Cosplay

Cosplay
Chapter 443 - [ Spesial ] Runner Of The End IV



Serangan bertubi-tubi yang dilesatkan Shiacone membuat Izumi mengalami beberapa luka di sebagian tubuhnya, termasuk sedikit luka memar pada wajahnya.


Izumi yang telah bangkit terlihat memasang senyuman sinis sembari menunjuk Shiacone dengan jari telunjuknya.


"Oey, ini belum berakhir. Aku kasih saran padamu, lebih baik gunakan kekuatanmu yang sesungguhnya sebelum kau kalah tak berkutik dihadapanku-" ucap Izumi.


Tanpa basa-basi Shiacone berlari dengan cepat ke arah Izumi, lalu menarik kerahnya sembari memukul tepat pada hidungnya, "Buaghh!!" Izumi terpental satu meter kebelakang, terlihat hidung Izumi juga mengeluarkan darah. Izumi tergeletak ngos-ngosan.


"Aku tidak perlu menggunakan kekuatanku untuk menghadapi cecunguk sepertimu. Kau bahkan lebih rendah dari musuh yang selama ini aku hadapi.." ucap Shiacone.


Izumi mencoba untuk bangkit kembali, "Jangan begitu dong, padahal aku belum menggunakan kekuatan penuhku, tapi seolah-seolah bisa mengalahkanku begitu saja. Aku ini belum kalah!!"


Shiacone menggeleng-gelengkan kepalanya setelah melihat Izumi yang tak kunjung menyerah, "Oey, bedebah! Apa kau mau kuajarkan bagaimana caranya untuk menyerah?"


"Aku tidak akan menyerah sebelum mengalahkanmu." Ucap Izumi.


"Hadeuh, kenapa rata-rata tokoh utama selalu naif ya." Shiacone menepuk jidatnya.


Shiacone berjalan cepat ke arah Izumi. Dia mencoba menyerang Izumi, akan tetapi Ayase datang dari belakang Izumi dan mencoba untuk menyerang balik Shiacone dengan pedangnya, "Hyaaa!!! Serangan kejutan!!"


Dengan cepat Shiacone melompat beberapa langkah kebelakang untuk menghindari serangan pedang Ayase.


"Kukira kau sudah kalah dan menyerah. Tak kusangka kau sama sepertinya. Kalian berdua memang harus mengerti apa dan kapan saatnya untuk menyerah.." ucap Shiacone tegas.


~


Suhu udara semakin dingin, bahkan hembusan nafas dari seseorang yang berbicara pun terlihat sangat jelas.


Izumi dan Ayase saling menatap satu sama lain, mereka juga sudah bersiap untuk menghadapi Shiacone sekali lagi, meski mereka tahu bahwa level kekuatan Shiacone jauh diatas mereka.


"Izumi.."


"Ayase.."


"Apa kekuatan kacamatamu itu sudah tak berfungsi lagi?"


"Jangan bicara sembarangan, Izumi. Aku hanya belum sempat untuk menggunakannya saja. Jadi, apa kekuatan es mu hanya sebatas ini, Izumi?"


"Oh tidak, Ayase. Aku masih punya teknik rahasia lain. Kalau aku menggunakan teknik ini, kau jangan sampai terkejut ya.."


Shiacone pun mulai bosan melihat Izumi dan Ayase yang masih berbicara satu sama lain tak kunjung menyerangnya juga.


"Kalian berdua, apa diskusi strategi nya sudah cukup? Aku sudah mulai bosan menunggu kalian ini, kita langsung saja baku hantam.." ucap Shiacone.


Izumi dan Ayase mulai menatap Shiacone dengan tatapan serius. Tak berselang lama kemudian, Izumi dan Ayase pun berlari dengan cukup cepat ke arah Shiacone.


Shiacone menyentuh kacamatanya, "Reflection Glasses : Shock Breaker!!" Terlihat sebuah radar pada kacamata yang dikenakan Ayase. Radar itu menunjukkan titik lock pada seorang Shiacone. Kemudian, pedang yang digenggam Ayase pun mengeluarkan aliran listrik.


Ayase melesatkan serangan itu.


Shiacone memang berhasil menghindar. Namun pergerakan Ayase yang sedikit cepat darinya, harus membuat pipi kanannya sedikit tergores dan berdarah, "Huh?" Shiacone melihat ke arah pipi nya yang berdarah.


Setelah itu, disusul Izumi yang melihat Shiacone sedikit lengah setelah sedikit terkena serangan dari Ayase, "Rasakan pukulan es ku ini!!!"


"Buaghh!!!"


