
Siapa sangka kita sudah berada di titik yang sekarang. Dua arc dari trilogi sudah kita lewati, dan kini kita sudah memasuki arc terakhir, yaitu Arc Blues. Arc ini akan menjadi sebuah titik penentu dari Negara Grousse Kontinent. Mereka yang membela keadilan, ataukah mereka yang telah diselimuti oleh Ketidakadilan?
Mengenai kata keadilan dan ketidakadilan. Dua kata itu sering kita dengar dari permasalahan antara Pemerintah dan rakyat. Dimana Pemerintah hanya memikirkan kepentingan pribadinya. Sedangkan rakyatnya yang kelaparan karena menunggu bantuan Pemerintah.
Sama seperti halnya pada Negara Grousse Kontinent. Sesuatu yang menarik terjadi disini. Penculikan dan pembunuhan yang terjadi di seluruh penjuru Negeri akhirnya telah terbongkar siapa yang telah menjadi dalang dibalik itu semua.
Dalangnya sendiri adalah Dinmukhamed Filimonov. Dia adalah sosok presiden yang jarang tampil dihadapan publik, dan serta dirinya juga yang cukup misteri.
Dengan kekalahan Hugo atas Izumi, Killa akhirnya bisa mengulik informasi apapun dengan menggunakan teknik ilusi, dimana Killa sendiri dan membuat teman-teman nya bisa memasuki ke alam bawah sadar Hugo dan melihat seluruh ingatannya.
Dan dalam ingatan itu juga terlihat jelas pembicaraan antara Hugo dan teman-teman nya bersama dengan Filimonov. Terungkapnya hal ini, dimana Pemerintah pusat lah yang telah menjadi dalangnya, maka gendang peperangan pun telah berbunyi. Pasukan Revolusi akan segera bergerak untuk menaklukkan Pemerintah. Perang saudara juga tak bisa dihindari lagi.
Sebuah perang yang akan membawa ke dua tujuan. Masa depan yang lebih baik, atau masa depan yang lebih buruk. Dua pilihan yang pasti, tidak akan ada yang tahu, bagaimana takdir masa depan akan berbicara. Ini hanyalah masalah waktu. Dan seiring berjalannya waktu, kita akan segera mengetahuinya.
Satu Minggu kemudian sejak Pertarungan antara Izumi melawan Hugo. Filimonov yang saat ini sedang berada di dalam ruangan pribadinya pun belum menerima laporan apapun dari Hugo. Filimonov yang tak tahu apa yang sebenarnya terjadi kepada Hugo pun tampak begitu gelisah. Dia berfikir, apa yang menyebabkan rasa gelisah ini begitu pekat dalam hatinya.
"Sudah seminggu ini tidak ada kabar dari Hugo dan teman-temannya setelah aku beri tugas untuk membunuh Firehn. Apa yang sebenarnya terjadi dengannya? Apa tugas itu gagal? Ataukah berhasil? Ada sesuatu yang aneh disini.." ucap Filimonov.
Filimonov berjalan ke sisi ruangan. Dia melihat pemandangan keluar jendela. Hembusan angin sepoi-sepoi melewati nya begitu saja. Kala itu, Filimonov merasa sesuatu yang buruk akan terjadi menimpanya. Ketika rasa gelisah itu sudah mulai menguasai dirinya, Elizabeth datang masuk ke ruangan pribadi Filimonov untuk menemuinya.
"Jangan pikirkan yang aneh-aneh. Berfikir negatif itu sangatlah tidak baik loh. Itu akan menganggu semua kesehatan pikiran mu. Jadi, ayo semangat kembali, Filimonov-kun? Filimonov-san? Filimonov-anata?" Elizabeth bersandar pada pundak Filimonov sembari tersenyum licik.
Entah apa tujuan Elizabeth bisa berada di Negara Grousse Kontinent dan saat ini sudah berada disisi Filimonov begitu saja. Tampaknya, Elizabeth mempunyai sebuah rahasia yang belum terungkap tentang dirinya.
"Elizabeth-chan, bagaimana aku tidak gelisah, kalau pembunuh bayaranku yang telah kuberi tugas untuk membunuh Firehn, sekarang tidak ada kabar sama sekali dalam kurun waktu seminggu ini.." ucap Filimonov.
"..... Mungkin saja dia, terbunuh. Bisa jadi, kan? Hanya itu alasan yang masuk akal, kan? Mereka bekerja sebagai pembunuh bayaran, jadi resiko dari pekerjaan mereka adalah membunuh atau dibunuh, itu sudah hal yang wajar.." ucap Elizabeth.
