
Saint Anterwep berhasil menyerang Schuikhov dan Davidestorm dengan kombinasi teknik beladiri dan kekuatan misterius miliknya. Bahkan, Anterwep juga berhasil memukul Schuikhov sampai menabrak tanah hingga mengalami keretakan dan menciptakan lubang yang cukup dalam.
Dengan kondisi setengah sadar, Schuikhov pun langsung terpelosok ke lubang yang cukup dalam tersebut akibat dari tabrakannya yang diakibatkan oleh pukulan kuat yang dilontarkan oleh Anterwep.
Davidestorm dengan sedikit mengeluarkan darah dari mulutnya, ia mencoba untuk berdiri kembali. Davidestorm juga terkejut, ketika Schuikhov terpelosok masuk ke lubang tersebut. Lalu, ia pun berteriak, "Paman..!!"
Sementara itu, Anterwep pun tersenyum menyeringai ketika ia merasa bahwa sudah mengalahkan Schuikhov dan hanya tersisa satu musuh yang menghambatnya, yaitu Davidestorm. Tak berselang lama, ia pun berbalik dan berjalan mendekat ke arah Davidestorm.
Anterwep merentangkan kedua tangannya, tersenyum menyeringai sambil menatap tajam Davidestorm. Lalu, uap panas dari tubuh Anterwep pun mulai menghilang.
"Aku kasihan sekali dengan temanmu itu. Sepertinya, dia sudah mati ke dalam lubang tersebut. Ya, sekarang adalah giliranmu." ucap Anterwep.
"Si-sialan..!!" Davidestorm pun sudah berdiri kembali. Lalu, ia pun memegang kamera yang dia kalungan dilehernya. Tak berselang lama, Davidestorm pun menciptakan palu raksasa dari kameranya.
Setelah itu, Davidestorm pun mencoba untuk mengangkat palu raksasa tersebut dengan sekuat tenaga, karena berat dari palu raksasa tersebut ialah dua puluh lima kilogram. Setelah berhasil mengangkat palu tersebut, Davidestorm melompat ke arah Anterwep dan mencoba untuk memalunya dari atas.
"Bruakk..!!"
Sekali lagi, Anterwep kembali menghilang. Alhasil, palu raksasa tersebut membentur tanah di tempat Anterwep berpijak. Tak berselang lama, Anterwep pun kembali muncul dibelakang Davidestorm dan langsung memukul tepat di wajahnya.
"Buakhh!!!"
Davidestorm kembali terpental dan tersungkur ke tanah. Pukulan yang dilontarkan oleh Anterwep ke wajahnya juga mengenai hidungnya dan membuat dirinya mimisan karena pukulan tersebut.
Beberapa saat kemudian, terlihat Davidestorm yang terkapar di tanah sambil ngos-ngosan setelah terkena pukulan Anterwep. Lalu, ia pun berkata, "Osh.. osh.. osh.. sialan, dia berbeda dari lawan yang aku hadapi. Dia begitu kuat.."
Lalu, Anterwep pun langsung berjalan mendekat ke arah Davidestorm yang terkapar di tanah. Setelah itu, ia menatap tajam Davidestorm dan berkata, "Bersiaplah menyusul temanmu itu ke neraka."
Tak berselang lama, Anterwep berlari cepat ke arah Davidestorm dan melompat ke atasnya. Ia berencana memukul Davidestorm dari atas dengan sekuat tenaga. Akan tetapi, sebelum Anterwep berhasil menyerang Davidestorm, tiba-tiba muncul hembusan angin yang cukup kencang menerjang Anterwep hingga sedikit terpental dan menabrak tanah, "Sruokkkk!!"
Anterwep pun terkejut, ketika ada hembusan angin yang cukup kencang menerjangnya. Ia kebingungan dengan apa yang terjadi. Setelah itu, Anterwep pun bangkit dan berdiri kembali.
"Sialan, kenapa tiba-tiba ada hembusan angin yang menerjangku." ucap Anterwep.
Namun, secara mengejutkan, Schuikhov sudah berada tepat dihadapan Anterwep. Kedua mata Schuikhov sedikit ada keanehan, pasal kedua matanya hanya terlihat berwarna putih menyala-nyala.
Melihat kedatangan Schuikhov, Davidestorm pun sedikit merasa lega, "Paman, kukira kau sudah mati."
