
Runner 07
Meskipun Izumi berhasil menggagalkan serangan Runner of the end milik Schiacone beberapa kali. Namun, kali ini Schiacone semakin bersemangat untuk menghadapi Izumi. Schiacone tersenyum lebar, sembari mengeluarkan aura mengerikan di sekujur tubuhnya.
"Akhirnya kau sedikit tangguh juga, bocah. Aku sebenarnya sengaja membiarkan dirimu untuk menggagalkan seranganku." Ucap Schiacone.
"Jangan alasan. Orang yang kalah pasti punya saja alasan untuk menutupi kekalahan nya." Ucap Izumi dengan nada ejek.
"Kalah katamu? Padahal kita belum bertarung serius. Tapi kau sudah menganggapku kalah. Aku benar-benar diremehkan kali ini, tapi aku senang. Karena, aku bisa menunjukkan taring untuk menerkam sang mangsa.." ucap Schiacone.
Schiacone bersiap untuk melakukan serangan. Dia melakukan ancang-ancang. Izumi mencoba untuk menggagalkannya. Akan tetapi..
"Eh?" Izumi terkejut.
Izumi terkejut karena Schiacone tiba-tiba menghilang begitu saja tepat dihadapannya. Bahkan, ia telah menoleh ke segala arah namun tidak berhasil menemukan sosoknya sama sekali, dimanakah dia?
"Aku disini!!"
Schiacone datang dari udara, mencoba menyerang Izumi yang sedang lengah dengan pukulannya. Izumi yang menyadari kedatangan Schiacone dari udara pun langsung menggunakan kekuatan es nya yaitu Skating-skating no ice untuk meluncur guna menghindari serangan Schiacone.
"Hampir saja.." Izumi terlihat begitu lega setelah berhasil menghindari serangan Schiacone.
Namun, Izumi terlalu cepat untuk merasa lega, pasalnya Schiacone yang berada dalam posisi hendak berlari, sedang tersenyum dengan tatapan sinis ke arahnya.
"Akan kuperlihatkan kekuatan Runner of the end kepadamu lagi, bocah!!"
Dengan kekuatan Runner of the end, Schiacone berlari. Apapun yang dia lewati hancur dalam sekejap, sementara Izumi sudah berada didepan matanya dan bersiap untuk ia lewati.
"Hancurlah menjadi debu!!"
"Gawat!!" Izumi panik. Ia berfikir apa yang akan ia lakukan. Tapi, dalam waktu yang singkat, Izumi mencoba untuk mengembangkan lagi kekuatan es nya. Terkadang kekuatan yang sesungguhnya akan bangkit ketika berada dalam posisi tersudut, seperti yang dialami Izumi saat ini.
Spontan, Izumi menciptakan tiga dinding es berlapis untuk mencegat Schiacone agar tidak melewatinya.
Namun, Schiacone sangat cerdas. Dia melompat tinggi melewati dinding es yang diciptakan Izumi itu dalam sekejap, lalu...
"!!!!!"
Dalam sekejap Izumi terjebak dalam badai yang tercipta karena kekuatan Runner of the end. Ia merasa sangat kesakitan, kulitnya seperti tersayat-sayat benda yang tajam. Dia merasa kesakitan meski tubuhnya sudah terlapis oleh kekuatan es nya.
"Uaghhh!!! Sialan!!! Pantas saja banyak sekali korban yang berjatuhan karena serangan ini!! Manusia biasa pasti takkan bisa menahan rasa sakit ini..!!" Ucap Izumi.
Selang beberapa saat kemudian, Izumi tersungkur ke tanah dengan luka disekujur tubuhnya. Namun ia menggunakan kekuatan es nya untuk meminimalisir rasa sakit yang dia rasakan. Pada akhirnya, Izumi pun berhasil untuk bangkit dan berdiri kembali.
"Huh? Kau masih bisa bangkit? Kukira kau sudah mati seperti yang lainnya. Kuakui kali ini kau dalam performa yang luar biasa bahkan bisa bangkit setelah terkena kekuatan Runner of the end ku ini." Ucap Schiacone.
"Serangan seperti ini takkan bisa membuatku mati. Serangan receh seperti ini hanya membuatku terasa sedikit gatal.." ucap Izumi sok kuat.
"Tidak mungkin. Dari raut wajahmu saja kau terlihat begitu kuwalahan. Kenapa kau harus memaksa menjadi sok kuat begitu? Apa kau ingin terlihat keren dihadapan para gadis? Dasar sampah.." ucap Schiacone.
