
Masih di hari yang sama. Saat ini rombongan Xia sedang menuju ke tempat ibu Aisah berada dengan Nekokinu dan Kenokinu yang bertuga sebagai penunjuk arahnya. Sekilas, Nekokinu dan Kenokinu yang duduk tepat dibelakang pas sang pengemudi pun menunjukkan arah-arah nya dengan antusias.
Namun si pengemudi kereta kuda cukup kebingungan dengan arah yang dituju Nekokinu dan Kenokinu. Si pengemudi menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal karena kebingungan.
"Ah, maafkan aku. Bukannya kalau kalian ingin pergi ke ujung Barat, seharusnya kita ke arah berlawanan, ya? Saat ini kita sedang bergerak ke arah timur sesuai dengan arahanmu, loh.." ucap si Pengemudi kereta kuda itu yang memasang raut bingung.
"Eh? Iyakah? Menurutku arah Barat itu di sebelah sana.." ucap Nekokinu yang menunjuk ke arah Timur.
"Oey, salah!! Arah Barat itu ada disebelah sana!!" Kenokinu menunjuk arah Utara.
"Kalian berdua, yang benar yang mana woy!! Apa kalian itu buta arah?! Bodoh sekali!! Kalian telah menyia-nyiakan waktu tiga puluh menit untuk bergerak ke arah timur, hadeh.." ucap Xianfeng.
"Hah? Siapa yang kau sebut buta arah?! Apa kau tidak tahu, dulu aku pernah mengikuti kontes memanah dan aku memenangkan kontes itu!!" ucap Kenokinu.
"Itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan arah woy!! Lagipula, aku juga tidak peduli!!" Xianfeng pun langsung berjalan dan duduk ditengah-tengah Nekokinu dan Kenokinu, tepat dibelakang si pengemudi, "Paman, pergi lah ke arah Barat saja. Kau tahu arah Barat, kan?"
"Y-ya. Aku tahu arah Barat."
"Baiklah, Paman. Biar kau saja yang mengurus masalah perjalanan hingga ke ujung Barat Man City. Setelah kita sampai di ujung Barat, kita serahkan kepada dua orang bodoh ini sebagai petunjuk arah. Bisa-bisanya hadeh.." ucap Xianfeng dengan nada kesal.
"Baiklah. Lakukan apa yang menurutmu itu benar. Maafkan kebodohan saudaraku ini." ucap Nekokinu menunjuk ke arah Kenokinu.
"Benar, maafkan saudara bodohku ini, maaf karena dia sangat bodoh." ucap Kenokinu menunjuk ke arah Nekokinu.
Setelah itu, Nekoniku dan Kenokinu saling menatap tajam satu sama lain dan melihat mereka berdua juga saling menunjuk satu sama lain.
"Oey, apa maksudmu menunjukku begitu woy!!" ucap Nekokinu yang langsung menarik kerah baju Kenokinu.
"Huh? Kau juga apa maksudmu menunjuk begitu!! Ada masalah apa kau?! Ngajak berantem?!" Kenokinu pun langsung menarik balik kerah Nekoniku.
Nekoniku dan Kenokinu pun berantem didalam kereta kuda seperti dua ekor kucing yang berantem karena memperebutkan wilayah. Disisi lain, Aisah tampak sudah tidur terlelap bersandar di pundak Xia.
Xia yang melihat Nekoniku dan Kenokinu sedang berisik dan berantem langsung memasang raut wajah kesal dan menatap tajam mereka berdua, "Kalian berdua.." Xia memancarkan aura yang mengerikan.
"Eh?"
"Eh?"
Nekoniku dan Kenokinu melihat Xia yang marah pun langsung kebingungan dengan melongo.
"Apa kalian tidak tahu Aisah sedang tidur saat ini? Bisakah kalian tidak berisik? Kalau sampai dia terbangun aku akan menghajar kalian.." ucap Xia.
"A-ampun Aneesan!!!"
Dapidson dan Pilkington yang duduk saling bersebelahan pun menggeleng-gelengkan kepalanya, "Ish.. ish.. ish.."
"Kekanak-kanakan sekali. Kelakuan seperti bocah padahal sudah tua dan berambut.." ucap Pilkington dengan nada mengejek.
"Aku masih muda, woy!!"
"Aku juga masih muda, biadab!!"
