
Piacenza perlahan menarik pelatuk pistolnya dan bersiap menembak nya ke arah Ayase. Piacenza yang masih berada dalam mode Dario Hubner sangat yakin bahwa tembakannya akan berhasil mengenai Ayase, kecuali Ayase sendiri menggunakan trik yang sama dengan membuat sebuah clon yang menyerupai dirinya melalui kekuatan refleksi kacamatanya.
"Dorrrr!!!" Satu tembakan telah dilesatkan oleh Piacenza. Akan tetapi, Ayase menggunakan trik yang sama untuk menghindari tembakan tersebut.
Trik ini memang simpel, tapi bisa menyelamatkan nyawa Ayase berkali-kali. Kini Ayase harus berfikir keras agar ia bisa bertahan sembari menyerang.
"Dorrr!! Dorrr!!!" Piacenza melesatkan dua tembakan beruntun. Dan lagi-lagi Ayase menggunakan trik nya untuk menghindar. Terlihat dari banyaknya keringat yang keluar dari Ayase, menandakan bahwa staminanya telah terkuras cukup banyak karena menggunakan trik yang sama berkali-kali. Bagaimana tidak? Teknik Ayase yang bisa membuat clone dirinya sendiri ini sangat menguras banyak stamina.
"Huahaha!!!" Piacenza tertawa terbahak-bahak, "Bagaimana?! Mau sampai kapan kau menggunakan teknik itu?! Pasti sangat menguras banyak stamina, bukan?" tanya Piacenza dengan nada mengejek.
"Ya.. Seperti yang kau tahu, menggunakan teknik ini secara berulang-ulang dalam waktu singkat sangat menguras banyak stamina." Ucap Ayase, ia masih bisa tersenyum meski di situasi sekarang ia sangat terpojok.
"Dorrr!!!" Piacenza melesatkan satu tembakan lagi ke arah Ayase.
Dengan gerakan cepat, Ayase lagi-lagi menggunakan trik yang sama. Setelah itu, Ayase pun langsung terjatuh dalam posisi berlutut. Keringat Ayase semakin bercucuran deras hingga membasahi wajah serta pakaiannya.
"Osh.. osh.. osh.. Si-sialan, itu adalah yang Terakhir, setelah ini aku takkan bisa menggunakan teknik itu lagi." Ucap Ayase yang ngos-ngosan, ia harus mencari cara untuk menghindari tembakan selanjutnya. Setelah itu, Ayase pun mencoba untuk bangkit dan berdiri lagi. Ia masih tak menyerah.
"Hoi-hoi, mau sampai kapan kau akan menyerah? Kau sudah tak bisa menggunakan trik itu untuk tembakan selanjutnya." Ucap Piacenza.
Beberapa saat kemudian, Piacenza pun berjalan mendekat ke arah Ayase sembari mengarahkan pistolnya. Disisi lain, Ayase sudah tak memiliki cara lagi untuk menghindari tembakan yang akan dilesatkan Piacenza selanjutnya.
"Gini saja, apa kau punya kata-kata terakhir? Mungkin untuk papa atau mamamu? Nanti aku bisa menyampaikan nya kok, jadi cepat katakan, aku tak bisa menunggu lama loh.." ucap Piacenza, ia mendekatkan pistolnya beberapa cm ke kepala Ayase.
Ayase memasang raut wajah kesal, ia masih diam tak berkata sembari menatap tajam Piacenza.
Piacenza pun menjadi kesal karena Ayase terus menatapnya, "Cepat bicara woi!!! Kalau tak cepat bicara akan ditembak sekarang loh!!" Bentak Piacenza.
Ayase tak kunjung mengatakan apapun. Piacenza yang semakin kesal pun langsung menembakkan pistolnya, spontan Ayase langsung memejamkan kedua matanya dan, "Dorrrr!!!" Suara tembakan telah terdengar.
~
Ayase masih memejamkan kedua matanya, dan ia merasa tidak terjadi apa-apa dengannya. Ia pun membuka salah satu matanya.
"Eh?"
Ayase melihat pistol yang dipegang Piacenza hanya mengeluarkan sebuah asap kecil.
"Lah?"
Piacenza juga kebingungan karena tembakannya sama sekali tak mempengaruhi Ayase. Piacenza pun mengecek pistolnya. Dan beberapa saat kemudian, Piacenza langsung menepuk jidatnya sendiri.
"Hadeh, ternyata isinya sudah habis. Pantas saja dia sama sekali tak terluka atau mati.." Piacenza pun merogoh sakunya untuk mengambil peluru yang akan ia isi ke pistolnya.
