Cosplay

Cosplay
Chapter 481 - Memory.



Hugo sangat kesal karena dirinya yang sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi, dimana Killa yang sebentar lagi akan menggunakan kekuatan Ilusinya untuk mencari semua informasi yang diketahui oleh Hugo.


Sekilas, tangan Hugo sedikit bergerak. Tangannya itu memegang sebuah pisau. Dan, Hugo berencana untuk menebas lehernya sendiri dengan tujuan agar dirinya mati agar Firehn dan yang lainnya gagal untuk mendapatkan informasi darinya.


Namun, Izumi yang sudah menyadari rencana Hugo. Izumi pun langsung menginjak tangan Hugo yang kini memegang sebuah pisau.


"Takkan kubiarkan kau melakukan bunuh diri. Aku sudah tahu apa yang kau pikirkan. Jadi, Killa, cepat lakukan. Orang ini mungkin akan keras kepala unuk bunuh diri bila kita tidak bergegas mencari informasi darinya.." ucap Izumi.


"Baik.."


Tanpa basa-basi, Killa pun mengarahkan salah satu tangannya ke arah Hugo yang terkapar. Kemudian, Killa pun menciptakan sebuah energi, dimana energi tersebut adalah bentuk dari gelombang kejut ilusi milik Killa. Killa melesatkannya ke arah Hugo.


"Deggg!!!"


Dalam suatu Moment setelah Killa melesatkan gelombang kejut kepada Hugo, dia pun mendengar detak jantung nya begitu jelas. Disaat yang bersamaan juga, dunia yang dilihat oleh Hugo pun menjadi sangat gelap gulita.


Kini Hugo sudah berada dalam ilusi Killa.


"Tempat apa ini? Dimana aku sekarang?" Hugo tampak kebingungan dengan apa yang terjadi dengan dirinya saat ini.


Beberapa saat kemudian, Hugo pun langsung terjatuh dalam kegelapan. Hugo berada dalam tatapan kosong. Hugo semakin tenggelam dalam dasar kegelapan.


Dan...


Ingatan Hugo pun muncul begitu saja.


Dalam ingatan itu...


Terlihat Hugo, Amber, dan Saito yang berada dalam suatu rumah di salah satu wilayah Man City. Kala itu, mereka bertiga sedang tidak ada permintaan untuk membunuh kembali. Bahkan, sudah dua bulan dia menganggur begitu saja ketika bekerja sebagai pembunuh bayaran.


Namun, suatu ketika, seekor burung merpati datang memasuki rumah yang dihuni Hugo, Amber, dan Saito sembari membawa secarik surat dalam amplop berwarna putih. Burung merpati melemparkannya ke pangkuan Hugo.


"Huh? Surat?" gumam Hugo sembari memandangi surat yang telah dijatuhkan oleh seekor burung merpati.


Hugo membuka amplop dan mengambil surat didalamnya. Hugo pun membacanya dengan seksama. Beberapa saat kemudian, Hugo pun menyampaikan isi pesan ini kepada kedua rekannya, yaitu Saito dan Amber.


"Kita telah diundang ke Istana Negara Grousse Kontinent untuk bertemu dengan Presiden." ucap Hugo .


Amber dan Saito pun sedikit terkejut dengan ucapan Hugo. Mereka berdua merasa bahwa surat tersebut adalah sebuah jebakan. Amber dan Saito juga berfikir kalau Pemerintah berniat untuk menangkapnya dengan alibi meminta bertemu satu sama lain.


Akan tetapi, "Ini adalah pertemuan rahasia yang tidak disiarkan ke publik. Jadi, mari kita berangkat ke Ibukota, Blues City. Aku yakin, dia takkan menangkap kita." ucap Hugo.


"Tidak. Daripada kau berfikir seperti itu, kenapa tidak tidak berfikir kalau mereka akan membayar kita untuk membunuh seseorang?" tanya balik Hugo sembari tersenyum licik.


"Benar. Apa kau tidak melihat beberapa latar belakang Pemerintah daerah seperti Babenko? Bahkan orang sepertinya saja blak-blakan untuk melakukan korupsi di depan rakyatnya. Ini bisa juga terjadi dengan Pemerintah pusat." ucap Amber.


