
Saito menatap sinis Paladino, Benn, Raiden, Davidestorm, dan Vika. Ia tersenyum licik dan sesekali ia berbicara, "Sudah kubilang, apapun yang kalian lakukan, aku takkan pernah mengatakan apapun pada kalian. Dan lebih baik aku mati.." Saito berkata dengan keyakinan hatinya.
"Kenapa kau sangat keras kepala sekali sih. Seharusnya mengatakan siapa yang telah membayar mu itu tak sulit, kan? Tinggal mengatakan saja jadi gak usah terbelit-belit.." ucap Raiden.
"Ya, kalau kau mengatakan semua informasi yang kau ketahui, aku akan menjamin kau tidak akan mendapatkan hukuman yang berat, karena itu sama saja dengan membantu kami.." ucap Paladino.
"Aku benar-benar tidak peduli. Aku tidak takut dengan hukuman berat yang akan kalian berikan. Karena ini prinsip harga diri sebagai seorang Pembunuh Bayaran. Jadi, aku sudah siap menerima segala resiko yang ada.." ucap Saito.
"Hoi-hoi. Prinsip dan harga diri, ya? Kau cukup tangguh juga, ya. Aku jadi semakin bersemangat." Benn memasang raut wajah yang serius dan sedikit menyeramkan. Bahkan Raiden sendiri cukup ketakutan sampai bersembunyi dibalik Davidestorm dan Vika.
"Jangan berdiri dibelakangku. Aku bukan sebuah tiang atau benda apapun yang bebas kau buat untuk bersembunyi.." ucap Davidestorm, lalu ia pun berjalan minggir.
Namun, Raiden terus mengikuti Davidestorm dan berdiri dibelakangnya, "Ayolah Niisan, Benn-san kalau sudah mode serius itu sangat menyeramkan, coba lihat wajahnya.." ucap Raiden dengan nada pelan sembari menunjuk ke arah Benn.
"Mungkin cuma perasaanmu saja. Aku melihatnya biasa saja. Tidak terlalu menyeramkan." ucap Vika.
Benn pun menarik rambut Saito ke atas dengan cukup kencang, "Baiklah, kalau kau tidak mau berbicara tentang semua informasi. Maka, aku akan menyuruhmu paksa untuk mengatakan nya. Semoga kau bisa melalui masa-masa menyakitkan ini, ya.."
"Berisik!!!" teriak Saito.
"Klek!!!" Benn pun langsung mematahkan jari jempol Saito. Disaat yang bersamaan juga, Saito pun langsung berteriak dengan sangat kencang, "Uaghhhh!!!! Sakit!!!"
"Nah, sekarang beritahu semua informasi yang kau tahu. Kalau tidak, aku akan langsung mematahkan jarimu yang selanjutnya.." ucap Benn dengan nada mengancam.
"Osh.. osh.. osh.." Saito ngos-ngosan, "Sudah kubilang kan, apapun yang kau lakukan, aku takkan mengatakan informasi apapun kepadamu, dasar monyet.." ucap Saito dengan nada mengejek.
"Buaghh!!!" Tanpa basa-basi, Benn pun langsung memukul pipi Saito hingga salah satu giginya copot, namun Saito tidak pingsan karena pukulan tersebut.
"Itu adalah pelajaran untukmu karena telah mengataiku dasar monyet." ucap Benn dengan nada sinis, "Sekarang, katakan informasi yang kau tahu..-"
"Tidak, bodoh!! Sekali tidak ya tidak!! Kau itu memang bodoh atau gimana?! Hahaha!! Dasar orang bodoh!!" teriak Saito.
"Cih, dasar anjhing majikan." ucap Benn. Tanpa basa-basi pun Benn pun langsung mematahkan jari telunjuk kanan Saito, "Klek!!"
"Uaghhhhhh!!!"
"Lihatlah Oniisan. Benn-san kalau sudah mode serius, dia sangat menyeramkan." ucap Raiden yang masih bersembunyi dibelakang Davidestorm.
"Jadi, orang itu adalah pembunuh bayaran yang telah melakukan penculikan serta pembunuhan, ya?" tanya Davidestorm.
