
Chapter 511 - Revolusi Terbesar.
Hari yang telah ditentukan telah tiba. Ribuan orang dari seluruh penjuru Negeri dengan atribut demonya sedang berjalan menuju ke Ibukota. Selain itu, orang-orang yang mengikuti demo ini adalah 90% dari yang bergabung Pasukan Revolusi dan 10% dari para sukarelawan. Mereka juga telah menyelipkan senjata mereka di pakaian untuk jaga-jaga bila perang telah dimulai.
Dalam beberapa jam, ribuan orang sudah hampir dekat dengan Ibukota Negara Grousse Kontinent yaitu Blues City.
Dalam rombongan para pendemo itu sekilas terlihat Xia, Xianfeng, Dapidson, dan Pilkington yang berjalan secara berkelompok dengan mengenakan pakaian formal.
"Eh? Sejak keberangkatan, kenapa aku tidak menemukan Izumi dan kawan-kawan nya berada?" Dapidson menoleh kanan kiri ditengah-tengah ramainya rombongan para pendemo, "Apa mereka tersesat?"
"Tentu saja tidak, bodoh!! Mereka juga pasti berjalan bersama entah berada didepan atau dibelakang kita." ucap Xianfeng.
"Dapidson itu memang sangatlah bodoh. Dia terlalu bodoh!!" ejek Pilkington sembari menjulurkan lidahnya ke arah Dapidson.
"Jangan ngejek lah woy!!! Gitu aja ngejek!!!" Teriak Dapidson.
Xia pun langsung menepuk jidatnya sembari mengeluh, "Hadeh. Bisakah kalian tidak bertengkar satu hari saja? Hari ini kita akan menghadapi sosok yang kuat."
"Tenang saja, Xia-chan!! Meski kami bertengkar, sebenarnya kami tidak bertengkar. Pertengkaran ini adalah jalan menuju persahabatan!!" ucap Dapidson.
"Y-ya!! Jalan menuju persahabatan!!" ucap Pilkington.
"Yang kalian berdua katakan itu sama sekali tak bisa dipahami dengan mudah.." ucap Xia sembari menyipitkan kedua matanya yang menatap ke arah Pilkington dan Dapidson.
Sementara itu disisi lain, terlihat Izumi, Yoshino, Vika, Killa, dan Davidestorm yang berjalan secara berkelompok ditengah keramaian rombongan para pendemo.
"Selama perjalananku sebagai Bajak Laut, hanya kali ini aku bertemu dengan seseorang yang bekerjasama dengan iblis. Yang aku heran, darimana si Filimonov bisa bertemu dengan iblis tersebut.." ucap Yoshino.
"Ini semakin membuatku bersemangat untuk mengalahkannya!! Karena ini adalah pertama kalinya aku berhadapan dengan sosok yang bersama dengan iblis!!!" teriak Izumi dengan cukup bersemangat.
"Oey, kalian berdua! Kenapa malah terlihat senang begitu?! Musuh yang kita hadapi ini adalah musuh yang sangat kuat!! Bagaimana kalau kita kalah?" tanya Killa.
"..... Itu takkan mungkin terjadi, Killa!! Karena aku pasti akan menjadi Bajak Laut kuat!!!" ucap Izumi sembari tersenyum lebar bersemangat.
"Yeah, aku juga akan menjadi pendekar pedang terkuat suatu saat nanti.." ucap Yoshino sembari melirik ke arah Izumi dengan senyuman semangatnya.
~
Beberapa waktu yang telah datang. Ribuan pendemo yang datang dari seluruh penjuru Negeri pun telah memasuki Ibukota Blues, dan kini mereka sedang bergegas menuju ke wilayah Istana Negara, tempat dimana Filimonov tinggal.
Sementara itu, terlihat juga di sekitar wilayah Istana Negara telah dipenuhi oleh ribuan pasukan Pemerintah untuk mengamankan situasi. Pasukan Pemerintah berdiri disetiap sudut, bahkan para Sniper sudah siap mengintai dari gedung-gedung yang berada disekitar.
Sementara itu, di suatu ruangan didalam Istana Negara, terlihat Filimonov yang berdiri melihat pemandangan keluar jendela. Dia tersenyum licik menyeringai.
"Aku sudah tak sabar menunggu para pendemo itu. Ah, tidak. Maksudku para pasukan Revolusi yang menyamar sebagai pendemo. Setelah mereka datang, maka game akan segera dimulai.." ucap Filimonov.
