
"Kamu! jangan suka mengacuhkan jika Ayah sedang menasihati!" kata Azka yang secara tidak langsung mengagetkan Rafa.
"Ayah! jangan sembarangan! kenapa sih!?" tanya Rafa dengan keras.
"Kamu! berani ya sekarang menbentak Ayah!?" tanya Azka yang langsung berkelahi dan bertengkar ke kanak-kanakan dengan Anaknya.
"Ya... Yang mulia!" kata Gilang.
"Tu... Tuan Rafa!" kata Bima.
Bima dan Gilang akhirnya berhasil memisahkan Azka dan Rafa dan masuk ke dalam.
"Tuan, anda sebaiknya mandi dulu" kata Bima menyerahkan handuk kepada Rafa.
"Ya" kata Rafa.
"Yang mulia, anda akan saya antar ke kamar ya" kata Gilang.
"I.. Iya" kata Azka.
"Jika dilihat dari dekat.... si Gilang ini ngga punya Alis ya? " batin Azka.
Di Ruangan Adimas....
"Hm... Paman akan memperbolehkan ku masuk selama aku tidak menghambur" kata Rafa dengan pelan sambil memasuki ruangan Adimas.
"Hm? Foto ini, diambil saat Andra dan Ana sudah di asuh Paman, dan Paman Adimas masih menyimpannya?" gumam Rafa melihat Foto dirinya, Adimas, Andra, dan Ana.
Seingatku, sebelum foto Andra menangis karena mengingat Ayah dan Ibunya.
Lalu Paman Adimas bilang....
"Ayo kita berdua senyum yang lebar! supaya Andra ikut senyum, Ana juga ikutan senyum ya" kata Adimas saat itu begitu.
Rafa meletakkan Foto itu kembali.
Setelah kejadian penculikan dan insiden istana besar-besaran itu... semuanya berubah.
19 Tahun yang lalu....
"Kasihan ya yah, sudah kehilangan orang tua karena kecelakaan maut, sekarang kehilangan adiknya juga... semoga ada kabar baik" kata Felicia ibu Rafa.
"Ssst! ingat ya Bunda, jangan keceplosan didepan Andra, Bapak sudah minta semua keluarga untuk tutup mulut, biar Andra ngga trauma, dia masih penyembuhan setelah koma, jadi hati-hati ya Rafa, kamu juga, kamu ngga bisa dekat-dekat Andra dulu, nanti kamu bisa ngomong sembarangan
didepan dia" kata Azka.
Rafa melepas genggamannya dari ibunya dan berlari kearah Andra.
"Rafa!!!" panggil Azka.
"Kak Andra!!!" teriak Rafa.
"Uwa! oh? si-... siapa ya?" tanya Andra.
"Eh? ini aku Rafa kak" kata Rafa.
"Rafa! sudah kakek bilang jangan dekat-dekat dulu! mana ayahmu? Azka!!" kata kakek Rafa.
"Maaf Pak, anak ini langsung lari begitu saja"
"Pegang dong yang benar!"
"Rafa! Ayo! dibilangin jangan dekat-dekat, Andra masih dalam Proses pemulihan, kamu jangan buat dia bingung" kata Azka saat itu.
Setelah itu, aku dimarahi oleh kakek, Ayah, dan ibu.
Yang aku tahu Andra telah koma setelah penculikan.
Andra yang dilindungi.
Dia bukan lagi "Kakak" yang ku kenal, dia sudah menjadi orang lain, dan dia sukses dan naik tahta berkat kakek.
Andra, dia pasti juga
Azka sedang melihat sebuah dokumen yang diserahkan Adimas saat berunding.
"Hah! Harrison lagi, Harrison lagi, Adimas, kau sudah berumur! dan kondisi keluarga kita semakin sedikit dengan kepergian Kak Arif, Istrinya, Istrimu, dan juga Ana, semenjak Andra juga yang sudah memilih jalannya sendiri.Tidak bisa kah kau memendam perasaan dendammu itu dari Harrison! kau tahu sendiri kalau Harrison adalah keluarga yang banyak dan tidak gampang di sentuh! " batin Azka.
Flashback Season 2 Chapter 21....
"Baiklah Adimas, aku akan menerima dan membantumu untuk menghentikan Andra" kata Azka.
"Terimakasih Azka, kau memang bisa diandalkan untuk hal ini" kata Adimas.
"Kau juga Adimas, jangan ulangi lagi dengan bertindak berbahaya seperti mengorbankan informasi rahasia dengan menyabotase database perusahaan AR group" kata Azka.
"Ya, baiklah" kata Adimas.
Flashback Off....
Kamar Adimas....
Adimas sedang tidur dan menyatu dengan Alam mimpinya.
"Ka.... kak. Arif!"
"Ma... maafkan aku kak!!! aku tidak berhasil menjaga dengan baik Andra dan Ana! aku minta maaf karena tidak bisa menjaga anak-anakmu dengan baik! " kata Adimas yang sedang bermimpi bertemu dengan kakaknya yang menatap nya dengan tatapan kecewa yang sangat mendalam.
"Adimas!! Adimas!! " suara panggilan seseorang.
"Hah!?" tanya Adimas yang langsung bangun dari mimpinya.
"Kamu kenapa!? kenapa tiba-tiba tidur tapi meronta-ronta dan menangis begitu!?" tanya Azka.
"Ah... aku, tidak apa-apa, Rafa sudah datang? bagaimana kalian berdua? masih suka bertengkar?" tanya Adimas.
"Tadi Pangeran Azka dan Pangeran Rafanza sedang bertengkar di teras halaman anda Yang mulia, tapi saya dan Bima berhasil meleraikan mereka" jelas Gilang.
"Diam kau Pria ngga punya Alis!" kata Azka.
"A.... Azka!" kata Adimas yang melihat reaksi Gilang berbuah drastis mood menjadi buruk mendengar perkataan Azka.
"Oh ya, untuk Andra, apakah jadi jika kita akan pergi ke bentengnya itu?" tanya Adimas.
"Aku akan pergi, karena melihatmu yang seperti ini kau serahkan saja padaku" kata Azka.
"Ya, aku akan meminta Rafa untuk menemanimu ke tempat Andra" kata Adimas.
"Kenapa!-.... " belum selesai Azka menjawab.
"Kau dan Putramu kurang baik dalam hubungan antara Ayah dan Anak, jadi ini waktu yang tepat, tolong ya Azka" kata Adimas.
"Hah! terserah" kata Azka.
"Kalau bisa berangkatlah malam ini"
Malam Hari kemudian....
"Cih! kalau bukan karena permintaan Adimas, aku ngga akan mau pergi ke tempatnya Andra bareng Rafa" kata Azka.
"Cih! Kili bikin kirini pirmintiin idimis iki nggi ikin mii pirgi ki timpitnyi Indri biring Rifi" kata Rafa mengejek.
"Oh! masih aja mau macem-macem ya kamu Rafa!" kata Azka.
"Yang mulia, kita sudah sampai ke kediaman Pangeran Aliandra" kata Supir.
"Ya, ayo turun" kata Azka.
Akhirnya Azka, Rafa, dan Gilang saja yang menemani untuk ke Rosement.
JREENG! Pintu kokoh besar yang memagari lingkungan Rosement terbuka, terlihat Vandro dan Pak Andi datang menyambut.
"Selamat datang di Rosement, apa ada yang bisa kami bantu?"