
Gate Of Justice atau yang disebut sebagai gerbang keadilan. Gerbang yang menghubungkan ke pulau tak bernama, yang dulunya pulau ini terdapat sebuah monumen berbentuk patung seorang pahlawan yang sangat dihormati oleh rakyat Negara Grousse Kontinent. Namun, semenjak Pemerintahan korup yang sekarang menguasai Negara ini, monumen itu dihancurkan dan didirikan sebuah penjara besar serta terdapat panggung yang akan digunakan untuk eksekusi mati.
Gerbang keadilan dan juga pulau tak bernama ini terletak di arah laut Utara Working City. Bahkan tempat itu bisa terlihat jelas dari pesisir pantai Working City karena jaraknya yang tak cukup jauh. Kini pulau tak bersama serta gerbang keadilan itu menjadi tempat yang terisolasi bahkan siapapun tidak boleh ke tempat itu dan hanya pihak pemerintah lah yang boleh pergi kesana. Siapapun yang melanggar, maka orang itu akan segera di eksekusi mati di hari itu juga.
Kini, Xia yang berada dipinggiran pulau itu merasa sangat frustasi ketika memandang gerbang raksasa yang merupakan gerbang keadilan itu tertutup rapat, bahkan di sekelilingnya juga terdapat tembok raksasa. Kini, Xia seolah-olah seperti berada dalam sebuah sangkar burung yang tak bisa kemana-mana.
Sekilas, Xia melihat ke arah lain, dan ia pun melihat sebuah panggung yang cukup tinggi dengan beberapa alat yang digunakan untuk eksekusi mati. Xia lagi-lagi dibuat terkejut.
"Jangan terkejut begitu, Xia. Tapi, aku mulai berfikir bahwa sebaiknya kau akan ku eksekusi mati saja. Bagaimana, Xia?" tanya Babenko.
Xia pun mengambil dua pistolnya dari dalam sakunya dengan cepat lalu mencoba untuk menyerang Babenko dengan cara menembak pistolnya, "Dorrr!! Dorrr!! Dorr!!"
Namun, Babenko menggunakan kekuatannya untuk mengubah peluru yang melesat ke arahnya itu menjadi sebuah mainan Lego. Xia pun terkejut kalau Babenko juga mempunyai kekuatan yang sangat kuat seperti Fischl.
"Kau tak mungkin bisa mengalahkanku di tempat ini, Xia. Oh iya, bagaimana kalau eksekusimu nanti akan dihadiri oleh para pejabat yang bekerja di Working City, ya? Itu bisa membuat kematianmu sedikit terhormat, apa kau setuju, Xia?" tanya Babenko sembari tersenyum licik.
"Ya. Terserah apa katamu, Babenko." Xia tersenyum licik. Tiba-tiba dia melakukan gerakan yang sangat cepat sembari mengeluarkan pisau dari dalam sakunya. Xia mencoba menusuk wajah Babenko.
"!!!!!" Babenko berhasil sedikit menghindar dari serangan kejutan dari Xia, "Batss!!" Namun pipinya terkena sedikit goresan dari pisau yang dilesatkan Xia hingga membuat pipinya mengeluarkan darah.
"Kau lengah, Babenko. Aku takkan menyerah meski aku berada dalam kondisi frustasi, tak semangat, atau apapun, karena impianku adalah menghapus dan memusnahkan ketidakadilan di Negeri ini!! Jadi, aku takkan mati sebelum kau dan komplotanmu merasakan kekalahan.." ucap Xia dengan raut wajah semangat.
"Sialan kau, Xia!!! Aku takkan memberi ampun padamu!!! Rasakan ini!!!" Tanpa basa-basi, Babenko pun langsung melesatkan pukulan kuat ke wajah Xia, "Buaghhh!!!"
Xia pun terpental jauh kebelakang, dengan hidungnya yang mimisan. Ketika Xia tersungkur ke tanah, Xia pun pingsan tak sadarkan diri.
"Kau telah membuatku marah, Xia!!! Besok, aku akan segera mengesekusimu sendiri!! Dan panggil semua orang kesini!! Besok adalah hari yang sangat penting!! Pesta kematian Xia Wakarimashita!!!" teriak Babenko yang menggelegar ke seluruh penjuru pulau.
