
Antonin, Kheel, dan Ovaltine pun sedikit terkejut ketika melihat lonceng kecil milik Melody berubah menjadi ukuran besar. Selain itu, mereka bertiga juga dikejutkan dengan Melody yang mengatakan akan mengalahkan mereka bertiga dengan satu kali serangan.
Terlihat Antonin yang masih menodongkan pistol ke arah Melody yang berdiri di sebelah lonceng besar miliknya. Ia pun menarik pelatuk dari pistol tersebut, ketika Antonin ingin menembak, tiba-tiba jemarinya gemetaran seolah mengalami sebuah ketakutan.
"Si-sialan..!! Kenapa aku merasakan aura yang mengerikan dari lonceng itu beserta wanita yang ada di dekatnya itu." ucap Antonin.
Ovaltine pun langsung menepuk pundak Antonin beberapa kali dan mencoba untuk meneguhkan tekadnya agar sesegera menembak wanita itu.
"Oi.. cepatlah, jangan ragu untuk menembaknya." ucap Ovaltine.
"Hei, Ovaltine. Apa kau tidak merasakan aura yang mengerikan dari lonceng itu? Aku merasakan firasat buruk, loh." ucap Antonin.
Tak berselang lama, Kheel pun langsung berjalan dan berdiri di depan Antonin dan Ovaltine. Ia melirik ke arah mereka berdua dan berkata, "Walaupun begitu, kita tak boleh menyerah sampai disini. Daripada kita menyerah, alangkah baiknya kita mati dalam berperang."
Sementara itu, terlihat Melody yang berdiri tepat disebelah lonceng besar miliknya. Ia menatap tajam Antonin, Kheel, dan Ovaltine sembari tersenyum menyeringai. Sesekali Melody melakukan gerakan pemanasan pada jemarinya dan bersiap untuk menepuk lonceng besar yang ada disebelahnya tersebut.
"Ezeqia.." Melody langsung melirik Ezeqia yang tepat berada disebelahnya, "Mundurlah beberapa langkah kebelakang, jangan terlalu dekat denganku. Oh iya, tutup telingamu serapat mungkin ya."
"Baiklah, Melody. Sepertinya kau akan melakukan sesuatu yang menarik."
Ezeqia pun tanpa pikir panjang langsung menuruti permintaan Melody dengan berjalan mundur beberapa langkah kebelakang dan menutup telinganya rapat-rapat. Setelah itu, Ezeqia pun tersenyum bersemangat sambil menatap Melody.
"Baiklah, bersiaplah kalian bertiga..!!" Melody berteriak sambil menunjuk ke arah Kheel, Antonin, Ovaltine yang berdiri beberapa meter dihadapannya. Ia mulai bersiap untuk menepuk lonceng besar tersebut.
Mendengar hal tersebut dari Melody, sontak membuat Antonin, Kheel, dan Ovaltine pun memasang posisi waspada. Mereka cukup panik. Pasalnya, lonceng yang kecil saja sudah membuat mereka cukup kerepotan, apalagi lonceng yang berukuran besar.
"Ikuzo Temee..!!!" Kheel pun langsung berlari ke arah Melody tanpa mengkhawatirkan rasa panik yang membayang-bayangi dirinya. Ia berniat untuk menendang Melody dari jarak dekat.
Kemudian, diikuti dengan Antonin dan Ovaltine. Mereka berdua juga ikut berlari dibelakang Kheel ke arah Melody. Antonin berniat menembak Melody dari jarak dekat, begitu juga Ovaltine yang berniat menyerang Melody dari jarak dekat.
Setelah jarak antara Melody dan Kheel, Antonin, dan Ovaltine berkisar lima meter, tanpa pikir panjang Melody pun langsung menepuk satu kali lonceng besar tersebut.
"Ting..!!"
Setelah ditepuk oleh Melody, awalnya lonceng tersebut mengeluarkan bunyi yang cukup lembut, akan tetapi, setelah itu lonceng mengeluarkan bunyi yang cukup nyaring dan bising. Lalu membuat sebuah gelombang suara yang cukup besar.
