Cosplay

Cosplay
Chapter 392 - Jual Beli Hukum.



Ragiru terkapar dalam kondisi babak belur setelah terkena pukulan es Izumi dengan sangat telak. Dia masih sadar dengan nafas terengah-engah. Dia mencoba untuk bangkit dan berdiri kembali, namun dia memikirkan sesuatu hal.


"Sial. Pukulannya sakit banget. Sepertinya aku harus mencari cara agar dia mendapatkan hukuman." ucap Ragiru dengan nada pelan, meski dalam kondisi babak belur, sempat-sempatnya dia tersenyum licik dalam posisi tengkurap.


"Hoi.." Yoshino berjalan mendekat ke arah Ragiru yang masih dia lihat dalam posisi terkapar tengkurap.


Sementara itu, Killa pun langsung menepuk jidatnya setelah melihat apa yang dilakukan Izumi. Tapi dia juga sangat kesal karena Davidestorm dilukai oleh Ragiru begitu saja.


Tak berselang lama kemudian, Ragiru pun bangun dari posisi terkapar tengkurapnya sembari memasang raut wajah ketakutan. Ragiru menunjuk jarinya ke arah Izumi dan kawan-kawan.


"Tolong aku!!! Dia penjahat!! Dia mencoba melakukan percobaan pembunuhan berencana kepadaku!!" teriak Ragiru. Dia berakting seolah-olah dialah yang paling dirugikan. Aktingnya yang cukup bagus, membuat orang-orang yang melihat hal itu dari kejauhan pun langsung menelpon polisi keamanan.


Bahkan polisi keamanan dengan sigap datang setelah menerima telpon. Polisi keamanan datang di tempat kejadian perkara antara Ragiru serta Izumi dan kawan-kawan.


"Pak polisi!! Tolong beri mereka hukuman mati!! Aku ingin membawanya ke pengadilan karena mereka berniat melakukan rencana percobaan pembunuhan terhadapku!!" teriak Ragiru sambil menangis histeris. Aktingnya yang luar biasa, bahkan air mata palsu pun berhasil dia keluarkan, dia memang sedikit mempunyai peran sebagai aktor.


"Kalian berlima akan kami bawa ke tempat pihak keamanan untuk ditanyain lebih lanjut. Jadi ikutlah dengan kami dan jangan memberontak, atau hukuman kalian akan semakin berat.." ucap salah satu polisi keamanan.


"Apa?! Dia dulu yang nyerang teman kami oy!!" ucap Izumi.


"Kita nurut saja, Izumi. Kita tak boleh membuat kerusuhan lebih dari ini. Dan juga orang itu benar-benar licik, kita pasti akan membalasnya.." ucap Killa.


Sekilas, dengan wajah yang masih dibasahi oleh air mata, Ragiru pun tersenyum licik sembari menjulurkan lidahnya tepat dibelakang beberapa polisi keamanan untuk mengejek Izumi dan kawan-kawan.


"Mampus." ucap Ragiru dengan nada pelan.


"Cih.." Yoshino mendecih.


Polisi keamanan menoleh ke arah Ragiru. Namun Ragiru kembali memasang raut wajah sedih setelah polisi keamanan melihat ke arahnya.


Dengan kejadian ini, Izumi dan yang lainnya pun dibawa ke kantor polisi terdekat untuk dimintai keterangan lebih lanjut tentang kejadian yang dialami oleh Ragiru. Kemudian, Izumi dan lainnya terpaksa dijebloskan kedalam sel sembari menunggu jalur hukum lebih lanjut.


Di dalam penjara.


"Izumi. Kita bisa kabur dari sini dengan mudah. Kenapa kita tidak kabur saja sekarang?" tanya Yoshino.


"Kalau dipikir-pikir, untuk sementara waktu kita tinggal dipenjara ini cukup untuk menghemat pengeluaran kita ketimbang harus menginap di penginapan!! Huahaha!! Anggap saja ini sebuah penginapan, yakan Killa?!!" tanya Izumi sembari tertawa terbahak-bahak.


"Hemat sih hemat. Tapi gak juga ditempat seperti ini juga hadeh.." ucap Killa.


"Tenanglah. Dengan kekuatan kameraku, kita bisa berpesta marsmello disini. Jangan khawatir soal makanan.." ucap Davidestorm.


"..... Hmm, jadi Davidestorm. Kameramu juga bisa menciptakan sebuah makanan?" tanya Vika.


"Entahlah!! Aku juga tidak tahu huahaha!!" teriak Davidestorm sembari tertawa terbahak-bahak.