Takdir yang membawa Xia menuju jalan kematian akan segera tiba. Apakah Xia berhasil lolos dari takdir itu?
Sementara itu, di Working City. Hari ini adalah hari yang indah bagi Ragiru. Bagaimana tidak? Hari ini dia berencana memulai aktivitas normalnya seperti hari-hari biasanya. Seperti makan sambil berjoget, mandi sambil berjoged, berak sambil berjoget, tidur sambil berjoged. Karena Ragiru tidak bisa terpisah dari kata "Berjoged"
"Lalalalala~ Bangun pagi~ gosok gigi~ cuci muka~ joged lagi~ terjana~"
Kala itu Ragiru sedang berjalan-jalan ria di tengah kota Working City dengan sangat gembira. Xia yang sudah tertangkap, Feuer City yang telah hancur, sudah tak ada lagi penganggu, bagaimana tidak si Ragiru bisa bahagia? Tentu saja dia bahagia karena para penganggu sudah musnah, itu menurutnya..
"Ibu, kenapa pria itu berjoged tapi jogedannya jelek sekali-" ucap seorang anak. Sang ibu langsung menutup mulut anaknya itu dengan salah satu tangannya.
"Hush.. Jangan hiraukan, dan jangan lihat, dia hanya orang stress, kalau kau melihatnya lebih lama, perkembanganmu akan sedikit mengalami masalah." ucap sang ibu.
Ragiru yang mendengarkan perbincangan ibu dan anak itu pun langsung memasang raut wajah kesal dan berkata, "Cuih, iri bilang boss!! Adu mekanik sini!! Dasar bisanya cuma gosip doang huu!!!" ejek Ragiru.
Karena hari ini adalah hari yang sangat spesial bagi Ragiru, ia pun tak memasukkan perkataan ibu dan anak itu ke dalam hatinya. Ia langsung melanjutkan jalannya begitu saja. Tapi, ketika Ragiru berjalan dengan ria, tiba-tiba ia pun ditarik seseorang ke gang sempit.
Spontan Ragiru pun teriak histeris, "Kyaaaaaaa!! Taskete!!" Ragiru berlagak sok imut. Ragiru terjatuh ke gang sempit tersebut. Dengkulnya merasa sedikit kesakitan, "Amboyyy.. Siapa yang menarik ratu canss sepertiku ini."
"Hoi, cepat katakan dimana Xia saat ini berada?" Seorang pria berkata dari belakang Ragiru.
"Huh? Apa maumu bertanya soal Xia? Najiss." Ragiru pun berdiri dan melirik ke arah pria yang berada dibelakang, "Kalau kau mau tau informasi tentang Xia boleh saja, asal kau berhasil mengalahkanku, bagaimana?"
"Baiklah, kalau itu yang kau minta.."
Bagh! Bugh! Bagh! Bugh! Bagh! Bugh! Beberapa saat kemudian, terlihat Ragiru yang tergeletak di jalan gang sempit dengan kondisi wajah yang babak belur.
"Akhhh..." Ragiru merasa kesakitan di sekujur tubuhnya, terutama pada wajahnya.
"Kau sekarang sudah kalah, cepat katakan Xia dimana sekarang dia? Kau sudah berjanji kalau aku berhasil mengalahkanmu, kau akan memberiku informasi itu kan?" tanya pria itu.
"Tapi boong, hehe.." Ragiru masih bisa membuat lelucon walau dirinya sendiri sudah babak belur.
Tanpa basa-basi pria itu pun langsung memukul wajah Ragiru kembali dengan sangat kuat, "Buaghhh!!!!!"
"Uaghhhh!!!" Ragiru teriak kesakitan.
"A-ampun, a-aku akan memberitahumu tentang lokasi keberadaan Xia, tapi jangan hajar aku lebih dari ini.." ucap Ragiru dengan nada pasrah.
Lagi-lagi Ragiru kembali menjadi samsak seseorang. Dan siapakah pria yang telah menghajar Ragiru untuk mencari lokasi keberadaan Xia itu?
B E R S A M B U N G