
Di atap gedung walikota.
Terlihat Izumi yang berlari cepat ke arah Hugo sembari melesatkan beberapa peluru es. Namun, Hugo dengan mudah berhasil menghindari hal itu. Setelah itu, Hugo pun langsung melancarkan serangan balik ke arah Izumi dengan laser bazookanya, "Bumm!! Bumm!! Bumm!!"
Izumi yang masih berlari pun langsung menggulingkan badannya untuk menghindari semua tembakan laser yang telah dilesatkan oleh Hugo. Selang beberapa detik, kekuatan es nya pun melapisi kedua kaki Izumi.
"Ice Skating.."
Izumi meluncur ke arah Hugo seperti sedang bermain ski di dataran bersalju. Disaat yang bersamaan juga, kedua tangan Izumi langsung terlapisi oleh kekuatan es nya.
Disisi lain, bazoka yang terhubung langsung dengan tangannya pun menghilang, "Hoey, sebenarnya bazoka ini bukanlah kekuatan asliku. tapi.."
"Apa?! Bukan kekuatan aslimu? Lalu, apa kekuatanmu? tanya Izumi.
"Kekuatan asliku adalah petir.." ucap Hugo.
"Petir? Kenapa kau memberitahu kekuatanmu sendiri?!" tanya Izumi kembali. Kini jaraknya sudah semakin dekat dengan Hugo.
Namun, Hugo pun langsung memasang ekspresi dengan senyum liciknya, "Kau orang yang bodoh ternyata ya.." Setelah itu, sebuah energi petir berbentuk bola tercipta di tangan kanan Hugo.
Disaat yang bersamaan, Izumi mencoba untuk melesatkan pukulan esnya. Dan disaat yang bersamaan juga, Hugo dengan bola petir yang telah ia ciptakan itu langsung bergerak ke arah Izumi yang saat ini mencoba untuk menyerangnya.
Hugo memiringkan badannya untuk menghindari pukulan es Izumi. Setelah itu, "Chimori!!!!" Hugo pun langsung melesatkan bola petirnya itu ke perut Izumi, "Bztttsss!!!"
"Uaghhh!!!"
Izumi langsung terpental beberapa meter kebelakang. Bahkan ketika Izumi melirik kebelakang, dirinya terlihat akan jatuh dari atap gedung. Namun, Izumi dengan sigap langsung menciptakan dinding es berlapis-lapis dibelakangnya agar tidak sampai terjatuh kebawah.
"Cih.." Hugo pun langsung melesatkan semacam dua tombak petir ke arah Izumi.
Izumi yang tertahan dengan dinding es yang baru saja dia buat pun langsung bergerak ke arah lain untuk menghindar dua tombak petir yang sedang melesat ke arahnya.
"Bztsss!!!" Tiba-tiba Hugo bergerak dengan cepat bagai kilatan petir dan sudah berada dihadapan Izumi begitu saja, "Chimori!!!" Hugo kembali mencoba melesatkan bola petir ke arah Izumi. Namun bola petir ini tampak lebih besar dari sebelumnya.
Izumi menunduk untuk menghindari serangan Hugo. Setelah itu, Izumi bergerak ke kiri dan langsung menendang Hugo dengan tendangan es nya, "Ice-Ice No Shoot!!!"
Hugo terpental cukup jauh kebelakang namun dia masih belum terjatuh dari atap gedung, "Sialan!!!" Hugo tampak kesal. Dia mengeluarkan pisaunya kembali. Bergerak cepat bagai kilat dan mencoba untuk menebas leher Izumi.
Namun, Izumi melapisi leher nya dengan kekuatan es nya. Alhasil tebasan dari pisau yang dilesatkan Hugo pun sama sekali tak melukai Izumi.
Melihat Hugo yang lengah, Izumi pun langsung memukul pipi kanan Hugo, "Buaghh!!" Menendang perut Hugo dengan dengkulnya, "Duakkk!!!" Lalu Izumi langsung melesatkan pukulan es nya tepat pada dagu Hugo, "Buaghh!!" Hugo pun langsung terpental ke udara.
"Uaghh!!!"
Disaat yang bersamaan Izumi juga melompat ke udara dan langsung menendang perut Hugo hingga menabrak atap gedung dengan cukup keras, "Bruakkk!!!"
Izumi telah berpijak kembali ke atap gedung lalu mundur beberapa langkah kebelakang.
