The Unifying Butterfly

The Unifying Butterfly
Season 2 Chapter 96 : Kapan berakhir nya!?



Brr.... Amanda bergetar melihat hal itu.


"Kak.... Toni... "


"Ngga! kenapa Kak Toni juga!!? Kak Nera!! Kak Rafa! Mas Diki! kenapa semua yang di dekatku harus berkorban!? aku hanyalah orang biasa yang mempunyai impian yang pupus! impian yang aku inginkan mempunyai kerabat juga keluarga yang banyak yang bisa aku sayangi dan mereka berbagi kasih sayang denganku" batin Amanda sambil menangis.


"Ngga, Kak Nera dan Kak Toni berkorban demi melindungi kami, Ka Rafa berkorban untuk melindungiku dan menanggung semua luka di tubuhnya, Mas Diki... itu sudah menunjukkan bahwa aku mempunyai orang-orang yang menyayangiku bukan!? aku harusnya sadar diri! maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan!?" batin Amanda.


"Itu benar... sekarang aku harus menyelamatkan Kak Rafa dan memanggil bantuan, Kak Toni mengorbankan dirinya untuk melindungi ku dan Kak Rafa, aku tidak boleh putus asa untuk sekarang! impian ku belum pupus!" gumam Amanda sambil mengangkat Rafa kembali.


"Kalian berdua harus percaya diri untuk membuat impian kalian menjadi kenyataan"


"Eh!? mimpi itu... " pikir Amanda.


"Ya! aku harus percaya diri! aku sudah sejauh ini sampai kesini, aku harus percaya diri untuk membuat impianku menjadi kenyataan! setelah selamat aku akan pulang dan menemui Raja, dan bertemu kakakku" gumam Amanda sambil membawa pergi Rafa Pelan-pelan karena tangannya juga tertembak.


****


"Ng?" Toni perlahan membuka matanya dan melihat Amanda.


"Amanda sudah jauh, sekarang aku bisa mengurus Rey" kata Toni.


"Sudah! menyerah saja Ton!" Kata Rey sambil menendang Toni.


DUAK!


"Ukh!" Toni jatuh terbaring karena kehilangan tenaga sebab tembakan.


"Sekarang... kau pergilah, susul Nera ke akhirat" kata Rey menodongkan pistol tepat di kepala Toni.


DOR!


Sementara itu Amanda...


"Uhg! sampai mana ya!? Kak Rafa berat banget lagi" kata Amanda.


"Susah bagiku untuk membawa kak Rafa dengan kondisi tanganku yang tertembak, Eh!? helikopter!?" gumam Amanda.


"Hei!! Kau cewek tadi! mau kabur kau ya!?" ternyata para anggota geng cakar naga berhasil menemukan Amanda.


"Tidak ada waktu! kita harus evakuasi karena kebakaran ini! lihat!? ada helikopter! itu mungkin polisi atau wartawan!" ujar Amanda.


"Jadi kau yang memanggil mereka!? tangkap dia!"


BRRM!!! Suara motor yang merubuhkan para anggota itu, ternyata itu motor Radith juga tim ambulans yang di bawa Randi, bantuan telah sampai.


"Ng? suara motor!?" batin Amanda.


"Mataku... kunang-kunang, tanganku... sakit,... orang ini... nomor 1" batin Amanda.


"Tolong Kak Rafa, Kak Toni, Kak Nera" kata Amanda yang akhirnya pingsan karena darah yang mengalir membuatnya kena anemia dan membutuhkan donor darah.


"Anda sudah aman!"


Akankah malam yang panjang ini sudah berakhir?


Sementara itu...


"Huh! seharusnya aku memeriksa bagian dalam, tapi merasakannya saja sudah seperti terbakar" ucap Rey yang masih menodongkan pistolnya.


"Heh! aku ini cukup gesit Rey! aku bisa menghindari itu! dan masih ada celah di dalam" kata Nera.


"Ya.. yang tadi itu, hampir sedikit lagi aku bisa membunuh Toni.. tapi kau, malah melempar batu dan melesetkan peluruku" kata Rey.


"Aku memang hebat" kata Nera.


"Kau membutuhkan ku untuk di tangkap dan di interogasi ya? jangan harap!" kata Rey.


"Sekarang waktunya kau pergi, Nera" kata Rey.


"Untuk itu... sudah banyak peluru yang kau gunakan, kau juga tidak akan bisa mengganti peluru dengan satu tangan!" kata Nera.


"Coba tembak!" ucap Nera.


Tiba-tiba...


DOR!


"Hah!? REY!" Nera terkejut melihat Rey tertembak di bagian kepala.


"SIAPA!? SIAPA YANG TEMBAK!?" Seru Nera.


"Hm... "