Cosplay

Cosplay
Chapter 450 - [ Spesial ] Runner Of The End XI



Beberapa detik sebelum serangan penuh Lazio menghantam, Izumi dengan cepat langsung melapisi sekujur tubuhnya dengan kekuatan es nya yang sangat tebal. Hal itu membuat Izumi berhasil selamat dari serangan Lazio.


Selain itu, Lazio yang sudah mengerahkan seluruh staminanya untuk menyerang Izumi dengan kekuatah penuh pun dibuat syok setelah Izumi yang masih selamat.


"Tidak mungkin kau masih selamat dari serangan penuhku itu. Sialan, jadi ini bocah yang telah mengalahkan Siena-san. Kalau serangan penuhku saja gagal untuk mengalahkannya, berarti hanya Nona Schiacone saja yang bisa mengalahkanmu." Ucap Lazio.


"Tapi sayang sekali, Schiacone harus berhadapan dengan mas Makoto. Kalau Mas Makoto saja sudah ikut bertarung, itu berarti dunia sedang tidak baik-baik saja. Mas Makoto itu jauh lebih kuat dariku, jadi aku yakin Mas Makoto akan berhasil mengalahkan si Schiacone alias si Runner of the end itu.." ucap Izumi


Izumi pun berjalan mendekat ke arah Lazio. Izumi tak ingin membuang-buang waktunya lagi. Tanpa basa-basi Izumi pun melapisi salah satu tangannya dengan es. Kemudian, ia melesatkan pukulan telak ke perut Lazio hingga membuatnya terpental beberapa meter kebelakang.


"Uaghhh!!!"


Setelah itu, Lazio pun terkapar pingsan karena serangan Izumi yang cukup kuat.


"Yeah, akhirnya bagianku sudah berakhir juga." Ucap Izumi merasa lega, kemudian ia pun menoleh ke arah lain, "Apa sebaiknya aku mengecek pertarungan mas Makoto saja, ya? Sepertinya itu ide yang bagus."


Izumi pun bergegas kembali ke tempat Pertarungan Makoto dan Schiacone berada.


Sementara itu di sudut lain, masih di kota yang sama. Tampak seperti yang terlihat, Ayase sedang menuju ke arah suara ledakan terdekat. Ia merasa, terdapat anak buah Schiacone yang sedang mengacau di tempat asal ledakan itu terdengar.


Ayase masih terus menelusuri sumber ledakan itu. Dan beberapa saat kemudian, sampailah dia di sumber ledakan itu terjadi. Ayase terkejut dan marah ketika melihat Piacenza Calcio yang merupakan anak buah Schiacone sedang mencekik seorang pria, sementara di dekatnya juga terlihat beberapa mayat wanita dan pria lain yang tergeletak.


"Sialan. Dasar brensek!! Apa yang kau lakukan kepada manusia yang tak bersalah sepertinya!!" Ayase benar-benar sangat marah.


Piacenza pun melihat kehadiran Ayase. Piacenza pun langsung melemparkan pria yang ia cekik ke jalanan, "Ouh, kau pasti temannya bocah es yang sok kuat itu, ya? Sedang apa kau disini? Mending pergi saja deh, daripada mati sia-sia" ucap Piacenza dengan nada mengejek.


"Aku takkan memaafkan orang-orang seperti dirimu, dan juga Runner of the end. Kelompok kalian harus segera dimusnahkan demi sebuah perdamaian." Ucap Ayase.


"Diamlah. Kau terlalu berisik." Piacenza pun langsung mengeluarkan pistolnya dan langsung menembakkannya ke arah Ayase, "Dorrrr!!!"


Akan tetapi, satu tembakan bisa dihindari oleh Ayase dengan cukup mudah. Kemudian, Piacenza pun kembali melesatkan beberapa tembakan ke arah Ayase, "Dorrr!!! Dorrr!! Dorrr!!"


"Glasses eye : Reflection Mirror!!" Tiba-tiba sebuah pengelihatan yang berasal dari kacamata yang ia kenakan pun muncul seolah-olah memberi sebuah garis pada peluru yang melesat ke arahnya. Oleh karena itu, Ayase berhasil menghindari semua tembakan itu dengan mudah.


"Huh?" Piacenza sedikit heran kenapa ada seseorang yang bisa menghindari tembakannya, "Cih, kenapa kau bisa menghindari tembakanku? Bikin repot saja, padahal aku malas menggunakan mode itu.." ucapnya.


