Cosplay

Cosplay
Chapter 463 - Threat.



Beberapa jam kemudian. Terlihat rombongan Xia yang kini sedang menaiki kereta kuda menuju ke ujung barat Man City untuk menemani serta mengantarkan Aisah kepada ibunya. Kira-kira mereka akan menempuh perjalanan selama satu jam setengah agar tiba di rumah ibu dari Aisah.


Saat berada didalam kereta kuda, Xia pun melontarkan beberapa pertanyaan kepada Aisah.


"Aisah, sudah berapa lama kau tidak bertemu dengan ibumu?" tanya Xia.


"Dua Minggu, kakak. Waktu itu Mama sedang ada urusan dinas keluar kota. Jadi terpaksa Mama meninggalkanku di rumah bersama dengan Papa.." ucap Aisah dengan raut wajah polos.


"Begitu, ya? Tapi tenang kok, sebentar lagi Aisah pasti akan bertemu dengan ibumu. Kau pasti sudah rindu dengannya, kan?" tanya Xia.


"Hu'um.." Aisah mengangguk sembari tersenyum.


Disisi lain, Xianfeng, Dapidson, dan Pilkington saling berbicara satu sama lain karena membahas suatu hal.


"Haddeh, tak kusangka kita akan menjadi incaran dari pembunuh bayaran. Semoga saja tidak terjadi apa-apa sampai ditempat tujuan. Aku tak bisa membayangkan kalau harus bertarung dengan mereka.." ucap Dapidson.


"Jangan cupu begitu, Dapidson. Kalau ada musuh yang menyerang, ya tinggal kita lawan balik saja lah. Tenang, aku bisa mengatasi musuh-musuh yang hendak membunuh kita!!" ucap Xianfeng dengan nada semangat.


"Diamlah, jangan terlalu bersemangat begitu. Kita tak tahu apa yang terjadi kalau Insting Negatifmu menguasai pikiranmu.." ucap Pilkington.


Beberapa saat kemudian. Kereta kuda yang ditumpangi oleh Xia dan kawan-kawan pun berhenti secara mendadak dan mengejutkan semua oragng yang berada didalamnya.


Xianfeng pun langsung berfikir kalau ada musuh yang sedang menghadang. Oleh karena itu, Xianfeng pun langsung bergegas turun dari kereta kuda.


"Kalau kau musuh, maka aku akan menghajarmu disini sekarang juga!!!" teriak Xianfeng.


"Are? Tunggu dulu Niisan. Sepertinya ada kesalahpahaman disini."


"Yaps, hanya sebuah kesalahpahaman. Kami berdua ada orang yang diberi tugas untuk menuntun kalian ketempat Nicole-san."


"Huh? Nicole siapa?" tanya Xianfeng.


"Istri Tuan Firehn, dan ibu dari Aisah."


"Benar.."


"Haddeh.." Xianfeng pun memasang raut wajah datar.


"Namaku adalah Satsumaru Nekoniku!!"


"Kalau namaku adalah Satsumaru Kenokinu!!"


"Kami berdua adalah Nekoniku dan Kenokinu Bersaudara!!!"


"Apa?! Nekokinu?! Kenoniku?! Ah!! Nama kalian bikin aku bingung saja!!!" bentak Xianfeng.


Satsumaru Nekoniku dan Satsumaru Kenokinu adalah sepasang saudara kembar yang masih berumur enam belas tahun. Mereka berdua ditugaskan oleh Firehn untuk menuntun rombongan Xia menuju ke tempat istrinya.


Nekoniku dan Kenokinu pun langsung naik ke kereta kuda, disusul dengan Xianfeng yang berjalan dibelakang mereka berdua. Dan kini rombongan tersebut pun melanjutkan perjalanannya kembali ke tempat istri Firehn.


Sementara itu, didepan penginapan. Terlihat Paladino, Vika, dan Davidestorm yang baru saja menaiki kereta kudanya. Vika dan Davidestorm pun melambaikan tangannya kepada Izumi, Yoshino, dan Davidestorm yang mengantarkan kepergian mereka.


"Izumi!! Yoshino!! Killa!! Sampai jumpa lagi!! Jangan sampai lengah bila berhadapan dengan musuh, ya!!"


"Ya!!! Kau juga, Davidestorm!!! Jaga dirimu baik-baik!!!" teriak Izumi.


"Yosh!! Saatnya menuju ke tempat alamat yang dituju!!" ucap Davidestorm dengan nada bersemangat.


"Pak tua, apa kau tahu alamat ini?" tanya Paladino.


