
Izumi dan Hozuki mengiyakan perkataan dari Shoba. Mereka berdua memutuskan untuk mengikutinya kemanapun Shoba pergi. Pasalnya Izumi dan Hozuki mulai sedikit tertarik dengan tujuan yang sebenarnya dari Shoba, yaitu menyelamatkan Shion.
Alasan lain Izumi dan Hozuki mengikuti Shoba ialah untuk memastikan apakah nakama-nakamanya sudah sampai di pulau Lunarian atau belum. Mereka berdua juga sempat menduga-duga bahwa mereka, para nakamanya belum sampai di pulau Lunarian, itu hanyalah sebuah firasat dari Izumi dan Hozuki belaka.
Pagi ini, setelah Izumi, Hozuki, dan Shoba saling berdiskusi di sebuah gubug tua. Mereka bertiga pun mulai bergegas dan bergerak ke gerbang perbatasan dan menuju ke Rose Town, The Flower of City.
Ketika mereka bertiga sedang berjalan di jalanan besar dan menuju ke gerbang perbatasan, Izumi, Hozuki, dan Shoba, melihat ada sebuah kejanggalan dan keanehan. Dimana ada ratusan poster buronan milik mereka yang terpanjang dipinggir-pinggir jalan, seperti tertempel pada sebuah tiang, dinding kedai, bahkan poster buronan tersebut juga berterbangan dimana-mana.
Saat ini, Izumi, Hozuki, dan Shoba, mengenakan sebuah jubah dengan tudung jubah menutupi wajahnya yang bertujuan sebagai penyamaran agar tidak ketahuan dari pihak musuh. Hal ini sesuai dugaan Shoba, pihak divisi Elite kini sedang mengincarnya.
Bahkan, ketika mereka bertiga sudah sampai beberapa meter di depan perbatasan, "Apa-apaan ini.." Shoba tak menyangka bahwa gerbang perbatasan telah ditutup dan dijaga ketat oleh beberapa orang yang diduga sebagai pasukan dari divisi Elite.
Izumi dan Hozuki pun mengamati sekitar lalu saling melirik satu sama lain, kemudian berbicara dengan nada pelan.
"Oey, Hozuki. Sepertinya kita sedang diincar. Nampaknya mereka tak menyerah begitu saja setelah kita hajar.."
"Haddeh, mau bagaimana lagi, kita hajar saja sekali lagi agar mereka-mereka ini kapok.."
Shoba yang mendengar pembicaraan Izumi dan Hozuki pun langsung membantahnya dengan mentah-mentah, "Jangan bikin keributan oy..!! Nanti bisa jadi ancaman besar buat kita bertiga..!!"
"Kenapa memangnya?"
"Mereka bisa melaporkan kepada pemimpin Serikat Lunarian, si Groombride. Itu adalah hal yang sangat gawat..!! Jangan menganggap enteng masalah seperti ini.." ucap Shoba yang sedikit khawatir dengan kelakuan Izumi dan Hozuki.
Selang beberapa detik, terdapat seorang pria yang mengenakan sebuah jas hitam tapi berjalan dibelakang Izumi, Hozuki, dan Shoba lalu menepuk pundak mereka bertiga.
"Buka tudung jubah kalian.." Pria itu meminta Izumi, Hozuki, dan Shoba untuk membuka tudung jubah yang menutupi wajahnya, "Penampilan kalian sangat mencolok dan mencurigakan. Dan, kalian juga berjalan bertiga, ada kemungkinan kalian adalah tiga orang buronan yang sedang kami cari.."
Shoba yang menyadari hal itu pun langsung terkejut dan keringat dinginnya mulai bercucuran deras. Ia sangat bingung apa yang harus dilakukan ketika sedang berada di situasi darurat seperti ini.
"Ga-gawat.. tak kusangka memakai jubah seperti ini malah kelihatan sangat mencolok. Strategi penyamaranku ternyata payah sekali hadeuh.." ucap Shoba.
Disisi lain, Izumi dan Hozuki pun tersenyum bersemangat lalu melirik ke arah pria yang berada dibelakangnya. Mereka berdua mulai mengepalkan kedua tangannya.
