
Bulan purnama menyinari malam yang begitu mencekam di Rose Town, suara-suara hewan malam seperti burung hantu, jangkrik, aungan serigala melengkapi suasana malam ini. Apalagi, ditambah munculnya kabut-kabut tipis yang sedikit menutupi pandangan mata manusia.
Di jalanan yang sudah tak beraturan lagi, terlihat Lee, Cecilia, dan Wibu terkapar dengan banyak bekas luka di sekujur tubuhnya. Mereka sudah tidak bisa bergerak kembali dan meringis kesakitan.
"Akh, tak kusangka seorang rookie sepertimu bisa menggunakan kekuatan kuat begini." Cecillia tak menyangka bahwa dirinya sudah dikalahkan oleh Shoba. Bahkan ia berkali-kali gagal ketika mencoba untuk berdiri kembali.
"Padahal teknik ini sudah kurencanakan untuk kugunakan saat membalas kekalahan kepada Izumi nanti. Tapi aku terpaksa menggunakan teknik itu agar membuat kalian sedikit mengerti apa arti dari mulut besar kalian itu.." Shoba membelakangi Cecilia, Lee, dan Wibu, ia berkata dengan nada sinis, dan juga dengan tatapan tajam.
"..... Sialan, aku yakin sebentar lagi kau pasti akan ditangkap-" ucap Wibu.
"Diamlah!!" Shoba merasa cukup kesal dengan ocehan Wibu. Ia pun berjalan ke arah Wibu lalu membungkam mulutnya dengan salah satu kakinya, "Akan kubuat kau tidak bisa mengatakan sesuatu untuk selamanya, brengsek!!"
Akan tetapi, tak berselang lama setelah itu, sebuah gerbang portal kembali muncul di dekat Shoba. Dari portal tersebut terlihat Ruo Yiu dan Daiamond Suruferu yang baru muncul.
Portal tersebut adalah salah satu teknik dari kekuatan teleportasi milik Ruo Yiu. Ruo Yiu bisa berteleportasi dengan cepat kemanapun ia mau ketika masih mencakup area wilayah Lunarian.
"Aku sedikit kagum dirimu bisa mengalahkan rekan-rekan kami. Entah kau menggunakan kekuatan seperti apa hingga bisa membuatnya kalah telak begitu." ucap Ruo Yiu dengan tersenyum licik.
"Ini menarik sekali. Sekarang apa yang akan kau lakukan bila sudah begini." ucap Daiamond.
"!!!!!" Shoba terkejut ketika sudah dikelilingi oleh formasi segi empat dari mobil balap milik Chievo, Verona, Paloschi, dan Derupiero. Ditambah sebuah bunga matahari yang cukup besar muncul dari dalam tanah. Tak berselang lama bunga matahari itu mekar dan terlihat Himawari yang berjalan keluar dari bunga matahari tersebut.
"Aku tak bisa membiarkan semua anak buah ku dikalahkan olehnya begitu saja. Untuk kali ini biar aku yang akan melawannya secara langsung. Dan kalian semua, perhatikan saja baik-baik.." ucap Himawari, ia berjalan beberapa langkah mendekat ke arah Shoba.
"Kau lagi kau lagi. Entah kenapa kita selalu saja bertemu, Himawari. Apakah ini sebuah takdir layaknya cinta?" ucap Shoba dengan nada menggoda.
"Sejak kapan kau bisa merayu seorang perempuan, Shoba. Apa kau terpesona dengan kecantikanku? Apa kau ingin kupeluk juga?"
"Boleh saja kalau kau ingin memelukku."
"Tentu saja aku akan memeluk dirimu ketika sudah mati terbunuh."
"Ya, katakan itu setelah kau berhasil membunuhku."
Ruo Yiu, Daiamond, Chievo, Verona, Paloschi, Derupiero membukakan jalan kepada Himawari yang sedang bergerak mendekat ke arah Shoba. Himawari melebarkan telapak tangan kanannya, kemudian muncul setangkai bunga matahari di tangan Himawari.