"Hmm.." Schiacone menatap Izumi dengan sinis, "Oey.."


"Eh?!" Izumi terkejut karena pukulannya seolah-olah tidak berefek sama sekali pada Schiacone.


"Sepertinya waktuku bermain-main dengan kalian sudah cukup sampai disini.." ucap Schiacone.


Schiacone melompat beberapa meter dari tempat Izumi dan Ayase. Kemudian, Schiacone pun mengkretek lehernya yang tidak pegal, serta jari-jemarinya, "Kretek!!"


"Izumi. Aku tak tahu apa yang akan dia lakukan. Tapi sepertinya kali ini dia akan sangat serius untuk melawan kita." Ucap Ayase.


"Ya.."


Terlihat Schiacone yang melompat-lompat ditempat seperti sedang melakukan pemanasan pada kedua kakinya, "Karena kalian telah membuat marah Runner of the end, jadi apa boleh buat, aku akan memperlihatkan kekuatan yang telah merenggut banyak korban ke kalian berdua.." ucap Schiacone sembari tersenyum licik menyeringai.


Waktu bermain-main telah usai, Schiacone telah bermain cukup sampai-sampai Izumi dan Ayase sedikit berhasil melukainya. Schiacone bersiap dengan melakukan ancang-ancang, apakah yang akan dia lakukan?


"Runner of the end.. Low.."


Setelah itu, Schiacone berlari dengan sangat kencang melewati Izumi dan Ayase begitu saja. Kini Schiacone sudah berdiri tepat satu meter dibelakang Izumi dan Ayase.


"!!!!!" Izumi dan Ayase terkejut karena kecepatan lari dari Schiacone tidak bisa ia lihat begitu saja. Bahkan mereka sudah menyadari bahwa Schiacone sudah berada dibelakang mereka begitu saja.


Izumi dan Ayase tak bergerak sama sekali karena efek dari rasa terkejut. Mereka berdua menelan ludah, dan menunggu apa yang akan terjadi.


Namun, tak terjadi apa-apa. Lantas, hal itu sedikit membuat Izumi dan Ayase cukup kebingungan dan heran.


"Eh? Tidak terjadi apa-apa?" Tanya Ayase.


"Ayase, sepertinya dia melakukan itu dengan maksud tujuan hanya untuk menggertak kita-" ucap Izumi.


"Tidak. Aku tidak menggertak kalian. Rasakanlah, sebentar lagi sesuatu yang sangat besar akan segera tiba.." ucap Schiacone.


Beberapa detik kemudian, Izumi dan Ayase pun merasakan seperti hembusan angin yang tiba-tiba perlahan mulai kencang. Hembusan angin kencang di tengah musim dingin seperti ini.. entah, apa yang akan terjadi setelah ini..


Lalu, dari kejauhan terlihat badai salju yang bergerak sangat cepat ke arah Izumi dan Ayase. Kedua kaki mereka berdua tidak bisa digerakkan karena terlalu panik dengan apa yang didepannya.


"Ja-jadi ini, kekuatan dari Ru-Runner of the end?!!" ucap Izumi.


Badai salju itu pun akhirnya menerjang dan melahap Izumi dan Ayase, "Wiushhh!!!" Badai salju itu terus menetap di tempat Izumi dan Ayase berada, seperti seekor predator yang sedang memangsa target nya.


"Huahaha!!! Karena aku cukup baik kepada kalian, maka aku gunakan kekuatanku dengan kapasitas level low!! Menyiksa terlebih dahulu lalu membunuh kalian, sepertinya ini sangat menarik sekali!!!" Schiacone tertawa jahat terbahak-bahak.


Tiga menit badai salju itu berlangsung melahap Izumi dan Ayase, akhirnya badai salju tersebut perlahan mulai berhenti, dan terlihat mereka berdua berada dalam posisi tergeletak di tanah dengan banyak luka goresan di sekujur tubuhnya.


"Apa tidak ada orang yang bisa membuatku merasa puas saat bertarung?! Bahkan sampai dua bocah cecungu yang bodoh nan nekat ini mengajak dan menantangku berduel!!" Teriak Schiacone.


"Maafkan aku, Izumi, Ayase, sepertinya aku terlambat. Tapi, tak kusangka aku dipaksa harus melawan Runner of the end untuk saat ini, ya tapi apa boleh buat.." Seseorang telah datang ditengah-tengah pertarungan yang tak seimbang tersebut.


"Huh? Siapa kau?" Tanya Schiacone sembari melirik ke arah orang yang baru saja datang tersebut.


B E R S A M B U N G