
Dunia yang perlahan menjadi gelap seakan-akan hari mulai malam. Ditambah, orang-orang yang sedang berperang seketa lenyap dengan cepat, itulah yang dilihat oleh Plavio, Lukas, Lander, Gia dan Jankovic saat ini.
Mereka berlima telah masuk ke dalam ilusi yang diciptakan oleh Killa. Mereka terlihat cukup kesal setelah menyadari hal tersebut, mereka tak percaya telah terkena ilusi milik Killa.
"Sialan..!!" geram Gia setelah mengetahui dirinya telah terjebak ke dalam ilusi yang diciptakan oleh Killa. Ia pun mundur beberapa langkah sambil melihat situasi sekitar.
Kemudian, Gia pun terkejut karena keempat rekannya tiba-tiba menghilang entah kemana. Ia pun cukup panik setelah menyadari keempat rekannya telah menghilang.
"Plavio! Lukas! Jankovic! Lander! Kalian dimana!! Kenapa kalian berempat tiba-tiba menghilang!!" teriak Gia yang mulai terlihat sangat panik.
Lalu, dunia yang Gia lihat pun mulai berubah dengan sangat drastis. Dunia yang ia lihat menjadi gelap gulita dengan sebuah pencahayaan yang hanya meneranginya saja.
"Hoi.. hoi.. apa yang sebenarnya terjadi, kenapa jadi begini.." ucap Gia, ia mulai merasa sendirian setelah kehilangan keempat rekannya.
Tiba-tiba, beberapa meter di depannya, Gia melihat sebuah kenangan masa lalu saat dia berada dalam kesendirian, dikucilkan, intinya sungguh menyedihkan.
Ya, Gia melihat ingatan masa lalunya sendiri di depannya disaat ia merasa sendirian, dikucilkan, bahkan tak ada yang peduli dengannya. Itu adalah kenangan menyakitkan bagi Gia.
Gia pun langsung duduk sambil memegang lututnya dengan tatapan kosong. Nampaknya ia mulai meratapi kesendiriannya dengan ingatan menyakitkan miliknya.
Disisi lain, dari sudut pandang Plavio, Lander, Lukas, dan Jankovic, mereka berempat heran karena melihat Gia yang berdiri dengan tatapan kosong. Plavio pun langsung menghampiri Gia dan menggoyangkan pundaknya.
"Gia..!! Kenapa tiba-tiba kau hanya diam saja! Ada apa denganmu..!!" ucap Plavio yang mencoba untuk menyadarkan Gia.
Tiba-tiba terdengar suara Killa yang cukup keras di telinga Plavio, Lukas, Lander dan Jankovic.
"All Alone With You Ilusion telah berhasil." ucap Killa yang suaranya entah datang darimana.
Seketika, Gia pun langsung pingsan dan ambruk di depan Plavio. Jankovic pun mulai berspekulasi tentang teknik ilusi milik Killa.
"Jangan-jangan, wanita itu menggunakan ilusi di dalam ilusi. Mengerikan sekali, kita saja belum bisa keluar dari ilusinya, tapi dia menggunakan kekuatan ilusinya lagi untuk kita. Gia telah menjadi korbannya, sepertinya kita terlalu meremehkan wanita itu." ucap Jankovic.
"Yang benar saja woi..!! Kalau begini, kita dalam bahaya..!!" ucap Lander.
"Kalau begini, kita benar-benar dalam bahaya. Sepertinya kita harus segera melakukan sesuatu.." ucap Lukas.
Sementara itu, dari sudut pandang Killa dan Vika. Mereka berdua melihat Plavio, Lukas, Lander, Jankovic berdiri dengan tatapan kosong. Sedangkan, terlihat Gia yang sudah pingsan tergeletak di tanah.
"Killa, syukurlah kau cepat tanggap menggunakan ilusimu sebelum pengguna korek api itu menyerang kita.." ucap Vika.
