
"E... Erlan!!!" Seru Amanda.
"Kejam... dunia ini benar-benar penuh kekejaman, saling membunuh, saling menyakiti, entah kenapa... sampai kapan kekejaman ini akan berlanjut?!" batin Amanda.
Erlan melihat Amanda memegang pisau dengan tangan bergetar.
"Beranilah!!!"
"Eh!?" tanya Amanda yang air matanya bercucuran sambil memegang pisau berlumuran darah.
"Beranilah!!!"
"A.. Aku, tidak mungkin! aku tidak bisa! Dasar.... " kata Amanda.
"Beranilah!!! atau tidak,.. ki.. kita akan mati disini!!" Seru Erlan yang mulai tercekik.
"A.. Aku"
Aura dan sel-sel Silent mulai aktif pada Amanda.
Hyung.... tangan Erlan sudah melemas karena cekikan itu.
"Beranilah... beranilah.... beranilah!! jika tidak... Erlan akan dalam bahaya lebih dari ini!! Beranilah!!!" batin Amanda.
CRING!!!! Silent Amanda langsung aktif, gagang pisau yang ia pegang langsung rusak, lantai berkayu dimana dia berdiri langsung retak karena dorongan kakinya dan Silent yang kuat.
"HIAAAA!!!!" Amanda langsung berlari sekuat tenaga sambil melayangkan pisau.
"Gawat!" gumam preman 3.
*****
Malam harinya....
Para pasukan Agensi yang di panggil Harry datang sambil membawa senter.
"Preman ketiga... langsung terkena serangan tepat di jantung, apakah anak-anak itu yang melakukannya?" tanya salah satu diantara mereka.
Di salah satu saung yang agak jauh dari TKP....
Api unggun di nyalakan.
"Erlan! apa yang kau lakukan!? bukankah Ayah menyuruhmu untuk menunggu!?" tanya Harry.
"Tapi mereka itu bukan manusia!! mereka tidak bisa di biarkan hidup begitu saja!" kata Erlan.
"Walau begitu, kau hanya beruntung!" kata Harry.
"Aku... aku hanya ingin langsung menyelamatkannya" kata Erlan tanpa menatap Harry.
Harry tersentak dan akhirnya memaklumi Erlan karena itu dan beralih ke Amanda.
"Kau... Amanda kan? aku adalah Harry Ramanathan, panggil saja aku Dr. Ramanathan, maaf soal kejadian tadi ya? aku kesini untuk memeriksamu" kata Harry.
"Mr. Ramanathan, aku tidak tahu harus kemana..., Ibu dan Ayahku sudah lama tidak pulang, aku sering sendiri di rumah... aku takut, sekarang Bi Minah dan Paman Anto sudah gak ada. Ini dingin, apa yang harus kulakukan, Dasar... " kata Amanda.
"Mba Aliza,.... kasihan anak angkatmu, Kalian meninggalkannya dalam usianya yang masih belia, aku akan bicara dengan atasan organisasi agar kau bisa menghabiskan waktu dengan anak angkatmu" batin Harry.
Erlan mendatangi Amanda sambil melepas syalnya.
"Eh?" tanya Harry.
"Ini.. pakai ini" kata Erlan memakaikan syal birunya dengan asal ke Amanda yang ketakutan.
"Terasa... hangat bukan?" tanya Erlan yang pipinya sedikit merona.
Amanda menyentuh syal itu.
"Hangat" gumam Amanda.
Harry tersenyum melihat Putranya.
"Oh ya, Amanda... bagaimana kalau kau tinggal bersama kami?" tanya Harry.
"Eh?"
"Erlan juga terkadang sering aku dan Liana tinggalkan sendiri bersama kakaknya, jadi... mungkin sampai orang tuamu kembali, tinggallah sama pengasuh yang ada bersama Erlan" kata Harry.
"Aku memang sering di tinggal, emang dasar orang tua gak bertanggung jawab" kata Erlan dengan dingin.
"Oi.. Oi! Erlan!" kata Harry.
Erlan mendatangi Amanda sambil mengambil tangan Amanda yang tertutup jaketnya.
"Ayo! kita ke rumah" kata Erlan.
Amanda membendung air matanya.
"I... iya!"
Flashback Off.....
Amanda berlari menjalankan misi sambil mengingat hal itu.
"Aku jadi bertekad untuk mempelajari karate agar menjadi berani" batin Amanda.
Nera dan Amanda terkepung.
Amanda langsung menyerang semuanya dengan cepat.
Salah satu komandan musuh bersembunyi di salah satu pohon.
"Dia.. tidak mungkin, Ratu dibalik bayangan hitam" batin Komandan itu.
Amanda sudah menandai komandan musuh dan langsung muncul di belakang komandan itu dengan kunai yang mengancam.
"Apakah kau... adalah anak Shinobi legendaris keenam!? sekarang aku mengerti, kenapa pemimpin kami menyuruh kami mundur jika melihatmu" kata Komandan itu.
CRAK! JLEB!