Cosplay

Cosplay
Chapter 459 - Nostalgia.



Xia sangat ingin sekali dengan salah satu orang yang berasal dari pasukan Revolusi dan bergabung dengan pasukan tersebut untuk menegakkan keadilan. Bahkan, setelah di Feuer City, Xia sama sekali belum bertemu dengan seseorang yang berasal dari pasukan Revolusi.


Sebenarnya Xia masih meragukan keberadaan Pasukan Revolusi tersebut, bahkan ia juga ragu bahwa Pasukan Revolusi sudah tersebar ke seluruh penjuru Negeri, selain itu, beberapa orang yang mengaku dari pasukan Revolusi yang ia tanyai tentang pendiri pasukan Revolusi saat di Feuer City, ternyata mereka tidak tahu siapa yang mendirikannya.


Xia memang masih ragu dengan Pasukan Revolusi yang kesannya masih sangatlah misterius, namun dalam benaknya juga percaya bahwa suatu saat Pasukan Revolusi pasti akan melakukan sebuah pergerakan seperti apa yang dikatakan Firehn.


~


Tak terasa tujuh jam pun sudah berlalu. Kini rombongan kereta kuda yang membawa Firehn, Xia, Izumi, dan yang lainnya akhirnya telah memasuki wilayah Man City, bertepatan dengan waktu yang sudah memasuki senja. Sekilas, langit berwarna kemerahan-merahan.


Aisah yang kala itu melihat keluar jendela kereta kuda pun melihat pemandangan beberapa anak yang sedang bermain kejar-kejaran. Tampak dari raut wajahnya, Aisah sangat ingin berkumpul dan bermain dengan anak-anak itu.


Namun, Xia yang melihat beberapa anak main kejar-kejaran, Xia bernostalgia dengan masa kecilnya yang bermain dengan rekan-rekan seumurannya dahulu. Xia tersenyum melihat hal itu. Terlebih lagi, moment-moment seperti itu tidak akan terulang kembali. Xia sedikit meneteskan air matanya.


Firehn mengelus-elus rambut Aisah. Sementara Izumi yang terlihat sedang tertidur pulas bersandar pada sisi kereta kuda. Bahkan, sesekali Izumi juga terdengar sedang mendengkur dengan keras.


Di kereta kuda lainnya, terlihat Xianfeng yang mengamati pendangan luar dengan menyandarkan dagunya ke telapak tangan kanannya, tampaknya Xianfeng sedang merenungkan sesuatu. Davidestorm dan Dapidson juga tampak tertidur dengan pulas. Lalu, Pilkington yang tidak ngapa-ngapain, alias sedang gabut, ia pun mencoba untuk mengajak bicara Xianfeng.


"Xianfeng, kalau ketidakadilan sudah musnah dari Negara ini, apa yang akan kau lakukan? Apa kau punya tujuan?" tanya Pilkington.


"Entahlah. Mungkin aku akan mengelana keluar Negeri. Dari kecil aku sangat ingin melihat gunung salju, Padang pasir, maupun fenomena alam yang bernama Aurora. Tapi, aku tidak ingin meninggalkan Xia disini sendirian begitu saja. Mungkin aku akan mengajaknya nanti." ucap Xianfeng.


"Tujuan yang hebat. Bahkan aku tidak pernah berfikir seperti itu." ucap Pilkington.


"Kau bisa ikut denganku dan Xia. Ajak Dapidson juga. Kita akan selalu bersama-sama untuk menjelajahi dunia yang belum kita jamah." ucap Xianfeng.


"Ah, entahlah. Mungkin aku akan hidup damai di Negara ini saja. Tapi ya, semoga aja Negara ini terbebas dari ketidakadilan untuk kedepannya lagi. Ditambah penculikan dan pembunuhan sudah terjadi dimana-mana. Aku tak ingin hal itu terjadi pada kita.." ucap Pilkington.


"Ya, benar. Sebelum semua ini berakhir, kita takkan bisa mewujudkan impian kita masing-masing. Karena masih ada musuh yang harus kita kalahkan." ucap Xianfeng.


Beberapa saat kemudian, rombongan kereta kuda itu berhenti tepat di depan sebuah gedung penginapan. Firehn yang sudah turun dari kereta dengan menggendong Aisah pun langsung berjalan menuju ke kereta kuda lainnya.


