
"Apakah aku telah mati?"
Di sebuah lautan hampa tanpa ada satupun benda maupun makhluk hidup yang berada di dalamnya. Ia tenggelam, perlahan menuju ke dasar laut, dengan raut wajah datar, dimana kehidupan maupun kematian yang sudah tidak bisa dibedakan lagi. Izumi tidak tahu apa yang sedang terjadi padanya saat ini.
Izumi perlahan memejamkan matanya, larut dalam kegelapan, seperti tak ada harapan lagi keluar menuju sebuah kebebasan.
"Oh iya, aku lupa. Aku telah tertangkap oleh monster Kraken. Sepertinya aku telah mati meninggalkan teman-temanku.."
Akan tetapi, "Izumi.." Tiba-tiba terdengar suara seorang gadis misterius yang di telinganya, suara yang lembut itu, seolah-olah mencerminkan betapa indah dan cantiknya gadis tersebut.
Izumi mendengar suara lembut dari gadis misterius yang melewati telinganya begitu saja. Ia masih memejamkan matanya, dia menganggap mungkin suara tersebut hanyalah sebuah ilusi ketika seseorang berada diantara dunia kehidupan dan dunia kematian. Ya, Izumi semakin larut dalam Kegelapan.
Namun, tanpa diduga-duga, seorang gadis langsung meraih kedua tangan Izumi yang tenggelam dan larut dalam Kegelapan. Ia yang menyadari hal itu pun langsung membuka kedua matanya, "Kau.." Izumi terkejut. Pasalnya, baru kali ini ia melihat seorang gadis dimana wajahnya diselimuti oleh cahaya terang benderang yang menyilaukan.
"Kau siapa..?"
"Bangkitlah, teman-temanmu sedang menunggumu."
Gadis tersebut pun langsung menarik Izumi menuju ke permukaan secara perlahan. Sekilas, cahaya terang yang menyelimuti wajah dari gadis misterius itu pun mulai meredup. Dan, terlihat senyum manis yang mempunyai pesona indah diperlihatkan oleh gadis misterius tersebut.
Lalu, "Cling!!" Cahaya terang yang mulai meredup itu pun langsung meluas dan menyelimuti Izumi dalam sekejap.
Dan..
Di sebuah pulau yang cukup besar, tepatnya di pesisir pantai, Izumi yang terbaring langsung membuka matanya dengan kondisi tubuhnya yang basah kuyub. Ia ngos-ngosan dan berkata, "Apa yang barusan itu?" Seorang gadis misterius yang ia temui seolah-olah nyata, namun faktanya itu hanyalah sebuah mimpi belaka.
"Izumi, kau sudah bangun?"
Beberapa meter dihadapan Izumi yang terbaring, terlihat Hozuki yang sedang memancing ikan di bibir pantai. Walaupun sudah berjam-jam ia menunggu ikan terjebak dalam pancingannya, namun tak ada satupun oleh ikan yang tergoda oleh pancingan Hozuki. Rasa jenuh mulai menyelimuti pikirannya, akan tetapi, setelah mengetahui Izumi telah sadar, Hozuki tersenyum lepas dan merasa senang.
"Hozuki? Apa yang sedang kau lakukan?" ucap Izumi. Ia mencoba untuk bangkit dan berdiri kembali. Namun, kondisi tubuhnya yang melemah, membuatnya harus terjatuh dalam posisi terduduk.
"Kau istirahat saja, Izumi. Wajar saja tubuhmu lemas, karena kau sudah tidak makan selama dua hari.."
Mendengar perkataan Hozuki, Izumi pun menjadi terheran-heran, "Dua hari katamu?" Izumi memiringkan kepalanya sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Tentu saja, kau sudah pingsan selama dua hari. Aku kira dirimu sudah mati, tapi setelah kau masih bernafas, aku menunggumu disini sampai kau tersadar.." ucap Hozuki. Ia mengangkat kail pancingnya, akan tetapi tidak ada ikan yang terpancing sama sekali. Hal itu membuatnya sedikit kecewa.
"Nani?! Kenapa bisa aku pingsan selama dua hari?! Aku ingin memakan pizza hits agar staminaku pulih kembali..!!"
