Cosplay

Cosplay
Chapter 262 - Figuran.



".... Pionku sampah, baru mulai dua orang sudah kalah, apakah sebaiknya aku menurunkan Rekuto dan Sinn?" Lucian berguman, meskipun dia tampak santai barusan, dia tetap masih penuh dengan kepanikan karena dua pionnya sudah kalah dengan gampang banget.


"Maafkan aku Boss, soalnya lawannya imunne terhadap kemampuanku..." ucap Risty.


"Sudah-sudah aku akan mengeluarkan dua pionku yang terkuat.." balas Lucian, dia kembali melakukan hal yang serupa, menekan konsol gamenya untuk melakukan Sistem Call.. "Sistem Call: Rekuto and Sinn!!!"


".............." Lucia tak berkata apa-apa, dia hanya sedikit terkejut karena sang Lucian langsung memanggil dua orang sekaligus.


"Yes Master, ada yang bisa dibantu?" Tanya sang Rekuto, "Ya.." sambung Sinn.


"Kita akan mengalahkan musuh kerad kepala, dia sangat kebal dan melakukan chiter karena dia bisa imune terhadap sistemku!!" Ucap Lucian dengan sedikit mengeraskan suaranya, tampaknya dia menahan kekesalan yang berlebihan karena Lucia tidak gampang kalah.


"... Sinn, aku akan beraksi duluan, lihatlah kemampuanku..." ucap Rekuto.


Rekuto terlihat mungkin seperti ingin menyerang, tetapi nampaknya dia tidak akan menyerang karena dia hanya melakukan pose gajelas dengan defense yang aneh.


"Attack me, show your skill!!!" Seru Rekuto, dia menantang Lucia untuk menyerangnya, Lucia nampak mendengar hal itu dengan jelas, dia bahkan tak menyia-nyiakan kesempatan itu, dia berlari dengan cepat mengarah kepada sang Rekuto yang tak bergeming dari tempat dia berada.


"Seranglah sekuatmu, tapi itupun jika kau berhasil.." ucap Lucian, dia tersenyum senang, karena kemampuan sang Rekuto adalah Absolutely Defense. Dimana serangan apapun takkan bisa menembus pertahanannya.


Benar saja, saat perlahan Lucia mendekat dan melesatkan tendangan lewat kaki kanannya, perlahan namun pasti seakan-akan ia merasakan benturan tak terduga, Lucia terlempar kembali kearah berlawanan setelah melesatkan tendangannya... "Huh?" Bahkan ia terkejut, mengapa tendangannya tak menembus.


"Kemampuanku adalah Absolutely Defense, dimana pertahananku sangat kuat seperti memiliki perisai..." ucap Rekuto, dia menjelaskan kemampuannya. "Aku menjelaskannya pun percuma, karena kau takkan bisa menembus..."


".... Definisi kemampuanku adalah menyentuh, dan dengan begitu sniper-sniper target akan aktif, dimana... semua hal yang berwujud sesuatu bisa menyerangmu dengan sangat tepat.." balas Lucia, dia bangkit berdiri, menatap sang lawannya dengan tatapan sadistik yang dipenuhi keseriusan berlebihan.. "Kau melewatkan topik yang berbahan dasar debu, dimana disinipun tetap ada debu, mau sebagus apapun pertahananmu, kau takkan bisa menahan debu..."


"Eh?"


"Sniper-Sniper: Dust to Dust....."


"Sepatuku dipenuhi debu, dan saat tendangan kaki kiriku kulesatkan kepadamu, itu sudah mengandung debu yang berterbangan dan terabaikan oleh defense, pertahananmu hanyalah berdasarkan benturan dan serangan, tetapi debu bukanlah serangan..." Apa yang ia targetkan bukanlah musuh di depan, melainkan debu yang berterbangan dan terabaikan oleh defense.


Dimana, debu-debu yang berada di area sang Lucia, kini Lucia lepaskan saat ia mengaktifkan kemampuannya, kemampuan Sniper-Sniper, dimana objek yang sudah ditandai jika diempar dengan debu, maka debu itu akan kembali kedebu yang menjadi targetnya.


"Satu butiran debu itu ada di sekitaran wajahmu, jika mereka debu lainnya melesat maka.... sudah bisa ditebak..." Lucia sangat santai, bahkan setelah butiran debu yang menjadi target debu lainnya..


"M-my eyes!!!!"


"Dih kalahnya gampang banget, Absolutely defense kalah ama sebutir debu!!!" Lucian yang barusan senang kini kesal kembali, karena Pion terkuat pertama malah kalahnya gampang banget.


