
Matahari telah mencapai puncaknya, meski begitu suhu udara tidak terasa panas karena beberapa saat kondisi langit mulai berawan, diantara mendung dan juga cerah.
Rose Town. Sesuai namanya yaitu "Rose" yang berarti bunga. Kota yang dijuluki The Flower of City ini memanglah sangatlah unik. Pasalnya, banyak sekali beraneka toko-toko bunga yang terlihat dipinggir jalanan. Bahkan, sering kali juga terlihat pohon bunga sakura yang berguguran hingga dedaunannya memenuhi jalanan.
"..... Aku yakin kalau salah satu dari Ryu, Kuzuryu, dan Hyu berada di kota ini. Tapi kenapa sudah cukup lama menelusuri kota ini aku tidak mencium batang hidung mereka ya." ucap Shoba. Terlihat dia sedang berjalan dijalanan besar yang dikelilingi oleh puluhan toko bunga yang begitu ramai.
Shoba masih terus berjalan untuk mencari keberadaan kru-nya yang lain. Tapi masih tetap belum menemukannya. Namun, setelah itu ia tak sengaja menginjak bunga sakura yang sedang berguguran.
"Eh?"
Seketika Shoba merasakan firasat buruk tentang Shion. Ia berfikir Sepertinya harus melakukan gebrakan cepat agar bisa menyelamatkan Shion sebelum terlambat. Namun saat ini Shoba masih belum mengetahui keberadaan Shion saat ini.
"Shion-chan, bersabarlah. Aku akan datang untuk menyelamatkanmu!!" ucap Shoba dengan semangat.
Akan tetapi, dari kejauhan terlihat seluet seorang pria yang sedang mengamati Shoba. Tak berselang lama, pria tersebut langsung mengeluarkan alat komunikasinya dan menelpon seseorang.
"Nona Himawari, saya melihat salah satu pria yang sedang menjadi buron saat ini. Kalau dilihat dari kemiripannya, dia adalah Shoba Sekke dari bajak laut Shobasoap.."
[ Tetap amati pergerakannya, jangan ada pertarungan sebelum aku tiba disana.. ]
"Baiklah, nona Himawari. Sesuai permintaan anda."
Ruo Yiu, ia adalah pria yang tengah mengamati pergerakan Shoba secara diam-diam di Rose Town. Dia juga adalah orang yang menelpon Himawari salah satu dari anggota inti Serikat Lunarian. Ruo Yiu juga merupakan anggota dari Divisi Warrior yang bertanggung jawab di Rose Town.
~
Hingga menjelang sore, Shoba sama sekali tak menemukan keberadaan kru-krunya yang lain. Bahkan ia pun sampai terbaring dijalanan karena saking capeknya berjalan kaki menelusuri Rose Town sebanyak tiga kali. Keringatnya mulai membasahi pakaian dan jubah yang ia kenakan.
Shoba mengelap keringat yang membasahi wajahnya, "Sialan, mereka itu dimana sih sekarang. Padahal kukira mereka ada disini. Sebenarnya mereka sedang pergi kemana haddeh.." Shoba bangkit dan menuju ke bangku yang berada di pinggir jalan, lalu ia duduk.
Shoba ngos-ngosan dan melepaskan jubahnya agar bisa leluasa merasakan udara segar. Mengingat hari yang mulai sore, ia pun sempat berpikir untuk mencari makanan. Namun setelah ia ingat-ingat sekali lagi, di Rose Town tidak ada orang yang menjual makanan sama sekali, yang ada hanyalah penjual bunga.
"Apa-apaan Rose Town ini. Kenapa tidak ada yang menjual makanan sama sekali sih. Mereka itu benar-benar sinting ya? Apa orang-orang yang tinggal disini makanan pokoknya adalah bunga? Memang tidak masuk akal.." keluh Shoba.
Shoba pun mengamati sekitar dan kembali mengeluh, "Sepertinya aku harus segera keluar dari Rose Town agar tidak mati kelaparan. Itu konyol sekali.."