"Benar. Dia adalah orang yang keji karena menculik dan membunuh orang-orang tak bersalah. Jadi, kami berniat untuk mencari informasi tentang siapa yang menyuruhnya untuk melakukan hal sekeji itu. Bahkan korbannya juga sudah terhitung sangat banyak.." ucap Raiden.
"Begitu, ya.."
"Benn-san berhasil mengalahkan orang itu dan membawanya kemari untuk mencari tahu semua informasi. Tapi, dia, si pembunuh bayaran itu bersikeras untuk tidak mengatakan nya. Bahkan dia tidak peduli dengan nyawanya sendiri.." ucap Raiden.
"Itu benar. Kalau sampai tidak terungkap. Kasus ini akan menjadi tragedi kelam di Negara Grousse Kontinent. Dan kehancuran Negara ini juga akan semakin dekat.." ucap Raiden.
~
Tak terasa, waktu pun sudah memasuki waktu sore. Dan hingga kini, Benn sama sekali belum berhasil membuat Saito untuk mengatakan informasi setelah dia sendiri telah kehilangan kesembilan jari tangannya karena patah.
Terlihat Saito yang sangat lemas. Benn juga semakin kesal karena sudah cukup lama ia berupaya mencoba untuk mengulik informasi dari Saito tapi belum mendapatkannya sama sekali.
"Dasar, kenapa kau sangat keras kepala. Apa kau ingin Negara ini berada menuju kedalam kehancuran?" tanya Ben.
"Aku sama sekali tak peduli. Bahkan aku tidak peduli dengan orang-orang yang telah kubunuh. Aku hanya memikirkan uang untuk bertahan hidup. Karena aku sudah mendapatkan uang dari Pekerjaan pembunuh bayaran ini." ucap Saito.
"Cih, dasar manusia. Kau adalah manusia yang telah dibutakan oleh harta. Padahal kau bisa bekerja dengan cara yang lebih baik." ucap Benn.
"..... Benn, sepertinya kita harus mencari cara lain agar dia mau mengatakan sesuatu pada kita." ucap Paladino.
"Ya. Aku juga tidak bisa membunuhnya karena dia masih berharga untuk kita cari informasinya." ucap Benn.
"..... Baiklah, kalian semua cepat keluar dari tempat ini. Waktu sudah mulai gelap, kita sudahi saja interogasi ini." ucap Paladino.
"Lalu, bagaimana dengan dia, Paladino-san?" tanya Raiden.
"Biarkan saja. Jangan kasih makan. Biar dia kelaparan." ucap Paladino. Lalu, ia mendekatkan wajahnya ke wajah Saito, "Kalau kau ingin makan, maka beritahu kami semua informasi yang kau tahu, okey? Kami akan datang dua hari kedepan."
"Kalau dia mati, bagaimana?" tanya Benn.
"Biar saja. Lagipula, dia masih punya rekan, kan? Kita bisa mencari informasi dari rekan-rekannya yang belum kita tangkap.." ucap Paladino.
"Ah, pekerjaan ini membuatku sedikit pusing. Kalau begitu, tugas ini kuserahkan padamu, Paladino." ucap Benn.
"Ya, serahkan saja padaku. Akan kubuat dia nanti berbicara kalau masih belum mati." ucap Paladino.
Kini Paladino, Raiden, Benn, Vika, dan Davidestorm pun keluar dari ruangan tersebut lalu menguncinya agar Saito tidak kabur.
Saito pun merasa kesal terhadap semua orang yang telah membuatnya seperti ini, ia menyimpan dendam yang sangat mendalam.
"Mereka semua. Aku pasti akan membunuh mereka disaat Moment yang tepat. Kalian jangan terlalu berharap banyak padaku. Akan kubuat kalian mati bersamaku. Kurasa itu ending yang sangat indah.. Huahahaha!!!" ucap Saito sembari tertawa terbahak-bahak.
Seperti itu lah interogasi dari Benn dan Paladino yang gagal membuat Saito berbicara tentang informasi siapa yang telah membayarnya untuk melakukan aksi penculikan dan pembunuhan. Namun, tampaknya Paladino mempunyai sebuah rencana yang akan ia lakukan selanjutnya.
B E R S A M B U N G
Jangan lupa like koment dan share serta kritik dan saran yang membangun agar cerita Cosplay ini semakin berkembang untuk kedepannya nanti, see you next Chapter!!!