"Xixixixixixi ciyee kalah..." Sinn malah mengejek si Rekuto, "Kau itu cuma menang power doang, tapi otakmu dangkal..." Sinn sudah maju kedepan, dia sangat pede bisa melosekan sang Lucia dengan super ezz dan super fast hand...


"Ore no power, misete ageru... Sistem Call: Mati Lampu...."


"Huh?" Pandangan Lucia menjadi gelap, bukan karena gangguan penglihatan, melainkan akibat dunia game ini menjadi sangat gelap karena kemampuan sang Sinn adalah menggelapkan suasana.


"Rasakan ini!!!"


Entah apa yang dia lakukan, dalam suasana mati lampu ini, perlahan sang Lucia meringis kesakitan seakan-akan terkena serangan fatal dari Sinn.


"Apa kelemahannya?" Tanya Lucia dengan santai, meskipun dia sedikit meringis kesakitan, dia masih bisa santai menghadapi lawannya.


"Orang bodoh macam apa yang akan memberitahu soal kelemahannya? Temtu saja powerku ini counter attaknya adalah cahaya hapemu!!!"


"Eh.... Aku baru sadar, aku memberitahukannya!!!"


"Thanks!!" Si Lucia mengeluarkan smartphone-nya dan bersiap menghidupkan senter...


"Sistem Call: Mati Lampu!!!"


"Sistem Call: Senterkun!!!" Lucia juga gak mau kalah, tapi suasana malah tetap gelap.


"Hoho, kau kira itu konter etteknya? Temtu saja tidak semudah itu senorita.. karena aku bisa menggelapkan apapun disini.... kemampuanku adalah menggelapkan suasana!! Bukan mematikan lampu!!"


Senter Lucia memang sudah menyala, tapi tetap cahayanya hanya menjadi kegelapan, bahkan ponselnya saja yang belum keclose alias masih menyala dengan durasi gelap layar 5 menit kemudian, malah menjadi gelap juga.


"Kemampuan ini menyiksa...." ucap Lucia, dia mulai tak bisa santai kali ini, seakan-akan dia seperti figuran.


Namun, penerangan kembali lagi, suasana sudah menjadi terang kembali, Sinn sangat santai karena dia yakin kelemahannya tidak diketahui oleh sang lawan. "Gimana? Pengen Nyerah dan pulang? Lalu lapor mamahmu karena kamu kalah sama saya? Silahkan!! This is Free!!"


"Habisi dan kalahkan dia, Sinn!!!" Perintah si Lucian, Lucian kali ini super senang karena dia yakin dengan kemampuan Sinn yang keren, Lucia akan kalah.


"Souka..." Balas Lucia.


"Loh?" Sinn dan Lucian malah terheran-heran mengapa Lucia mendadak berkata pendek, seakan-akan dia menemukan jawabannya.


"Otak lebih dangkal adalah kamu, soalnya kamu dengan sengaja memakan umpan..." balas Lucia, "Kamu hanyalah Figuran, kemampuan aneh yang dimiliki Figuran hanyalah menggelapkan suasana..."


"Banyak bacot kamu ya!!"


"Lihat dibelakangmu, ada apa berterbangan?" Lucia malah berkata santai penuh pertanyaan.


"N-nani????????????!!!!!" Beberapa Helai rambut yang menajam sudah berada di belakang sang Sinn, dan bersiap akan menyerang Sinn.


"Kau menyentuhkan eksistensimu kepada eksistensiku, dimana eksistensimu sudah kuketahui, dan begitulah bagaimana sistem Sniper-Sniperku bekerja..."


"B-badassss!!!!!!!!!!!!!!!" Teriak si Sinn, yang kemudian dia merasakan tubuhnya tertusuk oleh helai rambut yang menajam.


Sniper-Sniper, kemampuan ini akan aktif jika Eksistensi sang musuh sudah dia sentuh, atau bahkan jika musuh menyentuh eksistensi tubuh sang Lucia, maka Lucia bisa menyentuh area yang diserang musuh dan itu akan menjadi penyentuhan eksistensi.


Dimana setiap eksistensi musuh yang sudah ia ketahui lewat sentuhan eksistensi maka kemampuan Sniper-Snipernya bisa melacak dan bahkan mengenai sang musuh dengan absolutely akurat.


"D-dia terlalu kuat..." Sinn terkapar, tangan dan kakinya terkena helai rambut yang menajam, "Mendingan aku menyerah terkena helai rambut yang menajam, daripada dilempar pake pedang atau pisau, itu bisa mati beneran..."


"Pionmu..." Lucia berkata santai, "Pionmu.... Figuran... mereka seperti Figuran..."


B E R S A M B U N G