
"Tyengg!! Tyengg!! Tyengg!!"
Arata dan Zero saling menyerang satu sama lain menggunakan belati yang sama. Mereka berdua terlihat begitu sengit, bahkan para kroco yang melihatnya tak berani untuk ikut campur.
"..... Zero, matilah sana!!" Dengan tatapan tajam, Arata bergerak cepat hingga berhasil menggores pipi Zero sampai berdarah, "Sssstt!!"
Sekilas Zero melirik ke arah pipi yang terkena goresan belati milik Arata. Zero mengusapnya lalu tersenyum licik, "Sialan.. kalian dari generasi closer memang sangatlah merepotkan!!" Tak berselang lama, Zero menyentuh belati milik Arata.
"!!!!!" Arata terkejut ketika belati miliknya tiba-tiba berubah menjadi sebuah besi kecil biasa setelah disentuh oleh Zero.
"Bakkkk!!!" Arata menyilangkan kedua tangannya setelah melihat Zero yang datang mencoba untuk menendang dadanya. Arata menahan tendangan tersebut, akan tetapi ia sedikit terpental.
Zero melompat jauh ke arah Arata dan mencoba menusuknya menggunakan belati miliknya, "Hyaaaa!!!" Ketika Zero hampir menusuk Arata, tiba-tiba sebuah mobil datang ke arahnya dengan kecepatan penuh.
Melihat hal tersebut sontak membuat Zero lebih memilih untuk menghindar ketimbang harus bunuh diri. Walaupun Zero menghindar, Arata dengan kekuatannya pun mengendalikan mobil tersebut agar terus mengejar Zero.
"Zero.. enyahlah kau. Aku akan membunuhmu hari ini juga!!" ucap Arata.
Terlihat dua mobil berwarna kuning melaju begitu cepat ke arah Zero, dan mengejar kemanapun Zero bergerak. Kekuatan Speedometer milik Arata memang cukup merepotkan lawan.
"..... Cih, jangan sombong dulu. Katakanlah setelah kau masih sanggup bertahan ketika berhadapan denganku. Karena.." Zero membuat dua mobil yang melaju ke arahnya berubah menjadi beberapa benda yang menjadi bahan dasar mobil, seperti besi, kaca, dan lain-lain, "Aku akan menghabisimu sekarang.."
"!!!!!" Arata sedikit terkejut ketika melihat dua buah mobil tersebut berhasil diubah oleh Zero, "A-apa?!"
Zero Persento, kekuatannya ialah nol atau zero. Kemampuan yang membuatnya bisa membuat unsur yang tercipta menjadi sesuatu sebelum tercipta. Kekuatan yang cukup merepotkan ini, apakah Arata bisa mengatasinya?
"Mengapa kau bisa mengubah dua mobil itu? Apa yang kau lakukan, sialan?"
"Entahlah, tentunya aku takkan memberitahu informasi tentang kekuatanku kepada musuhku, paham?" ucap Zero.
Arata mengkerutkan dahinya dan begitu kesal setelah mendengar perkataan dari Zero. Ia merasa seolah-olah dirinya telah diremehkan oleh Zero. Sekilas Arata melihat reruntuhan puing-puing bangunan yang sangat besar, Arata bergegas mengangkat puing bangunan besar tersebut dengan sekuat tenaga karena sangat berat.
"Matilah, Zero!!!"
Tanpa basa-basi, Arata pun langsung melemparkan puing bangunan besar yang ia angkat ke arah Zero, "Wushh!!" Namun, puing bangunan tersebut berhasil diubah oleh Zero menjadi setumpuk pasir ketika melesat ke arahnya, "Nol Persento.."
Pasir yang berasal dari puing bangunan tersebut akhirnya melewati Zero begitu saja tanpa melukainya sama sekali. Kini mental Zero semakin yakin bahwa ia akan mengalahkan Arata dalam kurun waktu yang singkat.
