
Malam hari...
"Pegel banget! ngga nyangka tadi sidang skripsi nya lumayan di tanyain, untung bisa jawab, kalau ngga, yang penting alhamdulillah lah bisa selesai" gumam Amanda.
Amanda memikirkan flashback saat dia memberitahu yang di katakan Arif.
Flashback, Amanda sedang Video call di Laptopnya.
"Begitu kak Andra, Pak Andi... maaf ya, aku ngga bisa ke lingkar dalam, karena Pak Randi bilang harus istirahat" Jelas Amanda.
📹" Ngga apa dek, yang penting terimakasih sudah kasih tahu" Andra mengusap sedikit air mata yang mau keluar.
"Em, apakah kak Andra menangis?" tanya Amanda.
📹"Eh?! ngga!
🎥"Jujur saja Nak"
📹"Eh?! hanya saja... sedikit sih, kita harus bisa tetap semangat meski tidak ada dalam kasih sayang orang tua kita"
"Ya, memang benar kok"
📹"Kalau begitu, malam besok berkunjunglah ke lingkar dalam... kita bicarakan ini lebih lanjut"
"Baik... Assalamu'alaikum"
Flashback Off...
Akhirnya Amanda langsung ke lingkar dalam.
Amanda duduk di ruang tengah.
"Bagaimana caranya Papa bisa memberi tahu itu?" tanya Andra.
"Kak... Aku sudah bilang padamu kalau aku bertemu Ayah saat kehabisan energi dan tenaga saat pertarungan" Jelas Amanda.
"Aku mengerti, tapi... apa yang membuatnya seperti-... " belum selesai Amanda bicara.
JDUAAR!!!!
Deg!
Andra, Amanda, Pak Andi, dan Vian juga Randi yang ada disitu langsung kaget.
"Apa?! bunyi ini!? pelindung perisai ghaib yang ku segel hancur!?" tanya Andra.
"Sebaiknya kita keluar sekarang! jangan sampai Pascal-lah yang menghancurkannya!" kata Amanda yang akan membuka pintu beranda atas lingkar dalam.
"Amanda! tunggu!" ujar Vian
Ceklek! Amanda terlanjur membuka pintunya karena hawa yang dia rasakan yang menghancurkan perisainya sudah di depan pintu.
"E.. Eh? anda siapa?" tanya Amanda melihat seorang lelaki.
"Ng? hawanya pekat sekali, apakah kau yang menghancurkan perisai yang ku buat?" tanya Andra.
Amanda masih menatap lelaki itu lebih fokus.
"Ada apa Nak?" tanya Pak Andi.
"Itu, Vian... kenapa Auranya hampir sama seperti yang terjadi beberapa hari yang lalu saat di serang Pascal?" tanya Amanda sambil berbalik menatap Vian, dia tahu karena Andra sudah menceritakannya.
"Eh? Em... begitulah, ada seorang genderuwo yang membantu ku, dia membantu sementara aku membawa kalian ke Rosement" Jelas Vian.
"Ng? Perhaps.... " Randi perlahan berbalik ke laki-laki itu.
"Ah! Jangan-jangan kau adalah genderuwo yang membantu Vian itu!" ujar Amanda.
"Hah?! ge... genderuwo?!" tanya Randi yang mulai merinding.
"Ngaco! namaku Rangga! ingat itu! mulai sekarang panggil aku dengan nama itu!" Kata Rangga.
"Setan kok punya nama Aneh" batin Andra, Pak Andi, dan Amanda.
"Eh iya! duduk dulu yuk!"
Akhirnya mereka duduk di situ.
"Baiklah, sampai dimana kita tadi? ah! iya, alasan kenapa aku menghancurkan perisai tadi" ujar Rangga.
"Itu karena seorang makhluk aneh yang bernama Pascal itu, menyerang kami! akhirnya kami membuat perisai itu untuk perlindungan" Kata Amanda.
"Yah, lebih tepatnya setengah benar untuk kalian, kalian tahu? siapa aku?" tanya Rangga.
"Rangga si genderuwo" kata mereka kecuali Pak Andi.
"Bukan itu maksudku!"
"Sebenarnya, yang dia maksud adalah, alasan kenapa dia bisa kita lihat, bukankah makhluk ghaib itu, tak kasat mata?" tanya Pak Andi.
"Ah! aku mengerti, jadi?" tanya Vian.
"Karena, Mas Rangga menggunakan mode astral untuk menampakkan dirinya, lebih tepatnya dia bukanlah hantu, melainkan berasal dari dimensi Shinobi, yang kehilangan raganya dan memutuskan untuk melindungi sebagian wilayah dunia nyata yang mempunyai energi astral, atau energi yang seseorang yang berasal dari klan terkenal yang besar" Jelas Amanda.
"Aku sudah menduga itu, apakah benar?" tanya Andra.
"Itu sih bisa dibilang benar, sebenarnya kalian telah mengambil sebagian wilayah ku saat kalian memasang perisainya, dan itu membuat keresahan" Jelas Rangga.
"Keresahan seperti apa?" tanya Andra.
"Keresahan karena perisai itu menarik banyak para makhluk astral, di sebabkan dari energi yang benar-benar besar, dan membuat mereka ingin menghisapnya... tapi karena jantung atau sumber energi itu adalah.... " Rangga memotong kata-katanya.
Mereka bertiga berbalik.
"Jangan-jangan.... "
"Apakah, aku sumbernya?"