
Paladino dan Benn pun memulai untuk melakukan interogasi terhadap Saito. Benn juga melontarkan satu pertanyaan untuk dijawab oleh Saito.
"Sejak kapan kau bekerja sebagai pembunuh bayaran? Dan sejak kapan kau melakukan aksi keji ini?" tanya Benn.
Saat mendengar pertama Benn, Saito pun lagi-lagi tersenyum licik dan berkata, "Aku tidak akan mengatakan apapun.." jawabnya dengan cukup tenang.
"Cplessshh!!!" Benn pun langsung mencambuk tubuh Saito dengan sangat kuat. Bahkan bagian baju yang terkena cambukan tersebut pun langsung sobek begitu saja. Terlihat dari sorot wajah Saito, ia sedang menahan rasa sakit yang ia terima.
"..... Baiklah, sekarang giliranku. Siapa orang yang membayarmu untuk melakukan aksi penculikan dan pembunuhan ini?" tanya Paladino.
"Aku tidak punya hak untuk menjawab pertanyaanmu. Bunuh saja aku, karena aku tidak akan mengatakan apapun kepada kalian.." ucap Saito.
Tanpa basa-basi, Paladino pun langsung menggunting kulit Saito hingga mengeluarkan banyak darah, "Uaghhh!!!" Saito berteriak sekencang mungkin.
Paladino dan Benn pun memberikan pertanyaan secara bergantian kepada Saito. Dan ketika Saito tidak menjawab pertanyaan itu, maka Paladino dan Benn akan menyiksanya menggunakan gunting dan cambuk yang telah mereka berdua pegang.
Saito menjerit kesakitan kembali karena disiksa oleh Benn dan Paladino karena tak menjawab pertanyaan mereka berdua. Saito sangat teguh pada pendiriannya serta harga diri prinsipnya. Meski sekujur tubuhnya sudah disiksa berkali-kali oleh Benn dan Paladino, ia masih dengan keras kepalanya tidak mau sama sekali menjawab pertanyaan itu.
Kini Saito yang perlahan mulai kehilangan kesadarannya, namun ia terus menahannya.
Raiden yang melihat hal itu pun langsung membalikkan badannya dan menatap ke arah lain. Dia benar-benar tak kuat melihat penyiksaan yang dilakukan Benn dan Paladino.
"Mereka berdua itu memang psikopat kalau sudah bersama. Benar-benar seperti dua orang kombinasi yang sangat menyeramkan.." ucap Raiden. Ia sedikit melirik ke arah Benn dan Paladino yang masih menyiksa Saito karena tak mau mengatakan informasi apapun.
"Karena aku tak mau ikut campur dalam urusan ini. Maka aku akan diam saja. Meski aku ingin menolong orang itu, tapi orang itu sudah membunuh banyak nyawa. Mungkin ini adalah hukuman yang pantas dia dapat dari kejamnya membunuh orang-orang tak bersalah.." ucap Davidestorm.
"Davidestorm, ini hari rapat antar Walikota, kan? Sepertinya Izumi dan yang lainnya sudah bersama Firehn.." ucap Vika.
"Ya, semoga mereka baik-baik saja-" ucap Davidestorm.
"Hoey, kalian berdua!!" Saito memanggil Davidestorm dan Vika, "Kalian mengatakan rekan-rekan kalian saat ini bersama Firehn, kan?" tanya Saito.
"Benar, memangnya kenapa?" tanya balik Davidestorm.
"Semoga saja teman-temanmu itu berhasil melindungi Firehn ya. Karena Hugo dan Amber, kedua rekan pembunuh bayaranku, mungkin akan membunuhnya!!!" teriak Saito.
"Hugo? Amber?" gumam Paladino.
"Apa katamu?! Jadi maksudmu kedua rekanmu itu sudah berada di pertemuan itu untuk membunuh Tuan Firehn?!" Benn pun langsung berbalik dan berjalan ke pintu keluar gudang, ia berencana datang ke pertemuan antar Walikota tersebut, namun..
"Tunggu dulu.." Davidestorm langsung mencegatnya, "Paman Firehn sekarang bersama rekan-rekan kami, jadi aku yakin Izumi dan yang lainnya bisa melindunginya.."
"Apa kau yakin?"
"Ya, kau tak perlu khawatir akan hal itu. Teman-temanku juga tak kalah kuat. Aku yakin mereka bisa melindungi Paman Firehn.." ucap Davidestorm.