Arata pun semakin kesal ketika melihat serangannya kembali berhasil dipatahkan oleh Zero. Ia tak menyangka bahwa kekuatan Zero semerepotkan ini.
"Cih, kau semakin membuatku semakin kesal saja. Apa-apaan kekuatanmu itu.." geram Arata dengan nada berat.
"Kalau kau ingin mengetahui apa kekuatanku yang sesungguhnya. Aku sarankan gunakanlah otakmu untuk berfikir dan menganalisisnya. Jangan menjadi bocah manja, bodoh.." ejek Zero.
Selang setelah itu, Arata pun berlari mendekat ke arah Zero, ia dengan sembrono mencoba untuk menyerang Zero secara langsung dari depan. Arata memang jarang menggunakan otaknya dalam bertarung, dan tak pikir panjang ketika berhadapan dengan musuhnya. Karena yang selalu dipikirkan oleh Arata ialah "Sebuah kemenangan"
Melihat Arata yang berlari ke arahnya dan mencoba untuk menyerangnya, Zero tampak begitu tenang dan masih sempat-sempatnya memasang ekspresi tersenyum licik. Lalu Zero memasukkan kedua telapak tangannya ke dalam saku celananya.
"..... Ya, aku akan mengakhiri pertarungan ini secepatnya. Karena sudah tidak ada gunanya lagi bermain-main dengan seekor tikus sepertimu." ucap Zero dengan nada sinis.
~
Beberapa saat kemudian, disaat tengah malam dan posisi bulan mulai berada di puncak. Terlihat kekacauan di New Vegas Town mulai kembali kondusif. Dan disisi lain, terlihat Arata terkapar di tanah dengan tubuhnya yang bersimbah darah.
Disamping itu juga terlihat Zero yang berdiri satu meter tepat di dekat Arata. Ia menatap tajam Arata sembari tersenyum licik.
"Tentu beginilah nasib dari seorang sampah sepertimu, Arata. Belum saatnya bagimu untuk melawanku karena perbedaan kekuatan kita yang terlalu jauh."
Beberapa saat kemudian puluhan kroco datang ke tempat Zero berada.
"Tuan Zero, apa yang akan kita lakukan kepada orang ini?"
Zero membalikkan badannya dan berkata, "Tangkap dia, masukkan ke dalam penjara, lalu beri penjagaan dengan super ketat. Kita akan menunggu perintah dari Groombride tentang hukuman yang pantas diberikan bagi bajak laut sampah ini.."
"Baikk!!!"
Kemudian beberapa kroco memasang kembali beberapa borgol di tangan, kaki, maupun leher Arata. Hal ini dilakukan agar Arata tidak berhasil kabur dan membuat kekacauan untuk yang kedua kalinya.
Setelah itu Zero pun berjalan pergi menjauh dari lokasi tersebut menuju ke suatu tempat dengan tatapan dingin.
Dua kekacauan terjadi akibat ulah dari dua orang bajak laut dari generasi closer. Mereka adalah Shoba Sekke dan Arata Kobayakawa. Dua kapten bajak laut yang berhasil membuat Serikat Lunarian sedikit kerepotan mesikpun berhasil dikalahkan dan ditangkap kembali.
Sementara itu, kekacauan yang terjadi pada malam ini tidak berhenti begitu saja. Pasalnya di Might Town beberapa kroco telah mengetahui bahwa ruangan rahasia yang digunakan oleh Shion telah kosong. Shion telah berencana kabur?
"Gawat!!! Shion tidak berada diruangannya!!"
"Cepat laporkan kepada atasan!!"
"Sepertinya Shion sedang berusaha kabur dari sini!!"
Setelah mendengarkan kehebohan dari para kroco, akhirnya Tsuki yang merupakan wakil kapten divisi Mytichal Glorius pun datang dengan raut wajah kesal.
"Shion kabur? Apa yang dia pikirkan? Apa dia tak berpikir tentang hukuman baginya bila mencoba kabur dari sini? Dia benar-benar semborono.." ucap Tsuki dengan nada dingin.
B E R S A M B U N G