
Tak terasa pagi hari telah tiba. Matahari yang muncul setelah pergi nya bulan untuk menyinari dunia yang memasuki hari baru. Semua orang tidak akan tahu apa yang akan terjadi dengan nasib mereka hari ini. Entah mereka akan menjalani kesenangan atau kesedihan. Karena takdir sudah menentukan jalan hidup mereka.
Di penginapan. Terlihat Firehn, Xia, Izumi, dan yang lainnya sudah berkumpul di satu ruangan yang sama untuk membahas sesuatu kecuali Vika dan Davidestorm yang menemani Aisah bermain di kamar nya.
"Baiklah, maafkan aku karena menyuruh temna kalian untuk menemani Aisah. Aku tidak ingin Aisah tahu akan masalah ini." ucap Firehn.
"Ya, tidak apa-apa. Aku bisa memberitahu mereka nanti." Yoshino.
"Pertemuan antar Walikota akan diadakan dalam kurun waktu dua hari lagi. Mungkin, rapat ini tidak akan berjalan baik. Karena, prinsipku yang berbeda dengan sebagian dari walikota lainnya. Pergesekan yang terjadi sedikitpun, pasti akan menimbulkan perseteruan." Firehn menjelaskan kepada mereka yang hadir dalam ruangan tersebut.
"Kau tidak perlu khawatir, Firehn-san. Aku pasti akan mengawalmu dan melindungimu agar merasa aman-" ucap Xianfeng.
"Tidak. Xia, Pilkington, Dapidson, dan Xianfeng. Aku berubah pikiran, aku tidak bisa membuat ikut dalam pertemuan itu, karena para walikota yang menyewa pembunuh bayaran mungkin akan mengetahui identitas yang sebenarnya, ditambah kalian berempat juga terlibat dalam pertarungan kekalahan Konstantine." ucap Firehn.
"Lalu, bagaimana dengan Izumi dan yang lainnya?" tanya Dapidson.
"Karena mereka bukan masyarakat asli Negara Grousse Kontinent, jadi mereka tidak terdaftar dalam buku Bingo. Mereka tidak akan menjadi incaran." ucap Firehn.
"Disini aku ingin bertanya padamu, Firehn-san. Bagaimana kau tahu tentang Buku Bingo yang berisi daftar orang-orang yang akan menjadi target, entah itu penculikan atau pembunuhan. Kenapa kau bisa mengetahui hal itu, sepertinya ada yang kau sembunyikan dari kami?" tanya Xia.
"Aku punya koneksi dengan beberapa orang diluar sana. Dan aku baru saja mendapatkan informasi tersebut tadi malam, setelah makan malam selesai. Rekanku berhasil menangkap salah satu pembunuh bayaran dan terlibat dalam aksi penculikan serta pembunuhan." ucap Firehn.
"Cukup wajar kalau Firehn-san mempunyai beberapa koneksi terhadap seseorang diluar sana. Jadi, apa yang kami lakukan disaat kau rapat?" tanya Pilkington.
"Xia, Xianfeng, Pilkington, Dapidson. Aku punya tugas sendiri untuk kalian berempat. Tugas ini adalah antarkan Aisah kepada Ibunya. Saat ini ibunya berada di sebuah rumah besar tepat dibagian ujung barat Man City." ucap Firehn.
"Pergi ke ujung barat Man City? Kapan?" tanya Dapidson.
"Beberapa jam lagi kalian akan segera berangkat. Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, aku telah meminta bantuan kepada temanku untuk mengawal kalian. Jadi, tenang saja.." ucap Firehn.
"Ah, baiklah." ucap Xia.
"Lalu, untuk Vika, Davidestorm, dan Paladino. Nanti kalian bertiga pergilah ke tempat ini." ucap Firehn, ia menyerahkan selembar kertas berisi alamat.
Paladino mengambil selembar kertas tersebut, "Dimengerti, Tuan Firehn." Paladino langsung memasukkan kertas berisi alamat itu kedalam saku celananya.
"Karena banyak sekali yang terjadi di hari kemarin. Jadi, aku harus menyusun ulang rencana agar tidak berantakan. Semua orang pasti mengira tidak akan terjadi apa-apa setiap harinya. Namun, bila takdir berkata lain, mereka takkan bisa melakukan apa-apa.." ucap Firehn.
"Tuan Firehn, kenapa kau mengutus kami bertiga ke tempat ini?" tanya Paladino.
