
Working City, gedung walikota, di sebuah ruangan yang cukup besar. Terlihat beberapa orang yang duduk didalam ruangan tersebut seolah-olah sedang melakukan sebuah rapat.
Sekilas, terlihat Ragiru yang lagi-lagi mendapatkan perban baru dan juga Juliasu, Stepyan, serta Emperu. Mereka berempat memasang raut wajah kesal, sekaligus masih merasa sakit pada tubuhnya setelah dikalahkan anggota dari Kelompok Bajak Laut Cosplay.
"..... Sialan, kenapa orang-orang yang dibela Xia itu kuat sekali. Mereka mempunyai kekuatan diatas rata-rata." ucap Juliasu, "Kalau orang-orang itu berpihak pada Xia, bisa-bisa menghambat kita untuk melakukan korupsi lebih banyak lagi!!"
"Cih, padahal aku ingin korupsi lebih banyak lagi, biar bisa open BO. Karena kalau open BO harga semakin mahal, maka kualitas juga semakin terjamin.." ucap Stepyan.
"Dasar mesum. Pikiranmu hanya wanita, ngentoy, wanita, dan ngentoy. Korupsi boleh, mesum jangan.." ejek Emperu.
"Diam kau. Orang sepertimu mana paham masalah dewasa seperti ini." ucap Stepyan.
"Kau kira aku ini belum dewasa, dasar bodoh!!!"
Stepyan dan Emperu pun adu bacot, saling berkata kasar satu sama lain, bahkan mereka berdua pun hampir bergelud karena masalah yang sepeleh. Tetapi, Ragiru dengan lantang langsung melerai perkelahian mereka berdua.
"Berisik woi!!! Kalah kalian masih bertengkar nanti kukasih goyangan mautku dengan alunan lagu India mampus kaliannn!!!" teriak Ragiru.
"Mas Ragiru seram!!!"
"Mas? Panggil aku sist.."
"Sist Ragiru seram!!!!"
"Daripada berdebat dan bertengkar dengan hal sepeleh sekaligus tak membuahkan hasil, mending kita bahas orang-orang yang bersama Xia itu, siapa mereka sebenarnya? kenapa mereka bisa sekuat itu?" Juliasu.
Tiba-tiba Fischl masuk kedalam ruangan tersebut sembari melempar koran ke atas meja. Hal itu membuat Juliasu, Ragiru, Stepyan, dan juga Emperu terkejut.
"Aduh kaget!!!" teriak Ragiru sok imut.
Tuan Fischl, anda mengagetkan saja. Kenapa masuk tanpa mengetuk pintu dulu?" tanya Juliasu.
"Lihat dan bacalah koran yang kulempar diatas meja itu. Kalian pasti akan segera mengetahui sesuatu.." ucap Fischil. Ia pun mengeluarkan sebatang rokok dari dalam saku celananya, "Baca baik-baik, aku ingin merokok sebentar."
"Ya, tuan!!"
Fischl pun duduk di atas jendela yang terbuka sembari melihat pemandangan luar gedung sambil merokok, "Tempat yang indah, membuatku semangat untuk melakukan korupsi saja.."
Ragiru mengambil koran yang dilempar Fischl diatas meja. Kemudian Ragiru, Juliasu, Stepyan, dan Emperu pun membaca koran itu dengan serius. Tak berselang lama pun mereka terkejut setelah membacanya.
"Apaa!!!! Hoi!!! Ini tidak bisa dibiarkan!!!" Ragiru teriak dengan nada laki banget.
"Me-mereka adalah Kelompok Bajak Laut Cosplay yang sering masuk berita koran itu?! Ah, kenapa aku tidak menyadarinya!!!" ucap Juliasu.
"..... Ini bahaya. Kenapa bisa Bajak Laut bisa datang ketempat ini? Apa Xia dan Bajak Laut itu bekerjasama untuk mengalahkan kita?!!" Stepyan panik.
"Tuan Fischl!!! Ini sangat gawat!!! Kenapa kau bisa setenang itu!! Kita harus segera melakukan tindakan!!" ucap Emperu.
"Tenanglah. Apa kalian tidak melihat aku sedang bersantai sambil merokok? Bajak Laut itu hanya sampah. Mereka tak sekuat kami, para Konstantine bersaudara, kecuali dia, si Konstantine tanpa kekuatan, yang mempermalukan nama keluarga, cuih!!!" ucap Fischl, tiba-tiba saja dia merasa kesal.
