
Saat ini terlihat Killa dan Plavio yang saling mendorong gelombang ilusinya. Mereka berdua sangat gigih, bahkan aksi dorong-mendorong gelombang ilusi terjadi cukup lama.
Plavio terus berusaha untuk mendorong gelombang ilusinya dengan sekuat tenaga sampai-sampai urat-urat nya terlihat di dahinya.
"Aku takkan kalah..!! Akan kubuat kau merasakan teknik ilusimu sendiri!! Apa kau pernah terjebak ke dalam ilusimu sendiri? Kalau tidak ini adalah kesempatanmu untuk mencobanya..!!" ucap Plavio sambil tersenyum menyeringai, ia masih berusaha untuk mendorong gelombang ilusi miliknya.
Sementara itu, terlihat Killa yang masih berusaha untuk mendorong gelombang ilusinya semaksimal mungkin. Bahkan, gelombang ilusi milik Killa sempat terdorong mundur karena dorongan ilusi milik Plavio yang terlalu kuat.
"A-aku harus menang..!! Aku tak bisa membiarkan pengorbanan Vika sia-sia..!! Aku harus menang!!" ucap Killa, nampaknya kedua tangannya mulai kelelahan untuk mendorong gelombang ilusinya.
Kemudian, terlihat Vika yang berada dibelakang Killa dengan posisi berlutut sambil memegangi luka tebasan dimana darahnya masih bercucuran keluar. Pandangan Vika mulai kabur dan perlahan ia kehilangan kesadarannya.
"Killa.. berjuanglah.." ucap Vika dengan nada lemas.
Kemudian, Plavio pun berteriak dengan cukup keras agar bisa menambah kekuatannya supaya bisa mengalahkan gelombang ilusi milik Killa, "Huoooooo...!!! Enyahlah..!!!"
Blarrrrrrr!!!! Plavio berhasil mengalahkan gelombang ilusi milik Killa. Kemudian, gelombang ilusi plagiat milik Plavio pun langsung mengenai Killa.
Setelah terkena gelombang ilusi milik Plavio, terlihat Killa mulai menatap dengan tatapan kosong. Bahkan, sesekali saja ia tak pernah untuk mengedipkan matanya.
Melihat hal itu, sontak membuat Plavio merasa sangat senang setelah berhasil mengalahkan gelombang ilusi milik Killa dan berhasil membuat Killa terjebak ke dalam ilusi Plagiatnya.
"Akhirnya, aku bisa memenangkan aksi dorong-mendorong gelombang ilusi. Terbukti, siapa yang lebih kuat disini.." ucap Plavio. Lalu, ia pun melirik ke arah Lukas dan Lander yang berdiri satu meter dibelakangnya.
"Ya, ya, ya. Kau ingin agar aku mengeksekusi nya kan? Baiklah. Aku akan membunuh dua wanita itu sekarang juga.." ucap Lukas, kemudian ia pun berjalan mendekat ke arah Killa yang sedang terjebak ke dalam ilusi plagiat milik Plavio.
"Mengerikan sekali, kau bahkan tak segan-segan untuk membunuh seorang wanita. Kau memang kejam, Lukas." ucap Lander.
"Ya, aku memanglah sangat kejam." ucap Lukas sambil menatap tajam Killa. Ia masih berjalan mendekat ke arah Killa dengan pedang yang ia genggam di tangan kanannya.
Sementara itu, Vika pun tak menyangka Killa telah dikalahkan oleh Plavio. Sekilas ia berkata, "Killa.. kau sudah berjuang sekeras mungkin. Mungkin kita berdua akan mati bersama di medan perang ini." Lalu, Vika pun langsung pingsan dan tergeletak di tanah.
Lukas pun semakin dekat berjalan ke arah Killa. Ia tersenyum menyeringai dengan tatapan seperti orang yang tidak waras, Lukas pun akhirnya sudah berada di depan Killa.
