Cosplay

Cosplay
Chapter 442 - [ Spesial ] Runner Of The End III



"Musim dingin. Segala sesuatu yang mencakup tentang cuaca, hal ini akan membuatku semakin kuat. Tak jarang aku melihat ada dua orang bocah ingusan yang datang dengan lantang untuk menantangku, apa kalian ingin menjadi mayat seperti para korban lainnya?"


Kala itu Schiacone berkata dengan nada remeh sekaligus mengejek. Bagaimana tidak, Izumi dan Ayase yang masih belum mempunyai pengalaman bertarung langsung menantang raja terakhir, bagaikan kucing melawan singa, sudah dipastikan sejak awal siapa yang akan menjadi pemenangnya.


"Oey, kukira aku akan mundur begitu melihatmu yang menjadi sosok kuat sekaligus menjadi rumor dari beberapa daerah? Oh tentu tidak. Meski cuaca atau musim dingin ini menguntungkanmu, tapi asal kau tahu, musim dingin juga sangat menguntungkanku.." ucap Izumi.


Langit yang awalnya cukup cerah, kini perlahan menjadi mendung, hujan salju pun semakin deras, ditambah pertarungan akan segera dilakukan.


Ayase mengenakan kacamata khusus miliknya, "Eye Glasses : Mirror!!" Dia bisa menciptakan clone dirinya setelah melihat dirinya sendiri lewat pantulan dari kacamatanya.


Kini terdapat dua Ayase yang sedang berlari ke arah Schiacone dari arah yang berlawanan, dua Ayase juga memegang sebuah pedang yang siap untuk menusuk Schiacone.


"Mirror Glasses : Two Sword!!!"


Serangan dari dua arah Ayase, apakah mampu untuk menyerang Schiacone?


Schiacone dapat menghindari serangan tersebut dengan berputar ke arah kanan, dia berputar dengan estetik.. "Ah, Are Beautiful.."


"Cih!!" Ayase kesal karena serangannya berhasil dihindarinya begitu saja, dia kembali berlari ke arah Schiacone dan mencoba untuk menyerangnya kembali.


Ayase menebas-nebaskan pedangnya ke arah Schiacone secara bertubi-tubi, namun Schiacone terus berhasil menghindari nya dengan mudah, bahkan Schiacone berfikir bahwa Ayase adalah cocok untuk dijadikan lawan penghibur.


"Ayo serang aku lagi.." Schiacone semakin menantang, karena dia tahu, bahwa serangan yang dilesatkan Ayase takkan berhasil mengenainya sama sekali, ia menganggap bahwa skill pedang Ayase masih sangatlah di level amatiran.


"Jangan sombong!!! Hyaaaa!!!" Ayase tak menyerah, dia mencoba untuk menebaskan pedangnya lagi ke arah Schiacone.


Dan, dalam sekejap, Schiacone membuat pergerakan lincah untuk mementalkan pedang yang hendak ditebaskan Ayase ke arahnya, "Sekarang, tanpa pedang, kau bisa apa?" Schiacone langsung mengangkat salah satu kakinya, dan langsung menendang Ayase dengan cukup kuat hingga terpental jauh kebelakang, "Buaggg!!!"


"Ayase!!!" Izumi berteriak melihat Ayase yang terpental.


Izumi tak mau diam begitu saja, dia berlari ke arah Schiacone, "Ice-Ice No Skating Area!!!" Izumi membuat pijakan yang akan dia lalui menjadi es, lalu berseluncur bagaikan bermain sebuah ski, dia meluncur cepat ke arah Schiacone.


"Kekuatan es?"


"Lihatlah, apa kau takut dengan kekuatanku?!! Huahaha!!" Izumi teriak terbahak-bahak.


Izumi masih meluncur ke arah Schiacone, namun karena ia meluncur terlalu cepat, sampai-sampai dia tidak bisa menghentikannya, kini dia sudah melewati tempat Schiacone berdiri, dan Izumi tak tahu cara untuk mengeremnya.


"Huaaaa!!! Gimana caranya berhenti!!"


"Bruakkk!!!" Izumi akhirnya terpelosok ke dalam tumpukan salju setinggi satu meter.


Melihat hal itu, Schiacone pun menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata, "Ish-ish.. Bahkan aku tak perlu repot-repot untuk menghindarinya. Sepertinya tak seru kalau mereka kubunuh sekarang, ya lebih bagus kalau dijadikan kelinci percobaan terlebih dahulu.."


Izumi keluar dari tumpukan salju dan reaksi tubuhnya pun menggigil kedinginan, "Dingin!!! Padahal kekuatanku adalah es, tapi kenapa aku bisa kedinginan!!!"