"Memang siapa lagi kalau bukan dia? Firehn adalah aib bagi keluarga Konstantine. Sebenarnya aku ingin segera membunuhnya dengan tanganku sendiri, tapi aku lagi malas membunuh.." ucap Fischl.
"Sekali aib tetaplah aib, tuan Fischl!! Seharusnya kau membunuhnya tanpa pandang bulu!! Dia juga salah satu orang yang menentang kita kalau ingin berkorupsi!!" ucap Stepyan dengan tegas.
"Diam. Kau cuma anak buah. Jangan berbicara lebih ketika aku tidak memberikanmu izin berbicara seperti itu. Ini masalah internal yang harus kuatasi sendiri, kalian para kroco lebih baik diam saja.." ucap Fischl yang masih merokok santai.
"Baik Tuan!! Maafkan diriku yang kroco ini!!"
"Bagus. Kroco yang sadar diri harusnya begitu. Kalian bisa korupsi bebas tanpa jerat hukum itu karena kita. Berterimakasih lah.." ucap Fischl.
"Baik!!"
"Tok! Tok! Tok!" Terdengar suara orang yang mengetuk pintu ruangan.
"Mereka berdua telah datang. Juliasu, bukakan pintu itu.." perintah Fischl.
"Baik!!!"
Juliasu pun membuka pintu itu. Dan yang telah tiba di depan pintu ialah Konstantine Babenko serta Konstantine Koizumi. Mereka berdua adalah saudara dari Konstantine Fischl.
Babenko dan Koizumi pun duduk di tempat yang telah disediakan.
"Mau membahas apa, Fischl? Kau menganggu waktu bermain judi ku saja. Semoga yang kau bahas ini adalah hal yang penting.." ucap Babenko.
"Aku juga sedang sibuk menghitung uang hasil korupsiku. Cepat bahas ini, lalu biarkan aku pulang menghitung uangku kembali.." ucap Koizumi.
"Sepertinya kita harus tegas kepada salah satu jurnalis sekaligus si perempuan aktivis itu." ucap Fischl.
"Maksudmu si Xia Wakarimashita? Tenang saja. Kau sudah memerintahkan mata-mata untuk menculiknya, bukan?" tanya Babenko.
"Ya. Tapi aku kurang yakin kalau berhasil. Saat ini Xia bersama dengan Bajak Laut yang cukup kuat. Bagaimana kalau kita turun tangan saja untuk menculiknya.." ucap Fischl.
"Jangan mengotori tanganmu, Fischl. Kalau satu mata-mata kurang, aku akan mengirim beberapa orang terkuat untuk menculiknya juga. Lagipula, tuan presiden juga punya permintaan untuk membawa beberapa orang kepadanya.." ucap Babenko.
"Huh? Aku masih bingung dengan si Presiden itu. Buat apa dia mengumpulkan orang yang kita culik? Apa dia punya hobi menyiksa atau semacamnya? Dia presiden yang aneh. Babenko, kenapa kau tidak membunuhnya saja, dan rebut kekuasaan Negara ini." ucap Fischl.
"Tidak untuk saat ini, Fischl. Si Presiden itu selalu berada dibalik layar. Dia selalu mengutus seseorang saat ada rapat para pejabat. Aku juga belum yakin dia punya kekuatan seperti kita atau tidak. Jadi, jangan gegabah.." ucap Babenko.
"Yaps, benar. Kita tak boleh terburu-buru. Lagipula dengan kondisi kita yang sekarang, kita masih bebas melakukan korupsi. Kita punya uang banyak, punya segalanya, tidak ada perlu yang kita pikirkan, kita nikmati kehidupan enak seperti ini, Fischl.." ucap Koizumi.
"Cih. Dasar wanita.." ucap Fischl dengan nada kesal.
"Fischl, kalau si Bajak Laut itu berbuat seenaknya, kita habisi mereka. Bunuh mereka tanpa ampun. Lagipula, mereka adalah Bajak Laut yang cukup terkenal di lautan. Kalau kita membunuh mereka dan menyerahkan kepala mereka kepada Angkatan Laut, mungkin kita akan mendapatkan imbalan uang dengan harga fantastis.." ucap Babenko tersenyum licik.
".... Hmm, kau ada benarnya juga. Kenapa kita tidak manfaatkan ini, ya? Kan lumayan bisa dapat uang tambahan.." ucap Fischl.
B E R S A M B U N G