
"Berhenti! hah! melihatmu yang melawan perempuan saja lembek! apa lagi kalau melawan ku!" kata Rafa.
"Apa?" tanya Rey.
"Kita berduel satu lawan satu! jika aku menang, aku akan jadi ketua kalian, dan bebaskan kami" kata Rafa.
"Ng? melawan ketua? beneran? berani banget?" bisik para anggota geng di situ.
"Duel! Duel! Duel!"
"Hah! Baiklah, tapi ingat, jika aku yang menang dalam pertarungan 10 menit dan kau K.O, aku akan menyuruh anak buahku untuk masuk kedalam ruangan tempat gadis itu berada, untuk menghentikan mereka sambil melawan ku" kata Rey.
"Ok! siapa takut!" kata Rafa.
"Baik! masukkan gadis itu ke dalam ruangan dalam keadaan terkunci!" kata Rey.
"Siap!"
Tatapan terakhir Rafa pada Amanda saat akan menutupnya pintu seakan mengatakan bahwa : "Jangan Khawatir, aku akan mengulur waktu, cari cara bagaimana kita bisa bebas".
JRANG!
Sementara itu kembali ke tempat Andra...
"Pak Andi! bagaimana sekarang!?" kata Andra gusar.
Maklum di Rosement hanya tinggal Andra, Pak Andi, dan Vanora.
Karena Tim R : Randi, Rahmat, dan Radith sekarang sedang mengikuti Toni dan Nera untuk mengirim bantuan.
Sembilan masih menyelidiki tugasnya di luar kota.
Vian sedang mengawasi lewat Ponsel Amanda yang tertinggal di mobil, juga pergerakan Nera dan Toni, juga dia juga harus di rawat dan di obati beberapa luka yang dia dapat dari Rey.
Vandro sedang menjalani pemeriksaan serius.
"Saya bukannya menolak Nak Andra, tapi anda adalah yang paling berpengaruh, jadi jalan dan pilihan apa yang sekarang Nak Andra pilih?" tanya Pak Andi.
"Saya... " Andra memberhentikan kata-katanya.
Sementara itu Kondisi Amanda...
"Gelap sekali" gumam Amanda.
"Aku ngga percaya Kak Nera bisa melakukan hal seperti itu... " batin Amanda.
"Tali ini... bisa di copot! sebelum pergi dari restoran tadi aku sempat mengambil Cutter itu dan menyembunyikannya di kantong gamisku yang memang samar dan tidak bisa di lihat syukurlah" gumam Amanda lagi.
"Ayolah! andai saja tadi aku tidak menggunakan Mata senyap ku... tenagaku banyak yang terbuang, jika tidak ku gunakan mata senyap ku pasti tali ini sudah ku putuskan sendiri dengan tangan kosong! uh! ayolah! Kak Rafa sedang berjuang di sana!" gumam Amanda sambil menggesek-gesek tali dengan pisau cutter.
Brat!
"Alhamdulillah! terlepas!" kata Amanda.
Kondisi Rafa...
"Mulai!" kata wasit.
"Aku harus bisa mengulur waktu buat melindungi Amanda, sampai dia tahu bagaimana cara untuk keluar dari sini.... 10 menit... bisa kan!?" batin Rafa.
"Hiyaa!!!" Rafa melancarkan serangan pertama.
"Eits, kau tahu? orang seperti aku pun tahu sesuatu, mau dengar?" kata Rey menangkis serangan Rafa.
"Hah!?" Rafa heran.
"Berpikirlah dulu sebelum bertindak, kau tahu apa artinya itu?" tanya Rey.
"Apa!?" tanya Rafa sambil menahan pukulan kaki Rey dengan lengannya.
"Kalau kau sudah salah langkah melawanku!!" kata Rey sambil mendorong Rafa dengan menendangnya.
"Uakh!" Rafa meringis kesakitan.
"Bagaimana? sudah menyerah? relakan saja gadis itu! bahkan gadis itu jauh lebih kuat daripada dirimu, kenapa tidak gadis itu saja yang melawanku!?" tanya Rey yang langsung maju.
"3 menit!" kata Wasit.
"Hah! ini mulai menyenangkan!! kau terlalu sombong jadi manusia! bahkan tadi kau hampir mati jika tidak ku hentikan, bodoh!" kata Rafa yang ikut maju.
"Terlalu belagu! sudah tahu manusia rendahan, bukan malaikat! malah sok kuat!" kata Rafa melancarkan serangan.
" 5 menit! " kata Wasit.
"Waktu sudah berjalan 5 menit... bagaimana Amanda? kau menemukan, sesuatu kah...?" batin Rafa.
"Aku harus tetap bisa mengulur waktu.... untuk melindungi Amanda! Andra pasti datang! Andra... sekarang hanya kau dan bantuan darimu yang menjadi harapan kami sekarang... "