Benn pun berbalik berjalan mendekat ke arah Saito, "Baiklah. Kalau itu yang kau katakan, aku percaya. Kita tak boleh musuh melukai Tuan Firehn. Karena dia adalah orang yang sangat penting bagi kami.." ucap Benn.
"Huh? Apa kalian meremehkan kedua rekanku, ya? Mereka berdua akan menjadi sangat kuat tak terkalahkan bila saling bekerjasama satu sama lain. Ketika mereka berdua sudah saling bekerjasama satu sama lain, maka mereka akan mempunyai kekuatan tak terbatas.." ucap Saito.
"Apa maksudmu?!" tanya Paladino dengan nada sinis.
"Kalian belum mengetahui kekuatan Hugo, bukan? Aku yakin, semua orang yang berada disana akan dengan sangat mudah dibunuh oleh Hugo. Dia adalah pembunuh bayaran yang sangat kuat dari yang kukenal.." ucap Saito.
"Baiklah, kalau kau bersikukuh begitu. Jangan salahkan aku kalau teman-temanmu terbunuh. Aku hanya sedikit membantu kalian dengan mengatakan hal ini.." ucap Saito.
"Hoey, aku tak menginginkan informasi seperti itu darimu. Aku hanya ingin tahu informasi siapa dalang dibalik pembunuhan dan penculikan ini hah?!!" Bentak Paladino.
"Kalau kalian terus memaksaku begitu, maka apa boleh buat, aku akan memberi tahu informasi itu kepada kalian. Sebelum itu aku ingin mengatakan sesuatu.." ucap Saito sembari tersenyum licik.
"Mengatakan apa?" tanya Benn.
"Aku menyerah. Jadi, aku akan mengatakan semua informasi itu kepada kalian. Jadi, kumohon jangan siksa aku setelah ini. Aku sudah menyerah nih.." ucap Saito. Dia masih tersenyum licik.
"Cepat katakan, sialan!!!" teriak Benn.
Raiden pun kembali berbalik dan menatap ke arah Saito.
"Buka pakaianku. Disana terdapat informasi yang sebenarnya. Kalian akan segera tahu dalang dibalik pembunuhan dan penculikan itu.." ucap Saito.
"Huh? Kau mau menipu kami?" tanya lagi Benn.
"Kalau tidak percaya yasudah.."
"Cih.." Benn pun langsung merobek pakaian Saito. Setelah itu, tiba-tiba Benn memasang raut wajah terkejut dan panik, "Sialan kau, ternyata kau sudah menjebak kami.."
"Yang aku maksud adalah dalang dibalik pembunuhan terhadap kalian yang berada disini adalah aku.." ucap Saito tersenyum licik.
Semua orang yang berada di ruangan ini juga sangat terkejut dan menjadi panik karena terdapat sebuah bom waktu yang menempel di dada Saito. Dan bom waktu itu menunjukkan angka lima belas detik sebelum waktu meledak.
"Semuanya!! Cepat keluar dari rumah ini!! Dia benar-benar sangat gila karena akan melakukan bom bunuh diri!! Dia juga berniat untuk membunuh kita bersamanya!!" teriak Benn.
"Ah, sialan!!" Paladino geram.
"Apa?!!!! Bom waktu?!!!" Raiden sangat panik.
"Gawat, Vika!! Kita harus cepat-cepat keluar dari tempat ini!!" ucap Davidestorm.
"Ya!!" Jawab Vika dengan singkat.
Ketika Benn, Paladino, Raiden, Vika, dan Davidestorm sedang berlari keluar dari ruangan tersebut. Saito yang masih tersenyum licik pun berkata, "Selamat tinggal dunia. Hey, kalian mau kemana? Kita kan akan segera pergi ke Neraka bersama-sama, bukan?"
Tak berselang lama setelah itu, sebuah ledakan yang sangat besar pun terjadi, "Duarrrrrrrrrrr!!!!" Ledakan yang luar biasa dahsyatnya. Bahkan ledakan itu sampai terdengar di seluruh penjuru Man City.
Ledakan besar karena aksi bom bunuh diri yang dilakukan Saito pun membuat geger semua orang yang tinggal di Man City. Suara ledakan itu menyebar luas gelombang kejut.
Bahkan, orang-orang yang berada dalam rapat antar Walikota pun juga merasakan suara ledakan itu yang sangat besar.
Mereka semua yang berada dalam ruangan tersebut pun langsung menoleh ke arah ledakan dari dalam jendela gedung.
Ledakan besar itu telah mengejutkan semua orang.
B E R S A M B U N G