"Kau akan tahu sendiri bila sudah sampai disana." jawab Firehn, "Lalu, untuk Izumi, Yoshino, dan Killa, kalian bertiga akan ikut denganku ke rapat antar Walikota.." ucap Firehn.
"Baiklah, aku menerimanya, asal kau memberiku banyak minuman anggur, bagaimana?" Yoshino mencoba untuk menawar.
"Pizza juga!! Aku juga ingin memakan banyak Pizza!!" ucap Izumi dengan nada bersemangat bila menyangkut tentang Pizza.
"Iya-iya, aku akan memberi kalian minuman anggur dan pizza, ini juga bayaran karena aku menyuruh kalian untuk mengawal ku nanti.." ucap Firehn tersenyum.
"Hadeh.." Killa menepuk jidatnya.
Semua orang sudah ditentukan oleh Firehn kemana masing-masing mereka akan pergi. Pilkington, Xia, Xianfeng, dan Dapidson, mereka berempat akan mengantar Aisah kepada ibunya. Sementara, Paladino, Vika, dan Davidestorm akan pergi ke alamat yang diberikan oleh Firehn. Lalu, Izumi, Yoshino, dan Killa, mereka bertiga akan pergi mengawal Firehn ke pertemuan rapat antar Walikota nanti.
Sementara itu, di sebuah gudang yang berisi peralatan-peralatan mekanik, terlihat Saito yang duduk di kursi dengan kedua tangannya terikat kencang kebelakang. Lalu, dihadapan Saito terlihat Benn dan Raiden.
"Benn-san, sebenarnya aku tak percaya ini, kau bisa mengalahkan salah satu dari tiga orang pembunuh bayaran ini." ucap Raiden dengan kedua matanya yang berbinar-binar karena terpukau.
"Hei, kalian berdua. Meski kalian menyiksa diriku, aku takkan membocorkan informasi apapun pada kalian.." ucap Saito sembari tersenyum licik.
Kemudian, Benn pun langsung menarik rambut Saito dengan cukup kencang, "Akhh!!" Saito sedikit merasa kesakitan.
"Hoey, aku belum menyuruhmu untuk berbicara. Seharusnya kau siapkan saja jawabanmu nanti, karena nanti aku akan bertanya informasi padamu." ucap Benn, ia pun melepaskan tarikan rambut Saito.
"Kau tuli atau bagaimana, dasar bodoh. Baru saja aku bilang kepadamu kalau aku takkan memberitahu informasi apapun, meski kalian akan menyiksaku. Aku akan tetap bungkam. Walau aku harus mati." ucap Saito.
"Huh? Kau gila, ya? Apa kau tidak takut disiksa dan mati?" tanya Raiden.
"Takut mati, katamu? Ah, tidak. Aku tidak takut mati karena resiko menjadi pembunuh bayaran. Tapi, aku malah senang karena kalian tidak mendapatkan informasi apapun dariku, dan gagal menemukan dalang yang sebenarnya dibalik penculikan dan pembunuh. Kalian pasti akan penasaran seumur hidupmu." ucap Saito.
"Oey, sampai kapan kau akan mengoceh? Sudah jelas aku tidak peduli dengan ucapanmu. Aku hanya peduli dengan informasi yang kau berikan, dan saat ini aku tidak memberimu izin untuk berbicara, dasar bodoh!!!" bentak Benn.
Tanpa basa-basi, Benn pun langsung memukul wajah Saito dengan cukup keras hingga mimisan. Bahkan hanya satu kali pukulan, Saito pun langsung pingsan.
"Ah, sepertinya aku terlalu berlebihan memukulnya." ucap Benn.
"Haddeh, Benn-san. Kalau dia pingsan, akan terlalu lama kalau harus menunggunya bangun. Pukulanmu itu terlalu barbar.." ucap Raiden.
"Benar juga, seharusnya aku memperlemah pukulanku agar dia tidak pingsan. Tapi mau bagaimana lagi, Raiden. Sudah terlanjur, ya biar saja. Lagipula, kita bisa bertanya informasi kepadanya setelah dia terbangun dari pingsannya.." ucap Benn.
"Yare-yare.." ucap Raiden.
B E R S A M B U N G
Jangan lupa like koment dan share serta kritik dan saran yang membangun agar cerita Cosplay ini semakin berkembang untuk kedepannya nanti.