"Ya, pertama, aku telah mengelabuhi mereka dengan ilusi yang seolah-olah kita telah mati terbakar oleh korek api tersebut. Tapi, sayang sekali mereka berlima telah terkena serangan ilusiku terlebih dahulu." ucap Killa dengan raut wajah percaya diri.
"Tentu saja, aku akan menggunakan teknik ilusi di dalam ilusi. Pengguna korek api tersebut telah terkena dua ilusiku secara berturut-turut, sekarang tinggal sisanya.." ucap Killa.
Akan tetapi, sebelum Killa menggunakan ilusinya kembali kepada Plavio, Lukas, Lander, dan Jankovic yang sudah terkena ilusi. Tiba-tiba, Lukas mengedipkan kedua matanya. Setelah itu, ia pun menarik pedangnya sambil berlari cepat ke arah Killa dan Vika.
"Akhirnya aku lolos dari ilusi sialan milik kalian..!! Huahahahahaha..!!" teriak Lukas sambil tertawa terbahak-bahak.
Killa pun terkejut ketika melihat Lukas yang berhasil sadar dari teknik ilusi miliknya, ia pun berkata, "Ba-bagaimana mungkin dia berhasil sadar dari teknik ilusiku?!!"
"Tentu saja..!! Kalian terlalu meremehkanku bahkan kalian belum mengetahui kekuatan yang aku miliki..!!" ucap Lukas dengan tegas kepada Killa. Setelah itu, ia mencoba untuk menebas Killa dan Vika.
"Batsss..!!!"
Killa dan Vika pun berhasil menghindari tebasan yang dilesatkan oleh Lukas dengan cukup mudah. Karena serangan yang dilesatkan oleh Luka, konsentrasi Killa pun pecah dan membuat Plavio dan lainnya kembali sadar dari teknik ilusinya.
"Wah.. wah.. akhirnya aku kembali sadar dari ilusi mengerikan itu. Tak kusangka, kekuatanmu cukup berguna juga, Lukas." ucap Plavio.
"Ya..!!" jawab Lukas sambil tersenyum menyeringai.
Ya, kemampuan Lukas ialah Adrenaline. Kemampuan yang membuat dia semakin kuat dan kebal akan serangan jika dia merasakan bahaya.
Jadi, seketika Lukas menjadi kebal dari ilusi yang diciptakan oleh Killa karena kekuatan Adrenalin miliknya.
Kemudian, Jankovic pun langsung menghampiri Gia yang pingsan tergeletak di tanah. Ia pun berkata, "Tak kusangka, Gia telah menjadi keganasan dari ilusi miliknya itu, seharusnya kau bisa mengaktifkan kekuatanmu lebih cepat, Lukas."
"Hah?! Aku tidak bisa mengaktifkan kekuatanku sebelum diriku sendiri merasakan bahaya sama sekali." ucap Lukas.
"Dengan begini, kita bisa memberi pelajaran kepada dua wanita itu. Apalagi dia.." ucap Lander sambil menunjuk ke arah Killa.
Kemudian, Jankovic pun langsung menggendong Gia dan menaruhnya dipinggir di tempat yang sedikit sepi dari pertarungan. Setelah itu, Jankovic pun kembali berjalan menghampiri Plavio.
"Kita harus segera mengalahkan mereka berdua, sebelum kita terkena ilusinya kembali." ucap Jankovic.
Killa pun semakin panik setelah teknik ilusinya digagalkan oleh Lukas yang mempunyai kekuatan Adrenalin. Ia pun kembali berpikir keras untuk mengalahkan Tim Elite Number Three yang masih tersisa empat orang.
"Vika, apa kau tidak punya rencana lain?" tanya Killa kepada Vika yang berdiri tepat disampingnya.
"Entahlah, bahkan untuk sekarang aku tidak bisa berpikir karena aku terus dibayang-bayangi kekuatan merepotkan milik mereka. Sepertinya tak ada cara lain, selain mengalahkannya langsung secara face to face.." ucap Vika, ia mulai memasang raut wajah serius.
BERSAMBUNG