Namun, tak butuh waktu lama, Hugo pun kembali bangkit dan berdiri kembali. Ia tak menyangka telah dihajar habis-habisan oleh Izumi.
"Kau juga cukup hebat sebagai lawan. Tapi sayang sekali kau adalah orang yang berniat membunuh Paman Firehn. Jadi, aku tak bisa membiarkanmu begitu saja.." ucap Izumi dengan nada semangat.
"Kau mempunyai hubungan apa dengan Firehn? Kenapa kau begitu sekali untuk melindungi Firehn?" tanya Hugo.
"Aku tak bisa membiarkan dia terbunuh, karena Paman telah memberiku banyak makanan, bahkan makanan Pizza favoritku.." ucap Izumi.
"Jadi, cuma karena makanan kau melindungi Firehn? Hanya karena makanan? Apa aku tidak salah dengar?" tanya Hugo.
"Tidak. Dia juga orang baik. Jadi, aku akan melindungi Paman Firehn dari seseorang sepertimu.." ucap Izumi.
Sementara itu di lantai bawah entah itu lantai berapa pada gedung ini. Terlihat Amber yang terus bergerak ke arah Yoshino sembari mencoba melesatkan pukulan kuatnya.
Yoshino berhasil menghindari pukulan Amber. Namun, dinding gedung yang terkena pukulan Amber pun mengalami retak-retak yang sangat parah.
"Aku akan menghancurkan tulang-tulang mu dengan meningkatkan kekuatan fisikku berkali-kali lipat.." ucap Amber, "Huaaa!!!" Amber menggandakan delapan kali lipat kekuatan fisiknya, "Aku akan membuatmu menyesal Karena harus melawanku.."
Yoshino yang masih memegang pedang Black Lotus nya pun tersenyum licik menyeringai dan berkata, "Yoi, aku akan melihat apa kata-kata mu itu serius atau tidak, Konoyaro.."
Amber pun berlari kembali ke arah Yoshino. Dia mencoba melesatkan beberapa pukulan kuatnya. Namun, Yoshino yang sudah tahu bagaimana akhir dari dirinya bila terkena pukulan itu pun memilih untuk menghindar.
"Hoey, mau sampai kapan kau akan menghindar seperti itu? Apa karena lawanmu adalah wanita?" tanya Amber sembari tersenyum licik.
"Tidak. Aku menghindar karena aku tidak meremehkan kekuatanmu. Aku merasa akan langsung kalah begitu saja bila terkena pukulan kuatmu.." ucap Yoshino.
"Sebagai seorang musuh. Kau cukup pandai untuk memuji lawanmu, ya? Tapi sayang sekali aku tidak tertarik dengan pujianmu. Karena aku sudah mempunyai kekasih, yaitu Hugo-kun.." ucap Amber.
"Yare-yare, siapa juga yang ingin menjadi kekasihmu. Aku memujimu bukan berarti menyukaimu." ucap Yoshino.
Tak berselang lama, Yoshino pun langsung melompat salto kebelakang. Setelah itu, Yoshino pun langsung melesat beberapa tebasan dari jarak jauh ke arah Amber, "Batss!! Batss!! Batss!!"
Amber langsung melompat dan berlari dari dinding menuju ke arah Yoshino sekaligus menghindari tebasan yang sedang mengarah ke arahnya.
Lalu, Amber melompat ke arah Yoshino dan mencoba untuk memukulnya kembali, "Destroyer of Punchto!!"
"Itoriyuu..-" ucap Yoshino. Dimana ia gagal melesatkan serangan karena Amber sudah berada tepat dihadapannya. Yoshino lebih memilih untuk menghindar, "Bruakkk!!" Pukulan Amber hanya berhasil mengenai dinding gedung.
"Sialan, itu hampir saja. Kalau aku terkena pukulanmu, bisa-bisa aku kalah untuk sekarang. Tapi, Dewi Fortuna masih memihakku." ucap Yoshino
"Sesekali jangan menghindar lah, apa kau benar-benar takut melawan wanita sepertiku?" tanya Amber dengan nada mengejek.
"Sayang sekali kita harus bertarung di gedung seperti ini. Kalau tidak, mungkin aku bisa bertarung dengan kekuatan full powerku.." ucap Yoshino.
"Huh? Full power ya?" gumam Amber.
"Ya, selama aku tidak menggunakan ketiga pedangku. itu berarti aku sama sekali belum serius.." ucap Yoshino.
B E R S A M B U N G