Disisi lain, terlihat Izumi, Yoshino, Killa, Vika, Davidestorm, Xia, Xianfeng, Dapidson, dan Pilkington yang berada ditengah-tengah kerumunan para pendemo. Mereka tengah bersiap-siap dimulainya pemberontakan.
"Kalian. Bersiaplah. Setelah orang itu membacakan seluruh aspirasinya. Tujuan utama akan segera dimulai. Mereka akan memulai perang ini. Jadi, apa kalian sudah menyiapkan senjata-senjata yang akan digunakan untuk berperang?" tanya Xianfeng.
"Ya. Aku sudah bersiap dengan senjataku."
Tatapan para pasukan Revolusi yang menyamar sebagai pendemo pun terlihat saling melirik satu sama lain. Mereka tengah bersiap-siap untuk memulai penyerangan. Sementara itu, terlihat Firehn dengan para petinggi pasukan Revolusi juga berdiri saling berdekatan satu sama lain. Mereka juga bersiap-siap untuk memberikan sebuah tanda penyerangan.
Lalu, tepat di udara, terlihat sebuah mini stone yang terhubung langsung dengan Leonardo K. Davies yang kini berada di perbatasan Ibukota Blues bersama dengan Stuart dan Limit Company.
"Bagaimana, Captain? Apa mereka bersiap untuk melakukan serangan terhadap pasukan Pemerintah?" tanya Stuart.
"Ya. Sepertinya. Sebentar lagi mereka akan segera melakukan penyerangan. Sepertinya ini akan menjadi perang yang cukup besar, oleh karena itu para orang tua, anak-anak, dan wanita sudah diungsikan oleh Pasukan Revolusi. Mereka sudah memprediksi hal itu.." ucap Leonardo.
"Entah perang ini akan dimenangkan oleh siapa. Pasukan Revolusi atau Filimonov dan pasukan Pemerintah. Kurasa dengan kekuatan iblis bersamanya, apakah Filimonov bisa dengan mudah mengalahkan pasukan Revolusi?" tanya Limit Company.
"Entahlah. Kurasa Pasukan Revolusi mempunyai sebuah counter untuk melawan iblis. Pertarungan manusia dan iblis. Aku jadi penasaran, pertarungan macam apa yang akan mereka lakukan?" Ucap Leonardo.
Kembali ke para pendemo. Tiba-tiba saja suasana yang awalnya cukup ramai kini berubah menjadi hening. Pasukan Pemerintah yang berjaga di depan Pagar juga sudah bersiap dengan senjata masing-masing.
Karena terlalu hening, bahkan suara angin yang berhembus pun dapat didengar oleh siapapun dengan sangat jelas. Selain itu, pasukan Revolusi yang menyamar sebagai pendemo pun mulai mengeluarkan senjata masing-masing.
Dan..
"Serang!!!!!" Para pasukan Revolusi membuka penyamarannya sebagai pendemo dan langsung berlari ke arah pasukan Pemerintah yang berjaga di depan pagar. Pasukan Revolusi mencoba untuk menerobos pagar.
Akan tetapi, pasukan Pemerintah langsung melesatkan puluhan tembakan secara brutal ke arah Pasukan Revolusi, "Dorrr!!! Dorrr!! Dorr!!!"
"Uaghhh!!!"
Beberapa orang yang terkena tembakan itu pun langsung tersungkur ke tanah begitu saja.
"Jangan gentar!!! Jangan sampai kita menerima kekalahan!! Kita tak bisa membiarkan mereka yang telah mati kecewa!! Kita tak boleh membiarkan kematian mereka sia-sia!!! Dapatkan kepala dari Filimonov maka Revolusi besar ini berhasil!!!"
"Ya!!!!"
"Serang!!!!
Perang besar pun telah dimulai dengan pasukan Revolusi yang memulai serangan terhadap Pasukan Pemerintah. Tujuan dari Revolusi ini adalah kepala Filimonov. Bila mereka berhasil membunuh Filimonov, maka ini adalah kemenangan mereka.
Sementara itu, Filimonov terlihat tersenyum licik menyeringai, "Oh, sudah dimulai, ya? Baiklah, aku takkan segan-segan lagi. Enyahlah kalian para sampah.."
B E R S A M B U N G