"Ya, aku tidak peduli dengan itu, mereka terbunuh atau tidak, aku sama sekali tidak peduli. Yang aku pikirkan saat ini adalah bagaimana kalau sebelum mereka terbunuh, mereka memberitahu semua informasi tentang ku?!" Filimonov memasang raut wajah panik, ia memegang rambutnya dengan kedua tangannya lalu meremasnya dengan kuat. Filimonov benar-benar sangat gelisah.
"Tapi-" ucap Elizabeth.
"Ah. Biarkan saja informasi itu bocor atau tidak. Aku sama sekali tidak peduli dengan hal itu, karena aku kuat. Aku bisa membunuh siapa saja dengan kedua tanganku sendiri." Tiba-tiba raut wajah Filimonov yang awalnya sangat gelisah, panik, dan ketakutan, kini dalam sekejap berubah menjadi ekspresi dingin, tajam, sinis, serta senyum liciknya yang tak luput darinya.
Fakta yang menarik, Filimonov adalah seorang Alter Ego yang berarti mempunyai kepribadian ganda. Kepribadian yang bisa membuatnya sangat gelisah, serta kepribadian yang bisa membuatnya sangat jahat. Filimonov sendiri adalah orang yang cukup misterius. Bahkan, Filimonov yang merupakan seorang Alter Ego pun tak banyak diketahui oleh publik.
Menjadi pribadi yang gelisah, berpindah menjadi pribadi yang jahat. Itulah Filimonov, Presiden Negara Grousse Kontinent.
~
Di Man City, Kastil Tua yang merupakan salah satu cabang Markas dari Pasukan Revolusi. Terlihat Pilkington yang duduk di sebuah bangku, di halaman kastil pun terlihat sedikit merenung.
"Sialan. Ternyata dibalik kasus pembunuhan dan penculikan yang terjadi di seluruh Negeri adalah Pemerintah pusat. Cuih, gak ada bedanya dengan pemerintah daerah. Sekali pemerintah tetaplah pemerintah.." ucap Pilkington.
Lalu, Pilkington berdiri dari bangku. Kemudian tiduran di rerumputan hijau sembari menatap langit dengan kedua tangannya yang menjadi bantalnya.
"Pasukan Revolusi juga sudah bergerak. Kini seluruh pasukan Revolusi dari seluruh Penjuru Negeri ini semakin dekat dengan kastil ini. Rapat penting akan diselenggarakan. Perang saudara juga tak bisa dihindari lagi. Dan, aku tidak ingin mati sebelum menikah, hadeh. Kenapa pula aku lahir di jaman konflik seperti ini.." ucap Pilkington yang sedikit mengeluh.
"Oey, Pilkington. Kalau kau sedang mengeluh, ajak aku juga dong. Aku juga sedang kepikiran dengan perang yang akan segera terjadi sebentar lagi." ucap Dapidson, yang tiba-tiba sudah berdirinya dibelakang Pilkington.
"Huh, Dapidson, ya? Ada apa kemari?"
"Kita juga akan bergabung dengan Pasukan Revolusi. Bertarung bersama mereka. Ini adalah waktu yang tepat untuk menegakkan keadilan. Menaklukkan Pemerintah yang kejam, mungkin butuh sebuah usaha lebih. Namun, bila kita berhasil memenangkan perang ini, hidup kita akan berubah seratus delapan puluh derajat.." ucap Dapidson.
"Ya, itu kalau diantara kita tidak ada yang mati. Dalam perang, siapapun bisa saja mati. Aku atau kau, Dapidson. Bisa saja mati dalam peperangan. Dan, kita tak bisa menikmati masa-masa indah Negara ini.." ucap Pilkington sembari tersenyum.
"Oey, Pilkington. Jangan bicara begitu dong. Kau membuatku sedikit takut saja."
"Setidaknya, kalau takdir berkata aku akan mati dalam perang itu. Maka sebelum mati, aku ingin melihat kemenangan bagi pasukan Revolusi. Dan mungkin, aku tidak akan keberatan untuk mati.." ucap Pilkington.
"Yang benar saja, Pilkington. Kita berdua takkan mati dalam perang itu. Aku yakin, kita berdua akan bisa menikmati masa-masa indah Negara ini. Jadi percaya lah, padaku!!!" ucap Dapidson dengan nada bersemangat.
"Cih, dasar Dapidson.."
B E R S A M B U N G