menghabiskan waktu bersama keluarga kecilnya, Toni sedang bersama Nera, Rahmat sedang dengan Rafa, Vian lagi ada deadline mendadak" gumam Andra.


Di Kamar No 10...


Amanda sedang merenung.


"Apakah aku terlalu keras pada Erlan? tapi itu juga salahnya! kenapa coba? sedang ikut-ikutan tapi masalahnya belum selesai?" batin Amanda sambil memegang sebuah pil.


Flashback...


"Miko, ini adalah Pil yang sudah ku temukan penawar Optik 294,1! kau bisa kembali ke wajahmu semula" kata Hirata.


"Aku juga sudah memberikan itu pada Vian" batin Hirata.


"Tentu! Tuan Putri!" kata Hirata.


Flashback Off....


"Kapan ya? aku bisa?" tanya Amanda sambil memandang pakaian wisudanya.


"Kak Nera besok akan datang bersama kak Toni, kak Vanora bersama Pak Vandro dan Mama mereka, kak Rahmat akan datang juga bersama Pak Randi, tapi... setelah kejadian aku dan Erlan, apakah Vian akan datang?" batin Amanda.


"Aku harus bisa! besok hari penentuan ku"


Semua mahasiswa/i UNHEIN sedang bersiap untuk penentuan mereka besok. Baik Amanda, Nina, Zaki, Putra, dan lainnya pasti ingin mengetahui hasil dari masing-masing, tinggal berdoa saja.


Malam harinya...


"Wah! ternyata benar! tak ku sangka! jika kau berada di sini! Ayah!" kata Amanda.


"Ng? masih memanggil Ayah?" tanya Pascal.


"Aku hanya sedang berada di kamar, tapi entah kenapa aku punya firasat aneh dan segera pergi ke Deathcore Forest! dan benar kau berada di hutan inti kematian!" kata Amanda.


"Yah? ini bagus sekali,... bagaimana kalau kita akhiri pertarungan disini? Aika?" tanya Pascal.


"Aku akan membalasmu yang telah membutakan mata Ayahku dari jalan yang benar!" kata Amanda sambil mengambil pedang dan talinya.


"Kalau begitu,.. aku maju!!" kata Pascal.


Amanda langsung pura-pura akan menebas pedang, dan langsung menandai Mana tali dan melakukan jurus teleportasi.


"Makko Ryudan! Uchuu Ankoku Ninpou!!!"


BZZT! BRUK!


"Ukh... tak ku sangka, terakhir kali aku terkena jurus itu pada saat 19 tahun yang lalu... " kata Pascal.


Tiba-tiba Amanda mengaktifkan Aquamarine Silent.


JLEB! Amanda menusuk Pascal dengan pedang Fujiwara.


"Uhuk!"


"Aku menyadari satu hal, kalau kau menyimpan batu terakhirmu di dalam Ayah Arslan, sekarang... kau benar-benar mati... Pascal" kata Amanda melihat Ayah angkatnya kembali.


"Eh? Amanda?" tanya Arslan.


"Ayah... "