Kemudian, banyak orang yang berlalu lalang didepan Shoba yang sedang duduk dibangku. Ia melihat sebagian orang sedang memakan sebuah cemilan yang beralaskan bungkus kertas.
"Lah itu ada makanan, mereka beli makanan dimana? Aku sama sekali tidak menemukan penjual maka-" Namun setelah Shoba mengamati lebih jelas, ternyata cemilan yang dimakan orang-orang tersebut adalah bunga, "Duh, ternyata sesuai dugaanku. Orang-orang yang tinggal disini makanan pokoknya adalah bunga. Mereka benar-benar sinting.."
~
Tak terasa malam pun tiba, Shoba juga masih duduk dan terlihat tidur lelap di bangku itu dengan kondisi yang perutnya yang sangat lapar. Rasa lelah, dan rasa ngantuk seketika membuat rasa laparnya menghilang. Karena dia tidur.
"Haddeh, dingin sekali. Ah sial, aku juga lupa kalau belum makan." Shoba memegangi perutnya yang kelaparan.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara langkah kaki yang sedang mendekat ke arah Shoba dari belakang. Ketika Shoba menoleh, ia terkejut.
"Kau kan..-" Raut wajah Shoba tiba-tiba berubah menjadi panik.
Wajar saja, karena orang yang dilihat oleh Shoba ialah Himawari salah satu anggota inti dari Serikat Lunarian, "Yo, berani sekali kau kabur dari pelelangan di Crystalline Town.." ucap Himawari, selang beberapa detik seluruh anggota dari divisi Warrior pun datang dan berdiri didekat Himawari.
Shoba pun beranjak dari bangku dan mundur beberapa langkah kebelakang sembari memasang posisi waspada, "Apa kau kemari bersama dengan Groombride seperti pada waktu itu?"
"Ah, waktu itu ya. Aku sungguh kasihan sekali padamu karena krumu dan aliansimu tertangkap oleh kami. Aku tak sabar untuk memperkerjakan mereka sebagai seorang budak pekerja paksa loh.." ucap Himawari.
"..... Sialan, takkan kubiarkan itu terjadi. Oleh karena itu, aku akan mengalahkan dirimu disini, Himawari!!" ucap Shoba dengan tegas.
"Ara-ara~ kasar banget jadi cowok." Tiba-tiba Himawari sudah berada dihadapan Shoba sembari mencolek dagu Shoba.
Shoba yang terkejut pun spontan menyerang Himawari dengan memukulnya meskipun serangan tersebut berhasil dihindari dengan mudah oleh Himawari. Shoba kembali bergerak beberapa langkah kebelakang.
"Cih. Jangan menggodaku, meskipun aku tahu kalau diriku ini memang tampan idaman para wanita. Tapi aku setia pada Shion-chan!!!" tegas Shoba.
"Shion? Oh perempuan itu ya?"
"A-apa kau tahu tentang keberadaan Shion? Cepat beritahu aku.."
"Malas ah, soalnya kamu cowok kasar.." ucap Himawari dengan nada menggoda.
Shoba pun semakin kesal dengan apa yang dikatakan Himawari. Selang beberapa detik, ia melihat bunga matahari yang terbang tepat didepan matanya dan..
Himawari bertukar tempat dengan bunga matahari yang berada dihadapan Shoba. Dan dengan cepat Himawari pun langsung menendang wajah Shoba, "Matilah!!!"
"Uaghh!!" Shoba terpental hingga puluhan meter. Ia terkejut dengan serangan Himawari yang begitu cepat. Shoba pun beberapa kali menabrak kasarnya jalanan.
"Tenang saja, aku tidak akan membunuhmu selagi kau masih mempunyai nilai jual." ucap Himawari.
Shoba kembali bangkit dan berdiri kembali. Ia menyadari bahwa tendangan telak yang dilesatkan Himawari membuat hidungnya mimisan. Shoba pun mengusapnya.
"Kalau begitu, aku tidak punya pilihan lain selain mengalahkanmu dan komplotanmu disini, Himawari.." ucap Shoba tersenyum licik
B E R S A M B U N G