"Hadeh, yare-yare. Mana mungkin kau menemukan pizza hits disini. Burger The King pun juga tak ada disini, Mc Donat juga tak ada disini. Karena, terjebak di sebuah pulau yang tak dikenal.."
Tak ada pizza, tak ada makanan kesukaan yang berada di tempat ini, membuat Izumi berlarian kesana-kesini dengan raut wajah panik. Sepertinya dia lupa kalau staminanya habis karena belum makan selama dua hari.
"Eh?" Izumi berlari, ia kembali mengingat suatu hal. Dirinya pun mencoba menanyakan hal itu kepada Hozuki, "Oey, apa kau bertemu dengan seorang gadis misterius?"
"Ya, aku juga bertemu dengannya kemarin, ketika aku pingsan dan hampir mati karena memakan ikan beracun Huahahaha..!!"
"Dih, bodoh sekali, ikan beracun kok dimakan. Tapi, aku juga bertemu dengannya. Apa kau tahu siapa gadis misterius itu?" tanya Izumi.
"Entahlah, memikirkan hal yang tak perlu aku pikirkan itu membuang-buang tenaga, Izumi. Aku hanya ingin mengetahui dimana posisi kita sekarang, kalau tidak, kita tidak akan bisa bertemu dengan teman-teman kita lagi.."
Dan, "Krek!! Krekk!!" Hozuki membanting dan menginjak-injak alat pancingnya karena merasa kesal tidak mendapatkan satupun ikan, "Sialan..!! Kenapa tidak ada ikan yang kudapat..!! Kalau begini terus, sepertinya kita harus makan angin, Izumi..!!"
"Santuy, apa selama ini, kau tidak mencoba masuk lebih ke dalam di pulau ini? Barangkali ada orang jualan pizza hehe.." Izumi mengelus-elus perutnya yang mulai mengecil karena rasa lapar menyelimutinya. Dan, suara perut keroncongan dari Izumi dan Hozuki pun tidak bisa dielakkan lagi.
"Brakk..!!" Seketika, Izumi dan Hozuki pun langsung tergeletak bersebelahan karena staminanya yang sudah terkuras habis. Mereka berdua membutuhkan sebuah makanan darurat.
Mereka berdua tergeletak di bibir pantai, sembari menatap senja, menghirup udara kebebasan. Seolah-olah perasaan beban mereka terlepas begitu saja ketika menikmati moment ini walaupun dalam keadaan yang cukup lapar.
"Dua pemuda kotor seperti kalian, kenapa berada disini?!" Seorang pria paruh baya dengan pakaian tradisional berada di dekat Izumi dan Hozuki lalu memarahi mereka tanpa alasan yang jelas.
"!!!!!" Izumi dan Hozuki pun terkejut dengan kehadiran pria paruh baya yang datang tanpa mereka berdua sadari. Mereka langsung berdiri dan menatap pria itu dengan raut wajah kebingungan.
"Hoi, Pak tua. Siapa kau?" tanya Izumi.
"Huh?! Siapa yang kau sebut Pak tua, bodoh?!"
"Santuy.. santuy.." Izumi mencoba menenangkan pria paruh baya yang sedang emosi tersebut.
"Hoi, Paman. Kami berdua tersesat di pulau ini. Apakah kau bisa memberitahu kami, nama pulau ini?" tanya Hozuki.
"Hadeh, bocah-bocah seperti kalian memang tak punya adab dan sopan santun pada orang yang lebih tua." Pria paruh baya itu menepuk jidatnya lalu, "Nama pulau ini adalah Lunarian, kalau kalian terjebak di pulau ini. Aku sarankan untuk segera pergi, pulau ini bukanlah tempat untuk bocah-bocah kotor seperti kalian berdua.." lanjutnya.
Pria paruh baya itu pun langsung berjalan pergi meninggalkan Izumi dan Hozuki. Disisi lain, mereka berdua tak menyangka bahwa dirinya terjebak di pulau yang merupakan tempat yang ia tuju.
"Lu-Lu-Lu-Lunarian?!!"
B E R S A M B U N G