"Tentu saja, aku sudah siap apapun resikonya. Lagipula, kita kan seorang bajak laut. Merusuh juga salah satu tugas seorang bajak laut.."
Shoba yang melihat Izumi dan Hozuki yang cukup bersemangat pun semakin khawatir. Ia merasakan sebuah firasat buruk dan kekhawatirannya akan segera benar-benar terjadi, "Gawat.. sepertinya mereka berdua cukup gila dan ingin membuat keributan begitu saja. Tapi, ini sangat menguntungkan bagiku, kalau mereka merusuh, aku bisa memanfaatkan hal itu untuk segera keluar dari ini.." Shoba berfikir semakin dalam, dan mencoba untuk memanfaatkan situasi yang ada. Ia pun tersenyum licik.
Pria itu nampak kesal karena Izumi, Hozuki, dan Shoba tak kunjung menjawab dan membuka tudung jubah sesuai dengan perintahnya, "Kalian bertiga ini tuli ya-"
Ketika si pria tersebut berbicara dengan nada penuh ancaman, tanpa basa-basi Izumi dan Hozuki pun langsung membalikkan badannya ke arah pria yang berada dibelakangnya. Mereka berdua pun langsung melesatkan pukulan yang cukup telak.
"Rasakan ini, pukulan kombinasi..!!"
Pukulan kombinasi antara Izumi dan Hozuki berhasil mengenai tepat di wajah pria tersebut dan langsung terpental kebelakang hingga menabrak sebuah kedai buah. Dan, disaat yang bersamaan, para penjaga yang melihat ulah dari Izumi dan Hozuki pun langsung berlari dan mengepung mereka berdua.
"Jangan bergerak!! Dan tunjukkan siapa identitas kalian!!"
Cukup banyak penjaga dan kroco-kroco dari divisi Elite yang mulai berdatangan dan langsung menodongkan sebuah tombak, pedang, maupun belati ke arah Izumi dan Hozuki. Mereka semua telah mengepungnya.
"..... Yare-yare, mari kita beraksi lagi, Hozuki." ucap Izumi sembari tersenyum bersemangat. Setelah itu ia pun langsung membuka tudung jubahnya dan mengungkap identitasnya yang sebenarnya.
Diikuti dengan Hozuki yang juga membuka tudung jubahnya, "Mari kita beri pelajaran pada para kroco-kroco ini, Izumi. Anggap saja ini seperti pemanasan sebelum kita melakukan pertarungan yang sesungguhnya."
Dan, semua orang yang termasuk kroco-kroco dari divisi Elite pun terkejut sosok dari Izumi dan Hozuki, "Mereka berdua adalah buronan..!! Cepat tangkap dan jangan sampai ada yang kabur..!!"
Disisi lain, terlihat Shoba yang berjalan menyelinap ke dekat gerbang perbatasan yang tertutup bagaikan seorang ninja, "Ternyata kerusuhan yang ditimbulkan oleh mereka berdua pun ada manfaatnya juga, hehey." Lalu, dengan hati-hati, Shoba pun langsung membuka pintu gerbang agar tidak diketahui oleh para penjaga.
Setelah cukup lama, akhirnya Shoba pun berhasil sedikit membuka gerbang perbatasan dan langsung berjalan bergegas keluar. Ia berhasil melewati gerbang perbatasan dan meninggalkan Izumi dan Hozuki begitu saja di dalam yang sedang dikepung cukup banyak kroco-kroco dari divisi Elite.
"Aku keluar..!! Wuahaha..!! Mereka berdua ini ternyata bodoh sekali ya. Ternyata si Izumi dan Hozuki itu tak sadar kalau cuma aku manfaatkan saja.. zehahahaha.." Shoba tersenyum menyeringai, lalu tertawa terbahak-bahak melihat kebodohan dari Izumi dan juga Hozuki. Ia begitu sangat puas.
Kini Shoba pun harus berjalan melewati padang rumput yang cukup luas agar bisa sampai di Rose Town. Sementara itu, Izumi dan Hozuki yang masih berada di dekat gerbang perbatasan pun telah dikepung dan dipaksa untuk memulai sebuah pertarungan.
B E R S A M B U N G