"Aku akan bertarung serius karena sudah tidak ada waktu lagi untuk bermain-main. Aku akan segera menangkapmu kembali. Meskipun kau hanya seorang sampah, sampah sekalipun masih terdapat nilai harga jual. Sayang sekali kalau disia-siakan begitu saja.." ucap Himawari.
Himawari tersenyum menyeringai, ia begitu tenang, seolah-olah menganggap Shoba tak lebih hanya sekedar seorang kroco biasa. Himawari melepaskan dan menjatuhkan setangkai bunga matahari ke tanah dan..
"Krakk!!!" Ketika Shoba sangat dekat dengan Himawari dan berniat untuk melesatkan serangan, tiba-tiba tanah yang dipijak Shoba dan Himawari bergetar dan menciptakan sebuah retakan kecil. Selang beberapa detik, timbullah keretakan besar dan..
"!!!!!" Shoba melompat beberapa langkah kebelakang setelah melihat sebuah akar muncul dari dalam tanah.
Akar yang muncul dari dalam tanah tersebut akhirnya tumbuh sebuah bunga matahari, kemudian mekar. Memanglah tampak indah, akan tetapi dibalik keindahan tersebut bunga matahari itu menyimpan sesuatu yang berbahaya.
Ternyata oh ternyata bunga matahari tersebut mengeluarkan serbuk beracun yang membuat udara disekitar menjadi tercemar. Siapapun yang menghirup udara yang sudah tercampur dengan serbuk beracun itu maka pikirannya akan dikendalikan secara penuh oleh Himawari.
Sisa-sisa anggota divisi Warrior juga tampak sudah berada sangat jauh dari lokasi untuk berjaga-jaga agar tidak terkena efek dari serbuk beracun dari bunga matahari milik Himawari.
"Ga-gawat!!" Shoba menutup hidung sampai mulutnya dengan salah satu tangannya agar tidak menghirup udara yang sudah tercemar oleh serbuk beracun. Awalnya Shoba hendak menjauh, akan tetapi semua itu sudah terlambat. Kini Shoba terpaksa harus menahan nafasnya.
"..... Bagaimana? Sampai kapan kau akan menahan nafasmu? Apa kau berencana mati konyol tanpa ada perlawanan sama sekali? Sungguh menyedihkan." ejek Himawari.
Haddeh, aku benar-benar apes kali ini. Shoba masih menahan nafasnya agar tidak menghirup aroma serbuk beracun dari bunga matahari milik Himawari. Sudah cukup lama ia menahannya, sampai-sampai wajahnya perlahan tampak mulai membiru.
Beberapa detik kemudian, Shoba sudah tak sanggup lagi untuk menahan nafasnya, ia spontan membuka kembali hidungnya dari salah satu tangannya yang menutupnya. Shoba menghirup udara yang sudah tercemar itu dalam-dalam, dan..
"Akhhh!!!" Dada Shoba mulai terasa sesak akibat dari menghirup terlalu banyak dari serbuk beracun. Shoba jatuh berlutut didepan Himawari sembari memegangi dadanya yang merasa sesak.
Kesadaran Shoba mulai menurun, namun ia tetap menahannya agar tidak pingsan. Akan tetapi Shoba tidak bisa mengalahkan serbuk beracun yang sudah masuk dan mempengaruhi organ dalamnya. Shoba terkapar, dan hal yang terakhir ia lihat sebelum pingsan ialah sosok Himawari yang berjalan mendekat ke arahnya dengan tersenyum menyeringai.
"S-sialan..-"
~
Beberapa saat setelah cukup lama kemudian, terlihat Izumi dan Hozuki yang cukup kebingungan setelah melihat jalanan yang penuh dengan kerusakan parah bekas seseorang melakukan pertarungan.
"Izumi, sepertinya beberapa saat yang lalu ada pertarungan."
"Ya, Hozuki. Dan juga kenapa aku berfikir bahwa yang bertarung kali ini adalah Shoba."
B E R S A M B U N G