Schuikhov pun langsung bergerak dengan cepat ke arah Anterwep dan mencoba untuk menebas ya dengan pedangnya. Seperti biasa, saat ada yang menyerang, Anterwep selalu menghilang.
Setelah itu, hembusan angin yang cukup kencang menyelimuti tubuh Schuikhov. Tak berselang lama, Anterwep muncul dibelakang Schuikhov dan langsung terpental dengan beberapa luka tebasan di dadanya.
"Uaghhh...!!"
"Eh? Apa yang sebenarnya terjadi? Bukannya dia tadi menghilang? Lalu, dia muncul terpental dengan luka tebasan. Apakah dia terkena tebasan dari Paman?" ucap Davidestorm, ia masih terkapar di tanah dan mengamati situasi.
"Sialan..!! Kenapa aku bisa diserang olehnya?!!" Anterwep juga cukup terkejut, ketika dirinya berhasil diserang oleh Schuikhov.
Tak berselang lama, Schuikhov pun berlari dengan cepat ke arah Anterwep dan kembali mencoba untuk menebaskannya. Dan, Anterwep pun kembali menghilang.
Setelah itu, Anterwep kembali muncul dan terpental lagi dengan kondisi terkena tebasan pedang milik Schuikhov, "Uaghhh!! Sialan..!!"
Melihat ada sebuah kejanggalan, Davidestorm pun mengubah posisinya menjadi tiarap. Lalu, ia membuat sebuah teropong dengan scope sepuluh kali lipat. Setelah itu, ia menggunakan teropong itu untuk melihat apa yang terjadi selanjutnya.
Anterwep pun mencoba untuk bangkit dan berdiri kembali, walaupun tubuhnya mengalami banyak tebasan dangan darah yang bercucuran, "Sialan..!! Kenapa kau bisa menyerangku?! Apa kau sudah menyadari kekuatanku?!!"
Kemudian, Schuikhov pun langsung menoleh ke arah Anterwep dengan kedua matanya yang masih berwarna putih bercahaya. Anterwep pun terkejut dengan apa yang terjadi dengan Schuikhov.
"D-dia berbeda dari yang sebelumnya.." ucap Anterwep. Lalu, ia pun kembali menghilang.
Setelah itu, Schuikhov pun langsung bergerak dengan cepat ke suatu arah sambil melesatkan tebasannya, "Batsss..!!"
Seketika, Anterwep kembali muncul di dekat Schuikhov dan kembali terpental dengan mengalami luka tebasan, "Uaghh..!!"
Melihat hal tersebut, Davidestorm pun mengangguk pelan sambil tersenyum. Dan ternyata, "Jadi begitu ya, kekuatannya bukanlah menghilang, melainkan berubah menjadi seekor semut kecil. Aku paham."
Saint Anterwep, kekuatannya ialah bisa berubah menjadi seekor semut kecil. Ya, ketika lawannya hendak menyerangnya, Anterwep akan berubah menjadi semut kecil seolah-olah dirinya menghilang. Setelah itu, ia kembali berubah menjadi manusia seolah-olah muncul dari menghilangnya dan menyerang lawannya.
"Sialan..!! Dia benar-benar menyeramkan!!" Anterwep pun mencoba untuk bangkit kembali walaupun dirinya dipenuhi dengan luka tebasan di sekujur tubuhnya. Ia sangat panik, ketika ada perubahan pada diri Schuikhov.
Anterwep berniat untuk berlari dan kabur setelah gaya bertarungnya berhasil diketahui oleh Schuikhov. Tapi, dengan cepat, Schuikhov kembali menebas Anterwep disertai dengan hembusan angin yang cukup kencang.
"Batsss!! Batsss!! Batss!!"
"Uaghh..!!!" Anterwep pun merintih kesakitan setelah terkena tebasan mematikan dari Schuikhov. Tak berselang lama, ia pun langsung ambruk ke tanah dan pingsan, "Bruakk!!"
Tak berselang lama, setelah Schuikhov berhasil mengalahkan Anterwep. Ia pun juga ikut ambruk ke tanah. Dan ternyata, Schuikhov telah tertidur sambil mendengkur.
"Zzzz.. zzz.. zzz.."
"Sialan, kau memang benar-benar hebat, Paman..!!" Davidestorm pun langsung tersenyum bersemangat.
BERSAMBUNG