Cosplay

Cosplay
Chapter 395 - Keadilan vs Ketidakadilan.



Palu yang terketuk menandakan sidang telah dimulai. Raut wajah dari para penonton dari kedua belah pihak yang telah hadir pun memasang raut wajah serius. Mereka sangat menunggu moment-moment jalannya persidangan.


Kemudian, Hakim satu pun mempertanyakan kronologi kejadian yang sebenarnya kepada Ragiru. Hakim berencana membandingkan cerita kronologi yang disampaikan dari kubu Ragiru maupun dari kubu Izumi.


Pengacara Ragiru, Mckiley pun menjelaskan kejadian yang sebenarnya atas kronologi Ragiru yang mendapatkan ancaman pembunuhan berencana atas perilaku Izumi dan kawan-kawannya.


Mckiley menjelaskan bahwa pada saat itu Ragiru sedang melakukan aktivitas nya yaitu menghibur warga sekitar dengan goyangan serta nyanyian lagu indianya namun tiba-tiba Izumi dan teman-temannya datang begitu saja lalu menyerangnya dengan niat membunuh.


Setelah Mckiley menjelaskan, tiba-tiba Ragiru berdiri dari tempat duduknya. Memasang wajah melas, sembari berbicara tentang ketidakadilan yang menyertainya.


"Pak Hakim, apakah saya salah hanya dengan menghibur warga dengan tarian serta nyanyian lagu india?!"


"Itu konyol sekali, tarian serta nyanyianmu itu membuat mata dan telingaku sakit." ucap Izumi yang tiba-tiba berbicara ditengah-tengah persidangan.


"Ya. Itu benar sekali." lanjut Yoshino.


"Jduakkk!!!" Killa langsung menjitak kepala Izumi dan Yoshino, "Siapa yang menyuruh kalian untuk berbicara?!"


"Lihatlah, pak Hakim!! Dia bahkan mengejekku!! Itu termasuk pencemaran nama baik!! Aku sudah tidak tahan dengan hal ini Pak Hakim.." ucap Ragiru dengan wajah melas.


Xia melirik ke arah Ragiru. Dia semakin kesal dengan ucapannya yang semakin ngawur. Xia menggigit bibirnya sendiri karena saking kesalnya, bahkan dia pun mengepalkan kedua telapak tangannya dan sudah tak tahan untuk memukul Ragiru. Tapi, ini didalam persidangan, dan lawannya adalah sosok Ragiru yang merupakan komplotan dari para tikus berdasi. Dia harus tetap sabar.


Sekilas, Ragiru pun melirik balik Xia dengan memasang senyum licik selama beberapa detik sebelum memasang wajah melas kembali.


"Baiklah. Sekarang giliran kubu Saudara Izumi yang menjelaskan." perintah hakim dua.


Dapidson berdiri dari tempat duduknya. Kali ini dia yang akan menjadi pembicara. Dapidson mengatakan kronologi yang sebenarnya sesuai apa yang dikatakan Izumi dan teman-temannya sebelumnya. Dapidson yang handal dalam hal speak up, dia pun menjelaskan hal itu dengan mudah dipahami oleh seseorang.


Dia sangat pintar berbicara. Apalagi tentang masalah hukum, Dapidson adalah ahlinya. Seseorang yang pintar dalam pengetahuan hukum berjuang untuk membela keadilan, dia adalah Dapidson.


Setelah Dapidson selesai berbicara, hakim ketua pun meminta barang bukti dari kubu Ragiru. Pengacara Mckiley pun menaruh sebuah koper tepat diatas meja yang berada dihadapannya. Mckiley membuka koper itu, dan terlihat beberapa plastik hitam yang isinya diduga sebuah foto bukti.


Pilkington yang melihat hal itu pun mulai berfikir, "Xia-chan, sepertinya dia sudah menyiapkan barang bukti palsu. Orang sepertinya pasti dengan mudah merekayasa barang apapun dengan mudah, apa aku harus menggunakan kekuatanku?" tanyanya dengan nada pelan kepada Xia.


"Ya. Lakukan, Pilkington."


Ketika Mckiley mengambil beberapa plastik yang berisi foto itu dari dalam koper, tiba-tiba kedua mata Pilkington mengeluarkan cahaya hijau yang menyilaukan, dia menatap ke arah plastik yang dipegang oleh Mckiley.


"Plastik itu berisi sebuah foto." ucap Pilkington tanpa berkedip sama sekali. Dia sangat fokus.


