
Masih di kastil yang sama namun di ruangan yang berbeda. Terlihat Davidestorm yang berada di salah satu ruangan terlihat tengah merakit sesuatu. Dia tampak serius. Dan sudah melakukannya selama semalaman hingga saat ini.
Alat seperti obeng, tang, dan lain-lain sudah berada diatas meja guna Davidestorm merakit benda yang masih belum diketahui namanya itu.
Sesekali Davidestorm juga mengelap keringatnya yang terus bercucuran.
"Aku sudah tak sabar menantikan alat ini. Alat ini mungkin akan bisa kugunakan sebagai senjata yang ampuh selain kamera ajaib. Ini juga mengantisipasi kalau sewaktu-waktu kamera ajaibku rusak dan tidak bisa diperbaiki lagi, dan aku bisa menggunakan alat ini sebagai kekuatan tempur yang baru.." ucap Davidestorm.
Alat ini adalah senjata impian dari Davidestorm sewaktu masih anak-anak. Dimana Dia sendiri pertama kali melihat alat ini yaitu sewaktu kecil ketika tak sengaja menonton sebuah film Action. Karena alat yang selalu Davidestorm damba-dambakan semenjak masih anak-anak, kini Davidestorm mencoba untuk membuat dan merakit alat ini.
Beberapa saat kemudian, Raiden pun masuk kedalam ruangan Davidestorm. Raiden yang sedang gabut pun ingin melihat-lihat apa yang dilakukan oleh Davidestorm.
"Oey, Sobat. Kau kelihatan sangat serius sekali. Memangnya kau sedang melakukan apa? Dari pengelihatanku, kau terlihat seperti sedang membuat sesuatu.." ucap Raiden.
"Benar, aku sedang membuat sesuatu yang hebat. Mungkin alat ini akan selesai sampai saat pertarungan yang ditemukan akan tiba. Jadi, aku bisa melakukan uji coba dalam pertarungan nanti." ucap Davidestorm sembari bersemangat.
"Benarkah?!!" Kedua mata Raiden pun berbinar-binar ketika mendengar penjelasan dari Davidestorm, "Oey, Sobat. Apa aku boleh mencoba alat itu nanti?"
"Sayang sekali, Sobat Raiden. Alat ini mungkin hanya dapat berfungsi padaku saja, tidak dengan orang lain." ucap Davidestorm.
Mendengar hal itu, Raiden pun langsung memasang ekspresi raut wajah yang kecewa karena tidak tidak bisa menggunakan alat yang sedang dibuat oleh Davidestorm saat ini.
"Hadeh, padahal aku ingin sekali menggunakan alat itu. Tapi yasudahlah.."
Sekali kecewa tetaplah kecewa. Tidak ada manusia di dunia ini yang tak luput dari rasa kecewa. Semua orang juga pernah kecewa. Karena kecewa juga merupakan salah satu sifat alami manusia. Jika ada yang kecewa, itu bukanlah perkara yang luar biasa. Akan tetapi, kecewa yang menjadikan sebagai perkara yang luar biasa adalah penyebab dari rasa kecewa itu senditi. Salam kecewa.
Kembali ke alur.
Masih di kastil yang sama. Namun di sebuah ruangan penjara bawah tanah. Terlihat Hugo dengan kedua tangannya yang telah diborgol oleh borgol khusus agar tidak bisa menggunakan kekuatannya.
Dan, tetap didepan ruangan penjara bawah tanah itu, terlihat Paladino yang duduk di sebuah kursi sembari menatap ke arah Hugo.
"Padahal kau masih cukup muda, tapi melakukan pekerjaan yang kotor seperti ini. Sangat disayangkan." ucap Paladino sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Yeah. Mau bagaimana lagi. Aku bisa mendapatkan banyak uang hanya dari pekerjaan kotorku ini. Uang adalah segalanya. Kau bisa mendapatkan atau membeli apapun berkat uang. Jadi, uang adalah bagian terpenting dalam hidupku.." ucap Hugo.
"Uang memang penting. Tapi, tidak bisakah kau mencari uang dengan cara lain tanpa harus merenggut nyawa dari orang-orang tak bersalah diluar sana. Apa kau ingat, sudah berapa banyak nyawa orang yang telah kau bunuh?" tanya Paladino.