"Bersiap-siap lah. Jangan kaget, kalau kau tak bisa keluar dari ilusi itu selamanya. Karena kau akan mati setelah ini.." ucap Lukas, ia pun bersiap untuk mengayunkan pedangnya ke arah kepala Killa dan bersiap untuk memenggalnya.
Tak berselang lama, Lukas pun langsung mengayunkan pedangnya ke arah kepala Killa. Akan tetapi, secara tiba-tiba Lukas berhenti mengayunkan pedangnya ke leher Killa. Terlihat Lukas yang mendadak merasakan dingin sehingga membuat kedua tangannya kaku.
Melihat Lukas yang berhenti mengayunkan pedangnya, Lander dan Plavio pun merasa aneh dengan Lukas.
"Lukas, apa yang kau lakukan..!! Cepat eksekusi wanita itu..!!" teriak Plavio.
Lander pun langsung berjalan kesamping Plavio dan berkata, "Lihatlah dengan cermat, secara tiba-tiba Lukas seakan-akan merasakan kedinginan bahkan tubuhnya sampai mengigil. Apa yang sebenarnya terjadi dengannya?"
"Ya, tentu saja itu karena ulahku.." Tiba-tiba Lost Heaven sudah berada dibelakang Plavio dan Lander. Bahkan, saat ia berbicara, mulutnya sedikit mengeluarkan asap dingin.
Plavio dan Lander pun langsung membalikkan badannya ke arah Heaven, lalu mundur beberapa langkah kebelakang. Mereka berdua terkejut dengan kedatangan Heaven yang secara tiba-tiba.
"Siapa kau..!! Dan itu adalah ulahmu?!!" ucap Plavio dengan nada keras.
"Namaku Lost Heaven, aku takkan membiarkan kalian membunuh dua wanita itu. Karena mereka adalah seseorang yang penting bagi aliansi kami.." ucap Heaven sambil memasukkan kedua telapak tangannya ke dalam sakunyaa
Kemudian, Lukas pun langsung menoleh ke arah Plavio dan Lander yang berada dibelakangnya. Ia pun berteriak, "Hoi..!! Tolong aku..!! Aku kedinginan bahkan kedua tanganku menjadi sangat kaku..!!"
"Cih.." geram Plavio yang sekilas menoleh ke arah Lukas yang meminta tolong karena kedinginan, lalu ia kembali menatap tajam Heaven yang berada beberapa meter di hadapannya, "Ya, kau takkan bisa mengalahkanku, karena aku bisa meniru jurus-jurusmu.."
"Kau juga tak bisa mengalahkanku, karena kekuatanku ialah membuat seseorang yang menyerangku tidak beruntung alias semua seranganmu akan meleset.." ucap Lander sambil tersenyum licik.
Tiba-tiba Lost Heaven dengan cepat membuat suhu disekitar Lukas, Lander, dan Plavio menjadi super duper dingin, sehingga membuat mereka bertiga langsung membeku seperti es.
"Kalian Bajak Laut Hristov sungguh naif sekali. Terlalu besar kepala, seolah-olah kalian telah meremehkan lawan yang belum kalian ketahui kekuatannya." ucap Heaven sambil menatap dengan raut wajah membosankan ke arah Lander dan Plavio.
Kemudian, Heaven pun langsung berjalan mendekat ke arah Lukas dengan posisi mengayunkan pedangnya ke arah Killa. Setelah itu, Heaven pun mengambil pedang tersebut dari tangan Lukas.
"Senjata ini berbahaya bila disalahgunakan. Tapi, aku lupa. Ini kan medan perang.." ucap Heaven, lalu ia melemparkan pedang milik Lukas ke tanah.
Seketika, Killa pun langsung tersadar dari ilusi milik Plavio. Ia pun ngos-ngosan dan berkata kepada Heaven, "Te-terima kasih kau telah menolongku. Kalau kau tidak datang tepat waktu, mungkin aku dan Vika sudah mati."
"Ya, sepertinya dia perlu pertolongan. Aku akan menghentikan pendarahannya yang berada di perutnya." ucap Heaven sambil menatap ke arah Vika yang tergeletak pingsan di tanah.
BERSAMBUNG