"Kalau begitu, ayo kita bergegas menuju Blues City. Karena ada seorang klien yang sedang menunggu kita. Jadi, jangan buang-buang waktu terlalu lama.." ucap Hugo.


Setelah itu, mereka bertiga pun memutuskan untuk pergi ke Ibukota Blues City untuk menghadiri surat undangan yang telah ia terima. Dua hari waktu tempuh perjalanannya kala itu, karena mereka menuju ke Blues City dengan hanya berjalan kaki.


Dan, ketika mereka sudah tiba di perbatasan Blues City. Tiba-tiba seorang pria berjubah datang untuk menjemput Hugo, Saito, dan juga Amber. Pria berjubah itu yang akan mengantarkan mereka bertiga untuk menemui Presiden.


Satu jam kemudian. Akhirnya Hugo, Saito, dan Amber sudah tiba di sekitar wilayah Istana Presdien. Mereka bertiga memasuki istana negara tersebut melalui jalan belakang nan tersembunyi. Karena ini adalah pertemuan rahasia dan tak ada siapapun yang akan mengetahuinya kecuali pihak-pihak Presiden itu sendiri.


"Hoi, ada apa sebenarnya si Presiden itu ingin bertemu dengan kami?" tanya Saito.


"Entahlah. Aku tidak bisa menjawab pertanyaan mu. Karena disini, aku hanya bertugas untuk mengantarkan kalian, tidak lebih dari itu bukanlah tugasku.." ucap pria berjubah tersebut.


"Cih, baiklah. Sampai kapan kita berjalan? Kenapa kita berjalan di lorong seperti sebuah labirin? Apa benar ini jalannya, woi?!!" tanya lagi Saito.


"Bisakah kau diam sejenak? Saat ini kita sedang berjalan ke ruang pribadi tuan Presiden, loh." ucap Pria berjubah itu.


"Saito, coba diamlah untuk sementara waktu. Saat ini kita akan segera bertemu dengan klien kita. Jadi, kita harus bersikap sopan dengan klien kita.." ucap Hugo sembari tersenyum licik.


"..... Itu benar, Hugo-kun. Kita harus bersikap baik pada klien kita. Supaya klien tidak kecewa dengan pelayanan kita.." ucap Amber.


Beberapa saat kemudian. Hugo, Amber, dan Saito pun sudah tiba didepan ruangan yang diduga sebagai ruangan pribadi milik Presiden Negara Grousse Kontinent yang saat ini menjabat.


"Baiklah. Setelah kalian bertiga masuk. Aku harap kalian tidak berbicara yang aneh-aneh. Tuan Presiden tidak suka dengan seseorang yang suka berbicara hal yang tak perlu.." ucap pria berjubah yang mengantarkan Hugo, Saito, dan Amber.


"Ah, sebentar lagi kita akan segera bertemu dengan Tuan Presiden. Karena, Tuan Presiden ini jarang sekali menunjukkan wajahnya ke hadapan publik, aku jadi semakin penasaran untuk melihat sosoknya.." ucap Hugo.


"Apakah tuan presiden itu orang yang tampan? Aku juga penasaran dengan sosoknya. Dengan sosok Tuan Presiden yang jarang atau mungkin tidak pernah menunjukkan dirinya ke publik. Semoga dia adalah orang yang asyik.." ucap Amber.


"Oey, Amber. Jangan terlalu berlebihan begitu. Mungkin dia hanya orang biasa yang tak sengaja menjabat sebagai Presiden. Itu bisa saja kan? Jadi, untuk apa dia ingin bertemu dengan pembunuh bayaran seperti kami.." ucap Saito.


"Baiklah. Aku akan segera membuka ini dan setelah itu kalian masuklah. Aku peringatkan satu hal, jangan berbuat hal yang tidak harus kalian buat.." ucap Pria berjubah hitam tersebut.


B E R S A M B U N G


Jangan lupa like koment dan share serta kritik dan saran yang membangun agar cerita Cosplay ini semakin berkembang untuk kedepannya nanti, see you next Chapter!!!