Izumi berjalan pelan ke arah Schiacone, tak berselang lama dia berjalan cepat, lalu berlari. Kemudian, dia sempat menghilang beberapa kali tepat dihadapan Schiacone. Izumi mencoba mengecoh Schiacone.
Dan...
"Uaghhh!!!
Sekilas, Schiacone melihat sebuah benda tajam yang tergeletak dijalanan tepat didekatnya. Dia mengambilnya dan mencoba untuk menyerangnya ke arah Izumi. Schiacone benar-benar mempunyai niat membunuh kepada Izumi sekarang.
"Enyahlah.."
Akan tetapi..
"Berhenti. Kalau kau bergerak sedikit, aku akan langsung menusuk lehermu." Ayase sudah berdiri tepat dibelakang Schiacone sembari mendekatkan pedangnya ke arah lehernya.
"Huh?" Schiacone langsung melirik ke arah Ayase, dia tersenyum licik, dan berkata, "Bagaimana kalau kita mati bersama-sama?"
"Huh? Apa maksudmu?"
"Coba lihat kebelakangmu.."
"Halo. Sepertinya kau juga bersiap untuk mati, nona." Reggina terlihat sudah berdiri dibelakang Ayase sembari menodongkan pistolnya ke kepala Ayase.
"S-sejak kapan.." Ayase terkejut. Peristiwa saling membelakangi yang membuat beberapa orang terkejut. Saling mengancam satu sama lain.
"Offsidettoo.." ucap Reggina.
Tiba-tiba sebuah zona garis muncul di dekat Ayase. Ayase juga baru menyadari bahwa terdapat sebuah garis tepat didekatnya. Tak berselang lama kemudian, Ayase pun bergerak mundur terlempar beberapa meter kebelakang.
"Huaaa!! Ada apa ini!!" Ayase terlihat kebingungan dengan apa yang dia alami sekarang. Bergerak mundur tanpa bisa ia kendalikan sama sekali. Dia berfikir sedang digerakkan oleh hantu.
Inilah kemampuan Offside dari Reggina. Dia bisa membuat zona garis gawang, dan siapa saja yang melewati zona gari tersebut, maka dia akan kembali ke tempat sebelum melewati zona garis tersebut. Meski cukup simple, tapi kekuatan ini cukup merepotkan.
Disaat yang bersamaan, Izumi pun langsung bergegas dan berdiri tepat disebelah Ayase.
"Oey, Ayase. Apa kau tidak apa-apa?" Tanya Izumi.
"Ya. Entah kenapa, setelah aku melewati garis itu, aku kembali kesini. Kita harus mencari cara untuk mengcounter kekuatan merepotkan itu.." ucap Ayase.
Kemudian, Reggina menciptakan sebuah zona garis gawang tepat satu meter dihadapannya.
"Kalau kalian mau menyerang, silahkan saja. Aku akan menyambut kalian berdua dengan senang hati.." ucap Reggina sembari tersenyum licik.
"Izumi. Percuma saja kalau kita melewati garis itu. Kita akan terlempar kembali ke posisi semula. Menyerang dari jarak dekat itu sangat menyulitkan." Ucap Ayase.
"Daripada memikirkan itu, Ayase. Lihatlah, Schiacone sedang bersiap-siap untuk menggunakan kekuatan Runner of the end nya kembali.." ucap Izumi menunjuk ke arah Schiacone.
"Sayang sekali aku harus membunuh dua orang bocah seperti kalian. Tapi mau bagaimana lagi, aku sudah bermain-main dengan kalian berdua waktu itu, jadi.. inilah saatnya penghabisan.." ucap Schiacone.
Izumi dan Ayase juga melakukan posisi siaga dan bersiap-siap untuk bergerak menghindar, bila Schiacone akan berlari ke arahnya.
"Persiapkan dirimu, Ayase. Aku tadi sempat terkena serangannya lagi. Rasa sakitnya sangat luar biasa. Aku tidak mau kau merasakan rasa sakit itu. Jadi menghindarlah sekuat tenagamu." Ucap Izumi.
"Jadi, menghindar adalah satu-satunya pilihan ya. Tapi kalau itu adalah salah satu cara, aku akan berbuat sesuai perkataanmu Izumi." Ucap Ayase.
B E R S A M B U N G