"Hadeuh, dasar.." Killa pundung di pojokan.


Sementara itu, terlihat salah satu oknum polisi pihak keamanan dengan mengenakan mantel jubah berwarna hitam sedang berjalan ke sebuah gang sepi untuk menemui seseorang.


"Maaf, membuat anda menunggu, Tuan Ragiru."


"Ya. Kita langsung saja mulai tawar-menawar nya saja."


Polisi keamanan tersebut ternyata berniat bertemu untuk melakukan sebuah transaksi rahasia terhadap salah satu tokoh politik yang sempat melawan Izumi dan kawan-kawan, yaitu Ragiru.


Ragiru tampak mengenakan perban di beberapa bagian di tubuhnya. Selain itu dia juga membawa satu koper besar berisi uang tunai yang sangat banyak.


"Oey, buat mereka mendapatkan hukuman mati saat berada di pengadilan nanti. Hukuman mati dengan cara yang paling tragis. Ini uang, aku membawakannya padamu untuk membayar hakim di pengadilan nanti.." ucap Ragiru.


"Lalu, untukku sendiri?"


"Kau akan mendapatkan uang dua kali lipat dari uang yang ada didalam koper ini. Bagaimana, apa kau setuju?" Ragiru tersenyum licik, lalu mengulurkan tangannya di depan polisi keamanan tersebut, "Kalau setuju jabatlah tanganku.."


"Gaji sebagai seorang polisi sangatlah sedikit. Jadi mau bagaimana lagi. Persetan dengan keadilan. Uang adalah segalanya.." ucap polisi tersebut yang juga tersenyum licik.


"Deal.."


"Tuan Ragiru, aku jamin kau pasti akan menang dalam pengadilan itu. Dan aku jamin mereka para orang luar itu akan mendapatkan hukuman mati dengan cara yang paling tragis.."


"Ya. Itulah yang aku harapkan. Sedang bisa transaksi jual-beli hukum seperti ini. Aku semakin cinta dengan Negara ini, huahahahaha!!!" teriak Ragiru sembari tertawa terbahak-bahak.


Mereka adalah para sampah Negara. Komplotan dari tikus berdasi yang mencuri uang rakyat. Memperjualbelikan hukum di Negara berdemokrasi ini, mereka benar-benar para bajingan.


Ditengah-tengah Ragiru dan Polisi yang sedang transaksi jual beli hukum, sekilas terlihat seseorang yang memotret moment tersebut dari kejauhan menggunakan sebuah kamera. Kemudian orang misterius itu pun kabur sebelum Ragiru menyadari hawa keberadaan nya.


"Ini adalah barang bukti yang tak bisa terelakkan lagi. Mereka benar-benar sangat brengsek. Negara ini sudah digerogoti oleh kuman-kuman yang wajib untuk dibasmi.."


Keesokan harinya. Izumi dan yang lainnya pun dibawa oleh pihak keamanan pergi menuju ke Working City yang jaraknya cukup dekat dari Fluett City. Mereka dipindahkan kepenjara di dekat pengadilan tinggi yang berada disana. Karena beberapa hari kedepan, Izumi, Killa, Yoshino, Davidestorm, dan Vika akan menjalani sidang lanjutan atas kasus Ragiru. Mereka dibawa dengan menggunakan kendaraan mobil antik.


Working City. Di sebuah jalanan yang cukup ramai, terlihat dua orang yang sedang duduk sembari membaca koran. Dua orang itu mengenakan kacamata, topi, serta pakaian berwarna biru gelap guna untuk menyamarkan dirinya.


Mereka berdua adalah Stuart Tolhurst dan Limit Company, dua orang yang bekerja didalam organisasi besar yang bernama Angkatan Laut. Mereka berada disini karena mempunyai tujuannya sendiri.


"Kerusuhan politik yang semakin memanas di Negara ini bisa berkesempatan menciptakan perang saudara." ucap Stuart.


"Kemungkinan. Tapi, kita lihat perkembangan dari Negara ini. Tujuan kita kesini untuk memata-matai petinggi yang memimpin Working City ini, Konstantine bersaudara." ucap Limit Company.


"Kenapa juga kita harus diberi tugas yang merepotkan begini. Ini kan masalah Negara orang, kenapa Angkatan Laut sampai ikut campur dalam hal ini.." ucap Stuart.


"Entahlah. Para atasan pasti punya tujuan tersendiri." ucap Limit Company.


B E R S A M B U N G