"Tidak." jawab Hugo tanpa ada rasa bersalah sama sekali. Dia menjawabnya dengan sangat enteng begitu saja.
"Kenapa aku harus memikirkan mereka? Apa mereka akan memikirkan diriku bila diposisi yang sama seperti mereka? Mungkin, kalau aku tidak melakukan pekerjaan ini, kemungkinan aku sudah mati kelaparan saat ini.." jawab lagi Hugo dengan jelas.
Paladino pun berkata apapun setelah mendengar perkataan Hugo. Dia hanya diam seperti sedang memikirkan sesuatu, "Benar atau tidaknya yang kau lakukan saat ini. Tapi tetap saja, membunuh adalah perilaku yang biadab."
"Ya, aku ini memang biadab. Dan, kenapa kalian tidak membunuhku saja? Aku sudah muak hidup di dunia ini. Aku juga sudah tidak punya apa-apa lagi. Hidup seperti ini sama saja sedang berada didalam neraka. Aku sudah tidak tahan." ucap Hugo.
"Diamlah. Akhir-akhir ini kau terlalu sering mengoceh. Seharusnya kau bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk hidup. Kalau bukan Tuan Firehn yang menyuruh, mungkin aku akan segera membunuhmu saat ini." ucap Paladino.
"Kalau kau ingin membunuhku, maka bunuhlah aku sekarang. Ini adalah kesempatanmu, bukan? Aku juga tidak akan melawan." ucap Hugo.
"Tidak. Aku akan mematuhi perintah Tuan Firehn untuk tidak membunuhmu. Aku berada disini hanya ditugaskan untuk berjaga. Tidak lebih. Tuan Firehn adalah orang yang kuhormati, jadi aku tidak akan melanggar perintahnya.." ucap Paladino.
"Cih. Kau ini orang yang sangat patuh ya."
Sementara itu, di puncak kastil. Terlihat Firehn dan Nicole yang sedang berdiri bersama sembari melihat pemandangan dari puncak kastil.
"Nicole. Kalau perang sudah dimulai. Aku punya sebuah permintaan kepadamu." ucap Firehn.
"Permintaan apa?" tanya Nicole dengan raut wajah kebingungan.
"Carilah tempat yang aman. Bawalah Aisah anak kita bersamamu. Aku tidak ingin Aisah terlibat dalam hal ini. Dia masih anak-anak, dia tak perlu melihat sebuah perang." ucap Firehn.
"Tidak. Aku akan ikut bersamamu. Ini adalah kesempatan untuk menegakkan keadilan, bukan? Mungkin, aku akan menyuruh Felice untuk membawa Aisah pergi ketempat aman bersamanya." ucap Nicole.
"Ah, kalau aku menolak perkataanmu itu, tapi kau akan tetap memaksa, bukan? Baiklah, kalau begitu, lakukanlah sesukamu, Nicole. Mari kita bertarung bersama-sama.." ucap Firehn.
"Aku harap kita bisa mengalahkan Pemerintah. Ini demi masa depan Negara Grousse Kontinent juga. Kalau Negeri ini terus dipimpin oleh Pemerintah yang jahat seperti mereka, Negeri ini pasti akan berada diambang kehancuran." ucap Nicole.
"Kita pasti menang melawan Pemerintah. Dalam perang nanti, menang adalah hal yang wajib. Karena nasib dari Negara Grousse Kontinent ini berada di tangan kita. Kalau kita kalah, maka pupuslah semua harapan." ucap Firehn. Dia benar-benar serius dalam perang yang akan datang.
Kebenaran atau kejahatan yang akan menyelimuti Negeri ini. Dua pilihan yang menentukan masa depan. Bertahan atau hancur.
Pasukan Revolusi akan bertarung habis-habisan melawan Pemerintah demi masa depan Negara.
B E R S A M B U N G
Jangan lupa like koment dan share serta kritik dan saran yang membangun agar cerita Cosplay ini semakin berkembang untuk kedepannya nanti, see you next Chapter!!!