Gelombang suara tersebut langsung mengenai Antonin, Kheel, dan Ovaltine begitu saja dan membuat mereka bertiga merasakan dampak dari gelombang suara tersebut.
Mereka bertiga merasakan rasa sakit yang cukup lumayan pada telinga mereka. Antonin, Kheel, dan Ovaltine pun dengan spontan langsung menutup telinga mereka sambil merintih kesakitan. Raut wajah mereka bertiga juga nampak kesal.
"Sialan..!! Gendang telingaku hampir pecah..!!" ucap Antonin.
"Baiklah, sepertinya kalian bertiga masih belum menyerah juga ya." ucap Melody sambil tersenyum menyeringai.
Tak berselang lama, Melody pun langsung menepuk lonceng besar tersebut dengan begitu keras beberapa kali. Dan, lonceng tersebut kembali menciptakan gelombang suara yang cukup besar, ya bisa dibilang begitu extream.
Gelombang suara tersebut kembali mengenai Antonin, Kheel, dan juga Ovaltine. Karena gelombang suara tersebut begitu kuat, mereka pun langsung berteriak histeris merintih kesakitan. Walaupun mereka bertiga juga sudah menutup telinga mereka.
Dan, setelah itu tampak sebuah darah yang keluar dari sepasang telinga mereka bertiga. Gendang telinga mereka bertiga langsung pecah, dan juga membuat mereka bertiga langsung terpental cukup jauh.
"Uaghhh..!!!"
Antonin, Kheel, dan Ovaltine pun terpental dan menabrak tanah. Dan, mereka bertiga pun juga terlihat sudah pingsan. Dengan ini, Pasukan Tim Elite Number Two berhasil dikalahkan oleh duet Melody-Ezeqia.
"Wuahahahaha..!!" Melody tertawa terbahak-bahak ketika melihat lawannya sudah pingsan karena serangannya barusan. Lalu, ia pun langsung menoleh ke sekitar, dan alangkah terkejutnya, banyak dari pasukan Hristov dan pasukan Aliansi yang saling bertarung satu sama lain disekitarnya langsung terkapar di tanah.
"Apa..!! Melody begitu terkejut ketika melihat efek yang ditimbulkan oleh lonceng besar miliknya begitu dahsyat. Ketika ia menengok ke arah Ezeqia. Terlihat Ezeqia yang berjalan sempoyongan.
Ya, Ezeqia juga sedikit terkena efek dari gelombang suara yang diciptakan oleh lonceng besar tersebut. Walaupun gendang telinganya tidak sampai pecah seperti yang dialami Antonin, Kheel, dan Ovaltine.
"Hei.. hei.. Melody, itu tadi serangan yang hampir membunuhku juga, loh." ucap Ezeqia.
Lonceng besar tersebut kembali berubah ke ukuran normalnya. Dan Melody pun langsung berlari menghampiri Ezeqia lalu memegang kedua pundaknya, "Bertahanlah, Ezeqia..!!"
"Ya.. ya.. tidak apa-apa, sekarang ayo kita hajar pasukan Hristov yang lainnya~" ucap Ezeqia dengan nada lemas.
"Maafkan aku, Ezeqia! Aku akan segera menolongmu!" teriak Melody.
Sementara itu, disisi lain medan perang, terlihat Izumi, Yoshino, dan juga Shu yang bertarung begitu sengit melawan Elen, Zach, dan Espener.
"Hiyaa...!!" Tampak Yoshino yang mencoba melesatkan tebasan pedang Black Lotus dari jarak jauh ke arah Zach.
"Buashh..!!" Zach menangkis tebasan jarak jauh tersebut dengan tebasan pedangnya yang berbentuk seperti pisau angin.
"Cih, lawan yang merepotkan. Tapi, aku takkan menyerah dan akan mengalahkanmu sesegera mungkin, bodoh." ucap Yoshino dengan begitu bersemangat.
BERSAMBUNG