"Mode itu mode apa?" Tanya Ayase.


"Mode agar tembakanku tidak bisa dihindari oleh lawan." Ucap Piacenza


Ayase pun menaikkan salah satu alisnya dan sedikit kebingungan dengan kata-kata yang diucapkan Piacenza, "Mode agar tembakanmu tidak bisa dihindari oleh musuh?"


"Ya. Tapi sayang sekali untuk melawanmu aku harus menggunakan mode itu. Soalnya kau bertarung dengan cukup baik." Ucap Piacenza.


Ayase masih tak paham dengan perkataan Piacenza. Sementara itu Piacenza pun langsung mengeluarkan sebuah energi berwarnah merah sedikit gelap yang menyelimuti tubuhnya.


"Hoi-hoi!!! Apa kau mau berubah menjadi super saiyan?! Jangan dong!! Nanti aku bisa kalah!!" Teriak Ayase.


Beberapa saat kemudian, energi yang menyelimuti tubuh Piacenza pun perlahan mulai menipis dan menyerap ke tubuhnya.


"Inilah mode yang kubicarakan tadi, mode yang bisa membuat tembakanku tidak bisa dihindari oleh lawan, dan juga mode yang bisa membuat lawan ketar-ketir!!!"


Piacenza memasang pose aneh.


"Mode ini kunamakan Dario Hubner!!"


"Huh? Darasio Hubaner?" Tanya Ayase.


"Dario Hubner woi!!! Ejalah yang benar!! Padahal nama mode ini sudah keren tapi kau malah memplesetkannya.." ucap Piacenza dengan nada kesal.


~


Kembali ke inti.


Piacenza dengan mode Dario Hubner pun langsung mengarahkan pistolnya kembali ke arah Ayase, "Sebaiknya kau menyerah saja, karena tak ada cara untuk menghindari tembakanku ini. Dalam mode ini, tembakanku takkan meleset seperti Dario Hubner yang ahli dalam mencetak gol."


Ayase pun langsung memasang posisi waspada. Ia merasa Piacenza kini sudah sedikit berubah semenjak memasuki mode Dario Hubner. Ayase pun langsung menarik belatinya.


"Dario Hubner~ Dario Hubner~ Dario Hubner~ Bergerak seperti sang idola. Diam mengamati keadaan, bergerak menembak lawan, pheaw!!!" Ucap Piacenza.


"Dorrr!!!"


"Wushhh!! Peluru dari tembakan pistol Piacenza melesat dengan sangat cepat.


"!!!!!" Ayase terkejut, "Glasses Eye : Reflection Clone!!" Dia menciptakan clone pengganti tepat di posisinya saat ini, sementara Ayase sendiri otomatis bergeser ke sebelah clone yang ia ciptakan.


Dan, seperti yang terlihat peluru itu mengenai clone Ayase tepat di posisi kepala. Ayase yang melihat hal itu pun langsung mengeluarkan keringat dingin dari dahinya.


Clone Ayase pun perlahan menghilang. Sementara itu, Piacenza sedikit kesal karena trik yang digunakan Ayase agar tidak terkena tembakannya.


"Tcih, sialan. Ternyata kau punya trik seperti itu juga, ya? Dasar bedebah." Ucap Piacenza dengan nada kesal.


"Syukurlah, aku masih sempat. Kalau tidak, mungkin aku sudah terbunuh sekarang. Tak kusangka tembakannya tepat mengenai kepala. Sepertinya mode yang ia bicarakan itu serius tak hanya sekedar gurauan saja." Ucap Ayase yang merasa sedikit lega karena berhasil menghindar dari tembakan yang dilesatkan boleh Piacenza.


"Yare-yare.." Piacenza pun langsung mengarahkan pistolnya kembali ke arah Ayase, "Baiklah, aku akan menembakmu lagi. Aku juga ingin tahu, seberapa banyak tembakan yang berhasil kau hindari menggunakan trik itu." Ucap Piacenza.


"Tentu saja dengan sebanyak mungkin aku akan menghindari tembakanmu, kalau sekali saja tertembak, sudah dipastikan aku akan mati.." ucap Ayase.


"Wih, ternyata kau mengakui mode Dario Hubner ku, ya? Aku sangat terhormat sekali. Baiklah, aku akan segera melesatkan tembakan ke arahmu, semoga kau bisa menghindarinya.." ucap Piacenza.


"Ya, semoga saja.." ucap Ayase.


B E R S A M B U N G