"Ya, aku tahu alamat itu, jadi serahkan saja padaku. Kira-kira dalam waktu satu jam kita akan segera sampai di alamat tersebut." ucap si pengemudi kereta kuda.


"Vika, Sebenarnya tujuan Firehn menyuruh kita ke alamat tersebut untuk apa, ya?" tanya Davidestorm.


"Mungkin ada sesuatu yang penting. Tapi aku juga tidak tahu dan tidak mau tahu.." ucap Vika sembari tersenyum.


"Hadeh, kau ini sangat aneh, Vika.." ucap Davidestorm.


Sementara itu, disisi lain Man City. Terlihat Hugo dan Amber yang berhasil menyusup di salah satu rumah orang kaya. Mereka berdua bersembunyi di sebuah gudang tak terpakai.


"Hugo-kun, apa benar ini tempat Jakub Piatkowski walikota dari Humble City?" tanya Amber.


"Ya. Tapi ini adalah rumah sementara yang Piatkowski tinggali, karena dua hari lagi akan diadakan rapat pertemuan antar Walikota. Dan, kemarin malam, aku baru saja mendapat perintah untuk membunuh Konstantine Firehn. Jadi, aku akan mempersiapkan rencana agar semuanya bisa berjalan mulus.." jawab Hugo.


"Jadi bagaimana dengan Xia, Pilkington, Dapidson, dan Xianfeng? Apa kita batal untuk mengincar mereka?"


"Tidak. Kita tetap akan mengincar mereka, tapi setelah kita berhasil membunuh Firehn. Ini hanya penundaan saja. Karena bayaran untuk membunuh Firehn lebih besar dari mereka berempat. Jadi aku mengutamakan untuk membunuh Firehn."


"Baiklah. Lalu, bagaimana dengan Saito? Apa kau tidak berencana untuk menyelamatkan dirinya?"


"Tidak, Amber-chan. Pekerjaan menjadi pembunuh bayaran mempunyai sebuah resiko. Jadi itu adalah resiko yang diterima Saito. Aku juga sudah bilang sebelumnya, dia takkan bicara sembarangan untuk membocorkan rahasia. Aku sangat yakin, kecuali.."


"Kecuali apa?"


"Kecuali kalau ada musuh dengan kekuatan pencuci otak. Mungkin rahasia kita bisa terbongkar begitu saja."


Sebelumnya, Hugo dan Amber berhasil masuk kedalam gudang tersebut karena menyusup melalui jendela. Kini setelah mereka cukup untuk berbincang-bincang, Hugo dan Amber pun langsung melanjutkan aksinya.


Kala itu Piatkowski yang sedang berjalan menuju kamar mandi dengan handuk berwarna biru muda yang melilit lehernya pun secara tak sengaja melihat ke arah pintu gudang yang telah terbuka.


"Huh? Terbuka? Siapa yang membukanya? Perasaan di rumah ini hanya ada aku dan beberapa bodyguardku berada diluar.." ucap Piatkowski.


Piatkowski pun langsung berjalan mendekat ke arah pintu gudang tersebut. Lalu, ia melihat kedalam gudang dan tak menemukan siapapun disana.


"Tidak ada orang sama sekali. Lalu, siapa yang membuka pintu gudang ini?" gumam Piatkowski. Lalu ia pun menutup pintu gudang tersebut, dan ketika ia akan berbalik, tiba-tiba sebuah pisau sudah berada didekat lehernya.


"Jangan bergerak dan turuti permintaan kami. Kalau kau berteriak, pisau ini akan langsung menebas lehermu. Kau tidak mau mati, kan?" tanya Hugo.


Piatkowski mengangkat kedua tangannya, dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Piatkowski sangat ketakutan karena diancam oleh Hugo.


"Ba-baik. Ja-jangan bunuh aku. Aku berjanji akan menuruti semua permintaanmu." ucap Piatkowski.


"Baguslah kalau begitu. Aku suka dengan seorang yang penurut sepertimu. Kau akan melakukan rapat dengan beberapa Walikota, kan?" tanya Hugo.


"Ya, itu benar.." jawab Piatkowski.


"Baiklah, inilah permintaanku padamu, jadi dengarkan baik-baik.." ucap Hugo.


Permintaan apakah yang sebenarnya Hugo minta terhadap Piatkowski?


B E R S A M B U N G


Jangan lupa like koment dan share serta kritik dan saran yang membangun agar cerita Cosplay ini semakin berkembang untuk kedepannya nanti, see you next Chapter!!!