"Ayo turun, kita sudah sampai di penginapan. Untuk malam ini kalian beristirahatlah. Kita akan membahas tujuan kita besok saja." ucap Firehn.


Pilkington dan Xianfeng pun turun dari kereta kuda.


"Ya, perjalanan tujuh jam sepertinya membuat kami sedikit merasa lelah. Tidur di kasur yang empuk adalah solusinya." ucap Pilkington.


"Aku sangat berterimakasih padamu Firehn-san, karena sudah mengajak kami ke Man City serta apa yang kau berikan kepada kami." ucap Xianfeng yang berterima kasih sembari membungkuk hormat.


"Simpan terimakasih mu, Xianfeng. Aku memang membutuhkan kalian, jadi akulah yang seharusnya berterimakasih." ucap Firehn, "Oke, semuanya!! Ayo segera turun!! Yang masih tidur ayo bangun!! Kalian bisa tidur di penginapan!!" lanjutnya.


"Baik!!!"


Karena Saito tak ingin salah orang, ia pun mengecek buku Bingo lalu membandingkan foto di buku Bingo dengan apa yang ia lihat.


"Sama persis. Apa yang sebenarnya mereka lakukan di Man City?"


Saito hanya melihat mereka berempat, karena Firehn, Aisah, Izumi, Yoshino, Killa, Vika, Davidestorm, dan Paladino sudah memasuki penginapan terlebih dahulu.


"Kurasa kami tidak perlu repot-repot pergi ke Working City, karena mereka lah yang datang sendiri menuju jalan kematian." ucap Saito, ia pun tersenyum licik menyeringai.


Tak berselang lama kemudian, Saito pun langsung bergegas pergi menuju ke tempat Hugo dan Amber untuk memberitahu informasi ini kepadanya.


"Ini informasi yang sangat menarik. Keempat Incaran atau target kita selanjutnya telah datang dengan sendirinya. Sepertinya besok adalah waktu yang tepat untuk beraksi." ucap Saito.


Disisi lain Benn yang memasuki mode burung Elang Martial nya pun sedang terbang di udara dan secara tak sengaja melihat kehadiran Saito yang sendirian sedang bergegas menuju ke suatu tempat.


"Dia, kan? Sepertinya ini kesempatan emasku untuk mengikutinya agar bisa mengetahui markasnya." ucapnya.


Benn pun mengikuti Saito kemana ia pergi.


"Raiden, secara tak sengaja aku bertemu dengan salah satu dari tiga pembunuh bayaran itu. Dan saat ini, aku sedang mengikutinya dari belakang."


[ Oey, jangan sembrono, Benn-san!! Jangan meremehkan mereka, kau bisa dibunuh oleh mereka bila mencoba melawannya sendirian!! ]


"Tidak. Aku hanya mengikutinya sampai kemana ia akan pergi. Mungkin dia akan pergi menuju ke markasnya. Ini adalah Moment yang tepat untuk mencari informasi itu, Raiden."


[ Baiklah, Benn-san. Jangan sampai terbunuh, kalau itu terjadi, Kapten pasti akan marah dan takkan memaafkanmu meskipun kau mati sekalipun. ]


"Aku tahu itu. Kau tak perlu mengajariku lagi. Aku juga tidak akan bertindak gegabah dalam masalah ini."


[ Ah, aku mengerti. Lakukan sesukamu, Benn-san. Tapi jangan sampai mati, okey? ]


"Okey. Aku juga takkan bisa kalah semudah itu."


Beberapa menit kemudian, Saito pun sampai di depan sebuah rumah kosong yang tak berpenghuni selama puluhan tahun. Saito sudah merasakan bahwa dirinya telah diikuti boleh burung elang yang sama seperti sebelumnya.


Lalu, Saito menatap tajam ke arah Benn yang masih berada didalam mode Burung Elang Martial.


"Sepertinya kau tak kapok-kapok untuk mengikuti kami dari belakang, ya. Dasar sialan. Aku akan membunuhmu sekarang juga. Dasar burung Elang penguntit!!" ucap Saito dengan nada sinis.


B E R S A M B U N G