
"Ana" kata perempuan berambut Pink panjang yang tersenyum ramah padanya.
"Apa... yang kamu lakukan disini? bagaimana bisa kesini? dan juga,... tempat apa ini? aku harusnya ngga ada disini" kata Amanda.
"Benar juga ya,... Nah, waktunya pop kuis! coba tebak, apakah kamu bisa menebak siapa aku?" tanya wanita berambut pink itu sambil tersenyum menatap nya.
Amanda terdiam melihat tatapan perempuan itu.
"Anehnya... mata hijau itu, apakah Silent? tapi... aku seperti pernah melihatnya, dimana ya?" batin Amanda.
"Hihi" Perempuan itu bergumam.
"Tidak mu... mungkin" Amanda melihat perempuan itu dengan kaget.
"Oh! kamu sudah tahu?" tanya Perempuan itu.
"Kau!! kau adalah wujud Ryu!!" kata Amanda.
"Eh? Hahahahahahaha!!! Gyahahaha!!!"
"Kau tertawa terlalu keras! kau pasti hanya ingin menipuku kan?! Ryu-.... "
DUAK!
"Bukan!!! Dasar... "
"A... Aduh!!!! Eh? 'Dasar'?" tanya Amanda.
"Ahahaha! maaf ya! aku ngga bisa berhenti untuk memukulmu, ini pertama kalinya aku memukulmu lho! tahu gak? dari kecil.. aku sudah terlahir berkata cepat dan juga mengeluarkan kata-kata aneh, kadang di awal, di tengah, dan di akhir kalimat, banyak yang mengira itu ejekan sih, tapi kayaknya kamu ngga! hehe" Jelas Wanita itu, Amanda terdiam.
"Ah.. kayaknya baju merah ku ngga cocok deh! ku ganti dulu ya" kata wanita itu sambil membunyikan jarinya.
CTK!
"Nah! gimana baju Pink biru ini? cocok kan!" kata Wanita itu lagi.
"Ni Perempuan kenapa dah? di tempat gini masih aja bicara soal pakaian?" batin Amanda.
"Aku sebenarnya sudah mencoba menahannya, tapi pastiiii saja! terucap di mulut dan sering keceplosan! oh ya! bagaimana denganmu? aku harap, kebiasaan ku tidak menurun padamu" kata Wanita itu sambil tersenyum heran.
"Ja... jadi-... "
"Kaito.. maksudnya Arif, apakah dia tidak mengatakan apapun padamu? bahkan Andra juga?" tanya Perempuan itu sambil tersenyum heran lagi.
"Ah! menyebalkan dua orang laki itu" ucap Perempuan itu.
Tangan Amanda bergetar karena itu.
"Yes! aku adalah-... " belum sempat wanita itu melanjutkan omongannya.
PUK! Amanda memeluknya dengan erat.
"Eh?" Perempuan itu tahu.. arti jawaban Amanda dari pelukan itu, dia tersenyum dan melihat kecendrungan Putrinya.
"Dasar.... tahu gak?! aku... aku benar-benar ingin bertemu denganmu! Ibu!" kata Amanda berdesis sambil menangis, dan matanya yang di kendalikan Ryu berubah menjadi Biru lagi.
"Eh? Lho? 'Dasar' ya? hihi, kamu memang benar-benar anakku" kata Afifah membalas pelukan Amanda.
Meanwhile...
Kondisi Andra dan Pak Andi..
"Perubahan kendali Ryu sudah berhenti" kata Andra.
"Eh? apakah kau melakukan sesuatu, Nak Andra?" tanya Pan Andi.
"Tidak, sepertinya dia menghentikannya sendiri" jawab Andra.
"Ana, apa yang terjadi di sana?" batin Andra.
Kembali ke Amanda...
Amanda melepas pelukannya.
"Ibu! tahu gak? aku pengen banget cerita banyak hal jika bertemu denganmu!" kata Amanda dengan bersemangat.
Di alam bawah segel...
Amanda yang terikat oleh Ryu mulai bergerak.
"AAAAARGHHH!!!!!"
Amanda berteriak dan mengeluarkan tali rantai berkawat yang keluar dari Liontin nya.
"Ma.. Mana ini,... Mika kah?" gumam Aika.
Di Tempat Amanda dan Afifah....
"Jadi, Arif menyegel Ryu, tapi terlebih dahulu, dia meletakkan segelnya pada Andra, lalu akhirnya menyegel Ryu di dalam tubuhmu, pada akhirnya nanti aku dan Arif akan membantu kalian saat akan mengontrol kekuatannya" Jelas Afifah, sedangkan Amanda hanya cengar-cengir.
"Hehe"
"Kamu denger gak sih?" tanya Afifah.
"Aku seneng banget melihat ibuku sangat cantik!" ujar Amanda.
"Yah, makasih deh, hihi... matamu seperti ayahmu, tapi maaf ya.. kamu harus mewarisi seluruh penampilanku Ana" kata Afifah.
"Ng? emangnya kenapa atuh? kalau aku mewarisi penampilan Ibu, artinya aku cantik dong! bahkan tahu gak? meski aku pakai jilbab, banyak banget yang matanya celalatan! em.. btw, Ibu rambut nya berwarna Pink agak bergelombang, seandainya saja rambutku bisa seperti itu pasti cantik sekali" Kata Amanda.
"Hihi, soal itu, sepertinya kamu adalah orang ke-3 yang memuji rambut pink ku" kata Afifah.
"Eh? benarkah itu? lalu,... siapa yang pertama dan kedua?" tanya Amanda.
"Hihi, siapa lagi! tentu saja Ayah dan kakakmu" kata Afifah sambil tersenyum.
"Oh! iya juga ya!" kata Amanda.
"Ng? ada apa?"
"Sebenarnya.. bagaimana Ibu dan Ayah bisa jatuh cinta? padahal tingkat derajat kalian berbeda kan?" tanya Amanda.
"Ah... Hihi! gimana ya bilangnya? kamu nanya yang memalukan lho! Dasar... " ujar Afifah salting.
"Wah! Ibu bilang 'Dasar'! artinya ibu lagi keceplosan karena malu kan? hayo" ujar Amanda.
"Ng.. ngga kok! jangan yang ngga-ngga deh! Dasar... "
"Tuh kan! Ibu ngomong gitu lagi! hahaha!" ujar Amanda.
"Hahaha! gitu ya... "
"Hihi! Hei Bu,... Tau gak! apa yang di bisikkan Ayah saat aku bertanya pada nya?" tanya Amanda.
"Eh? memang Arif tanya apa?" tanya Afifah.
"Kasih tahu gak ya?" tanya Amanda meledek.
"Ih! ngga usah ngeledek ya!"
"Hihi, Sorry... ini katanya"
Flashback...
"Aku sebagai pemimpin keluarga kita berempat, sangat mencintai kakakmu dan dirimu, akan tetapi... Aku benar-benar sangat mencintai Afifah, lebih dari siapapun, di dunia ini" bisik Arif
Flashback off...
"Gitu deh Ayah ngomongnya" kata Amanda.
"Ng?" Amanda melihat Afifah yang blushing sampai mimisan.
"Huh.... 'benar-benar mencintai' apanya? gombalan macam apa itu? gak mempan kali" kata Afifah yang senyum sendiri sambil mimisan.
"Ha.. ha.. ha, tapi Ibu mimisan kan?" tanya Amanda.
"Eh?! sudahlah! cerita tentang kami bisa saling jatuh cinta ya?" kata Afifah.
"Ya!"
BLUSH!
"Gimana ya?" tanya Afifah sambil menengadahkan kepalanya ke atas.