Ayase melihat Moment yang tepat, waktu beberapa detik Piacenza yang sedang lengah dan langsung ia manfaatkan. Ayase langsung berdiri dan langsung melesatkan tebasan belatinya ke Piacenza, "Batsss!!!"
Piacenza pun langsung ambruk sembari memegang dadanya yang terkena tebasan belati. Disisi lain, ekspresi Ayase pun langsung berubah.
"Bagaimana? Sayang sekali di kesempatan terakhir kau malah kehabisan peluru untuk membunuhku, tak kusangka Dewi Fortuna masih berpihak kepadaku.." ucap Ayase.
"Dasar... Berani-beraninya menebasku saat aku mengisi peluru, itu namanya curang." Ucap Piacenza yang masih menahan rasa sakitnya.
"Ini bukan curang, tapi memanfaatkan kelengahan musuh untuk menyerang." Ucap Ayase dengan nada bersemangat.
"Si-sialan kau!! Akan kubunuh kau-" teriak Piacenza.
"Jduakkk!!!" Ayase pun langsung menendang wajah Piacenza dengan sangat keras hingga membuat Piacenza sendiri pingsan.
"Sayang sekali, padahal kau cukup kuat. Tapi harus kalah konyol karena kelengahan." Ucap Ayase. Lalu, ia pun langsung terjatuh dalam posisi terduduk karena suaminya yang telah habis sepenuhnya, "Yahh, akhirnya aku memenangkan pertarungan ini, sepertinya aku bisa beristirahat sejenak untuk memulihkan staminaku.." lanjutnya.
Sementara itu dari kejauhan terlihat Khievo Perona dalam mode keledai bersayap yang bisa terbang dimana dia merupakan anak buah dari Schiacone pun terbang di udara sembari mengintai Ayase. Ia membidik Ayase dengan sebuah busur panah yang siap dilesatkannya.
"Yeah. Meski dia sudah berhasil mengalahkan Piacenza, tapi dia masih belum menyadari keberadaanku yang telah mengincarnya. Sepertinya ia tak merasa bahwa sebentar lagi dirinya akan segera mati.." ucap Khievo Perona.
Khievo Perona pun sudah bersiap-siap untuk melesatkan anak panahnya.
"Batsss!!!!" Tiba-tiba saja Khievo Perona terkena tebasan pedang oleh seseorang, "Uaghhh!!!" Khievo Perona merintih kesakitan karena tebasan pedang tersebut dan langsung kembali ke dalam bentuk manusianya, ia terjatuh dan menghantam ke jalanan, "Bruakk!!"
Sekilas, terlihat Kirisaki Meister yang merupakan ayah dari Kirisaki Makoto datang berjalan mendekat ke arah Khievo Perona dengan memegang sebuah pedang di tangan kanannya.
"Cupu sekali menyerang seseorang dari belakang. Eh tapi aku juga kan menyerang dari belakang, jadi impas hehe.." ucap Meister sembari tertawa malu.
"Woi, tapi aku kan tidak menyerangmu!!" Teriak Khievo Perona.
"Tapi orang yang kau tebas itu orang yang kukenal, dasar bodoh!!!" Bentak Meister. Tanpa basa-basi, Meister pun langsung melesatkan tebasan pedangnya kembali ke arah Khievo Perona, "Batsss!!!"
Khievo Perona terkena tebasan pedang dari Meister, setelah itu ia terkapar pingsan dijalan.
Melihat Khievo Perona yang pingsan, Meister pun merasa sedikit berlebihan, ia mengusap-usap kepala bagian belakangnya, "Astaga ternyata aku menebasnya secara berlebihan, ya? Padahal hanya dua kali tebasan saja loh." Ucapnya.
~
Sementara itu disisi lain, terlihat Kirisaki Makoto dan Schiacone sang Runner of the end saling menatap tajam satu sama lain. Mereka berdua tengah melakukan posisi bersiap untuk menyerang. Hasrat untuk bertarung sudah tak bisa dibendung lagi.
"Aku sudah tidak sabar untuk bertarung denganmu. Orang yang katanya si pembawa bencana itu, aku akan menguji seberapa kuat dirimu." Ucap Makoto dengan nada bersemangat.
"Tcih, sombong sekali padahal masih bocah ingusan. Tapi, sayang sekali, aku takkan segan-segan untuk membunuhmu kali ini.." ucap Schiacone dengan nada sinis.
B E R S A M B U N G