"Oey, Runner of the end!! Ini tadi hanya kesalahan teknis saja, ya!! Untuk serangan berikutnya jangan harap kau bisa menghindar begitu saja!!" Ucap Izumi dengan lantang.


"Huh? Apa maksudmu? Perasaan barusan aku tidak menghindari seranganmu sama sekali ya.." ucap Schiacone dengan nada tenang.


"Jangan banyak bacotss!!" Izumi melapisi kedua tangannya yang mengepal dengan es, lalu mencoba memukul Schiacone dari arah kanan lalu ke kiri.


Pergerakan pukulan yang cukup cepat dilesatkan ke arah Schiacone, "Ice-Ice No Jab Boxing!!!" Izumi mencoba memukul pipi kanannya, tapi berhasil dihindari, lanjut Izumi mencoba memukul pipi kirinya dan lagi-lagi berhasil dihindari. Kemudian Izumi mencoba untuk memukul dagunya, lagi-lagi juga berhasil dihindari.


Pergerakan memukul dari pipi kanan, lanjut ke pipi kiri, lanjut lagi ke dagu, pergerakan itu terus digunakan berulang-ulang kali untuk menyerang Schiacone. Izumi melakukannya semakin cepat.


"Hyaaaa!!!!"


Awalnya Schiacone berhasil menghindari beberapa pukulan Izumi. Namun, pergerakannya sedikit lambat karena terus menghindari serangan Izumi. Alhasil, pukulan Izumi berhasil mengenai pipi kirinya dan membuat Shiacone terpental dan tersungkur kejalanan salju, "Buaghh!!"


Melihat hal itu, Izumi cukup senang karena serangannya berhasil mengenai Schiacone hingga terpental, "Akhirnya, seranganku bisa mengenaimu!!!"


Setelah terkena pukulan Izumi, Schiacone pun masih tergeletak sembari menatap langit, ia juga tak kunjung bergegas untuk bangkit dan berdiri kembali.


"Huh? Dia berhasil memukulku? Yang benar saja. Sepertinya aku harus sedikit memberi pelajaran padanya. Tapi, nampaknya dia cukup senang setelah berhasil memukulku. Apakah dia sampai sesenang itu ya? Apa dia kira aku sudah kalah begitu saja? Itu salah besar.." ucap Schiacone.


Schiacone bangkit dan berdiri kembali. Izumi yang melihat Schiacone berdiri lagi pun terkejut, "Eh?!! Kukira sudah kalah!! Padahal tadi adalah pukulan terhebatku!! Ah, sudahlah!! Di serangan berikutnya, kau pasti akan kukalahkan!!!"


"Bocah yang semangat, aku sedikit tertarik denganmu, bagaimana kalau kita bermain sedikit lama lagi? Yang tadi itu anggap saja sebagai sebuah pemanasan.." ucap Schiacone.


"Pemanasan?! Apa kau bodoh ya?! Pukulan sehebat tadi, kau anggap sebagai pemanasan?! Baiklah, kalau begitu, aku akan mulai serius sekarang!!" Ucap Izumi dengan lantang.


Izumi pun berlari kembali ke arah Schiacone dengan cukup cepat. Dia mencoba menyerang Schiacone dengan kekuatan es nya. Akan tetapi, Schiacone bergerak cepat dan langsung saja menyerang balik Izumi dengan teknik beladirinya.


"Buaghh!! Buaghh!! Buaghhh!!" Schiacone menendang perut Izumi dengan dengkul nya, memukul pipi kanannya, lalu memukul dagunya. Setelah itu Schiacone menendang bahu Izumi dengan sangat kuat hingga terpental jauh dan terperosok ke jalanan yang tertutupi salju.


"Untuk melawanmu, aku tak perlu repot-repot menggunakan kekuatan asliku. Kau hanya sebuah kelinci percobaan bagiku, karena aku juga merasa bosan, jadi aku berfikir sepertinya menarik bermain-main dengan bocah bodoh sepertimu.." ucap Shiacone.


"Aku.. tidak.. bodoh!!" Izumi bangkit dan berdiri kembali, terlihat bekas memar yang terdapat pada wajahnya, "Bertemu dengan Runner of the end disini adalah Moment yang sangat langka, jadi takkan kubuang sia-sia kesempatan ini."


"Huh?"


"Aku datang kesini untuk menantangmu, sekaligus mengalahkanmu, Runner of the end!!!"


"Dasar, sepertinya kau tidak tahu kapan caranya untuk menyerah, tapi.. Ya, baiklah, aku akan meladenimu sesuka hatimu!!" Ucap Schiacone.


B E R S A M B U N G