Nekoniku dan Kenokinu pun langsung membantah apa yang dikatakan oleh Pilkington.
Sementara itu disisi Man City. Terlihat kereta kuda rombongan Davidestorm sudah tiba di sebuah rumah besar yang sekilas tidak terpakai selama puluhan tahun. Bahkan, terdapat akar-akar pohon yang merambat pada bagian luar rumah tersebut.
Paladino, Vika, dan Davidestorm pun langsung turun dari kereta kuda. Sementara itu, Paladino menyuruh si pengemudi kereta kuda untuk segera pergi meninggalkan tempat ini.
"Pergilah, disini cukup berbahaya. Aku tidak ingin kau terluka bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan." perintah Paladino.
"Baik.." Si Pengemudi itu langsung mengemudikan kereta kudanya lagi dan bergegas menjauh dari tempat ini.
Vika yang mendengar percakapan antara Paladino dan si Pengemudi kereta kuda pun cukup kebingungan karena dia mendengar kata "Bahaya"
"Bahaya? Sebenarnya tempat ini? Kenapa kau bisa mengatakan kalau tempat ini berbahaya?" tanya Vika.
"Sebenarnya bukan tempat ini yang berbahaya, melainkan orang yang berada didalamnya, itu yang sangat berbahaya.." ucap Paladino.
"Orang yang berada didalam?"
"Kalau kalian penasaran. Ikutlah aku masuk kedalam." ucap Paladino.
Paladino pun langsung berjalan memasuki pintu rumah besar itu yang sedikit terbuka. Sementara Vika dan Davidestorm berjalan mengikuti dibelakang Paladino. Setelah memasuki pintu, mereka melihat beberapa pintu yang menghubungkan suatu ruangan.
Paladino masuk ke ruangan tengah. Disana terdapat tiga ruangan. Paladino pun berjalan ke ruangan sebelah timur. Dan, di ruangan tersebut terdapat sebuah anak tangga yang menghubungkan ke lantai dua. Mereka bertiga pun langsung menaiki anak tangga tersebut.
Dan, mereka bertiga akhirnya sampai di lantai dua dan melihat satu ruangan dengan pintu tertutup. Paladino berjalan ke arah pintu tersebut dan membukanya. Lalu, di dalam ruangan tersebut terlihat Saito yang duduk di kursi dengan kedua tangannya kebelakang terikat serta Raiden dan Benn yang berjaga disebelahnya. Saito tampak masih pingsan.
"Paladino-san!! Akhirnya kau sampai disini juga, Benn-san berhasil menangkap salah satu dari tiga pembunuh bayaran yang diberi misi untuk melakukan penculikan dan pembunuhan." ucap Raiden.
"Terus, kenapa dia tidak sadarkan diri?" tanya Paladino.
"Ah, aku terlalu keras padanya. Sampai dia pingsan seperti ini. Tapi, kita bisa mendapatkan informasi tentang dalang dibalik pembunuhan dan penculikan yang terjadi di Man City, bahkan di seluruh penjuru Negeri." ucap Benn.
"Ya, kita harus mengulik informasi darinya sebanyak-banyaknya. Karena ini sudah menyangkut hak asasi manusia.." ucap Paladino.
Raiden pun tak sengaja melihat ke arah Davidestorm dan Vika yang berdiri dibelakang Paladino, "Oey, Paladino-san, siapa mereka berdua?"
"Mereka berdua adalah kenalan Tuan Firehn. Tuan Firehn meminta mereka untuk ikut denganku.." ucap Paladino.
"Namaku Davidestorm!!"
"Namaku Vika.."
"Salam kenal!! Namaku Raiden!!"
"Aku Benn.."
"Baiklah. Dan entah kenapa aku tidak melihat Kapten? Dimana dia sebenarnya? Apa dia tidak berada disini?" tanya Paladino.
"Entahlah, Kapten sangat aneh. Padahal dia bilang sendiri akan menemui kami. Tapi Kapten tidak kunjung datang juga. Mungkin dia sedang ada urusan lain.." ucap Raiden.
"Kita harus mencari tahu siapa dalang yang sebenarnya dari penculikan dan pembunuhan ini. Kalau tidak, Negara Grousse Kontinent ini akan berjalan dalam kehancuran.." ucap Paladino.
B E R S A M B U N G