Beberapa saat kemudian, Mckiley pun memberikan plastik hitam itu kepada para hakim. Ragiru yang melihat itu lagi-lagi tersenyum licik.


"Mereka akan tamat dengan foto rekayasa itu. Aku telah membayar mahal untuk membuat barang bukti rekayasa. Dengan ini hakim pasti akan mendapatkan moment untuk menyudutkan mereka khikhikhi.." ucap Ragiru sembari tertawa yang cukup tertahan karena ia mencoba menahannya.


Kemudian, ketua hakim itu juga tersenyum licik melihat ke arah kubu Izumi. Seolah-olah dalam hatinya dia berbicara mampus kepada mereka. Tanpa basa-basi, Hakim ketua pun mengambil dan membuka plastik tersebut.


Namun, reaksi hakim ketua yang kebingungan membuat Ragiru dan pengacaranya, Mckiley pun terheran-heran. Bagaimana tidak? Plastik yang awalnya itu berisi sebuah foto rekayasa telah hilang tanpa jejak.


"Apa? Kenapa di dalam plastik hitam itu tidak ada isi foto sama sekali? Oey, Mckiley, apa kau tidak menaruhnya didalam?" tanya Ragiru dengan raut wajah sedikit panik.


"Tidak, tuan Ragiru. Beberapa saat yang lalu ketika saya memegang plastik itu, saya masih merasakan ada isi didalamnya. Tapi, kenapa tiba-tiba tidak ada? Apa ada yang mencurinya?" tanya balik Mckiley.


"Yang benar saja kau, bodoh!! Kalau mencuri siapa yang mencurinya?! Kita tidak melihat siapapun yang mencuri isi foto ini. Kau mungkin lupa menaruhnya, dasar bodoh!!" ucap Ragiru dengan nada membentak.


Pilkington, Xia, dan Dapidson tersenyum menahan tawanya ketika melihat Ragiru berdebat dengan pengacaranya sendiri.


"Lihatlah, Xia-chan. Mereka berdua seperti orang bodoh yang berdebat ditengah-tengah persidangan." bisik Pilkington.


"Ya. Mereka konyol sekali. Mereka berharap menang melawan kombinasi kalian." ucap Xia dengan nada pelan.


Fischl yang melihat hal itu juga cukup kebingungan, "Apa yang sebenarnya terjadi dengan barang bukti itu? Apa mereka kecolongan? Mereka itu benar-benar bodoh sekali." ucapnya.


Kemudian, tanpa ada hujan dan angin, tiba-tiba hakim ketua memutuskan sesuatu yang tak terduga.


"Tidak usah barang bukti. Dengan hanya menceritakan kronologi saja saya sudah bisa menyimpulkan siapa yang salah dan siapa yang benar." ucap Hakim ketua.


"Apa maksudnya?" tanya Xia.


"Sesuai kronologi yang diceritakan oleh kedua belah pihak, saya telah memutuskan bahwa Izumi dan kawan-kawan telah bersalah! Mereka akan dihukum mati dengan cara dipenggal!!" ucap Hakim ketua dengan lantang. Kemudian ia memegang palu dan bersiap untuk mengetuknya.


Namun, sebelum itu, Xia pun mengeluarkan sebuah foto dari dalam saku bajunya lalu mengangkatnya ke atas dan memperlihatkannya kepada para hakim.


"Lihat ini, Hakim!"


Xia tampak begitu percaya diri.


Para hakim pun terkejut dengan foto yang diperlihatkan Xia. Ragiru yang penasaran dengan foto itu pun berdiri lalu berjalan melihatnya. Ragiru juga ikut terkejut setelah melihatnya.


"Sialan." Ragiru memasang raut wajah kesal, "Trik apa yang kau gunakan untuk merekayasa foto barang bukti, Xia Wakarimashita?!!"


Foto yang membuat terkejut sebagian orang itu adalah foto saat Ragiru dan polisi pihak keamanan sedang melakukan transaksi jual beli hukum.


"Sayang sekali. Hakim pun sudah dibayar untuk memenangkan Ragiru! Dimana letak keadilan di negara ini! Lihatlah semua!! Sebelumnya, Ragiru telah melakukan transaksi jual beli hukum agar dia bisa dimenangkan dalam persidangan ini!! Lalu, dengan reaksi para hakim yang terkejut, menandakan kalau foto ini adalah sebuah kebenaran!!" Xia berbicara dengan lantang.


"Dia. Orang yang berbahaya. Aku harus segera menyingkirkannya segera." ucap Fischl.


B E R S A M B U N G