
Davidestorm dan Juliasu saling menatap tajam satu sama lain. Mereka memasang posisi kuda-kuda masing-masing, dan bersiap untuk memulai sebuah serangan.
"Apa kau sudah siap?"
"Ya. Aku sudah menantikan hal ini.."
Hembusan angin tiba-tiba datang membuat rambut Davidestorm dan Juliasu sedikit berantakan. Mereka berdua sudah bergerak selangkah kedepan. Dan ketika daun yang gugur sudah menyentuh tanah, mereka berdua pun saling melesat satu sama lain.
Juliasu menciptakan batu bara yang sangat panas, bahkan batu bara yang ia ciptakan sampai menyala. Juliasu melesatkannya ke arah Davidestorm.
Disisi lain, Davidestorm menciptakan sebuah menciptakan sebuah perisai melalui kamera ajaibnya untuk menahan batu bara yang akan mengenainya. Davidestorm melepaskan perisainya lalu melompat ke udara, ia menciptakan sebuah pedang. Lalu melakukan tebasan pedang, Davidestorm meniru pergerakan Yoshino.
"Batsss!!!"
Beberapa batu bara tercipta sebagai perisai untuk menahan tebasan pedang yang dilesatkan Davidestorm. Setelah itu, Juliasu bergerak membelakangi Davidestorm. Menciptakan satu batu bara di telapak kanannya. Dia mencoba menyerang Davidestorm dari jarak dekat.
Davidestorm yang menyadari hal itu langsung berputar dan mundur beberapa langkah kebelakang. Selang beberapa detik, Davidestorm menciptakan dua pistol di kedua tangannya lalu menembakkannya ke arah Juliasu, "Dorrr!! Dorr!! Dorr!!"
Juliasu berlari cepat ke arah Davidestorm dengan zig-zag sembari menghindari tembakan yang mengarah ke arahnya. Setelah itu ia berhenti dari larinya, lalu melesatkan batu bara berukuran besar ke udara.
"Lose Myself.."
Juliasu membentuk rapalan pada tangannya.
"Rain Stone!!"
Batu bara yang besar itu menciptakan ribuan batu bara berukuran kecil dan langsung menghujani Davidestorm.
Davidestorm menciptakan sebuah robot dari kameranya seperti pada saat ia bertarung di Hirsley Bulgarian melawan pasukan Hristov. Robot yang diciptakan Davidestorm menepis ribuan batu bara kecil yang menghujaninya. Davidestorm berlindung dibawah robotnya.
Akan tetapi, hantaman dari batu bara itu sangat lah kuat. Alhasil, robot yang diciptakan Davidestorm perlahan mulai hancur. Sekilas, lengan kiri Davidestorm terkena satu batu bara sehingga membuatnya harus menerima sedikit luka bakar.
"Tcih.."
Sebelum robotnya hancur sepenuhnya, Davidestorm pun menciptakan sepatu roda yang langsung ia kenakan. Davidestorm bergerak cepat ke arah Juliasu. Davidestorm melompat dan melepaskan sepatu rodanya. Disaat yang bersamaan, Davidestorm menciptakan sebuah sepatu roket, sepatu yang bisa ia gunakan terbang bebas di udara.
Davidestorm melesat terbang ke arah Juliasu. Ketika Davidestorm sudah dekat dengan Juliasu, Juliasu melesatkan batu bara yang membentuk runcing ke arah Davidestorm.
Davidestorm langsung memiringkan tubuhnya untuk menghindari serangan tersebut, kemudian ia membelakangi Juliasu. Lalu, Juliasu langsung berpaling kebelakang, ia menciptakan lebih banyak batu bara lagi.
"Hah? Kemana dia?"
Juliasu tidak melihat Davidestorm sama sekali. Akan tetapi, "Raising Shoot!!!" Davidestorm datang dari sebelah kanan Juliasu dan langsung menendang pipi Juliasu hingga membuatnya harus terpental cukup jauh, "Jduakk!!!"
"Uaghh!!"
Juliasu terpental hingga menabrak beberapa pohon dibelakangnya sampai tumbang. Beberapa saat kemudian, terlihat bibir Juliasu yang berdarah karena serangan Davidestorm. Juliasu juga sedikit merasa kesakitan pada tubuhnya.
"Sialan, kenapa kau bisa cepat sekali." ucap Juliasu.
"Yeah. Aku cepat ya karena memang cepat." ucap Davidestorm.
Lalu, Davidestorm dengan sepatu roketnya terbang kembali ke arah Juliasu dengan sangat cepat. Davidestorm mencoba melesatkan pukulan kepada Juliasu.
Juliasu terkena pukulan telak Davidestorm. Juliasu menjadi sangat lambat setelah terkena tendangan kuat dari Davidestorm. Meski Juliasu terkena pukulan Davidestorm, ia masih bisa berdiri.
Tanpa basa-basi, Davidestorm pun langsung memegang salah satu tangan Juliasu dan langsung membantingnya ketanah dengan sekuat tenaga, "Radiant Hammer!!!"
"Bruakkk!!!!!"
"Uaghhhh!!!"
Juliasu terbanting. Juliasu menghantam tanah dengan sangat keras. Bahkan setelah terkena serangan itu, Juliasu pun langsung pingsan dan tak bisa bangkit lagi.
Sementara itu, Davidestorm berdiri didepan Juliasu pun langsung tersenyum lebar dengan sedikit ngos-ngosan, ia juga mengangkat salah satu tangannya ke udara.
"Akulah, si jenius photograper!! Aku berhasil memenangkan pertarungan ini!! Sayang sekali, kau harus memaksa bertarung denganku walau hasil akhirnya sudah jelas." ucap Davidestorm.
Stepyan yang telah mengetahui hasil akhir pertarungan antara Juliasu dan Davidestorm pun langsung dibuat lemas.
"Tak mungkin.." Stepyan terjatuh dalam posisi berlutut. Ekspresi wajah tak percaya pada Stepyan, ia tak menyangka Juliasu berhasil dikalahkan, "Juliasu kalah.."
Davidestorm pun langsung berjelan mendekat ke arah Stepyan dan berkata, "Hoi, berdirilah, ayo bertarung melawanku. Setelah mengalahkanmu, semua ini akan beres."
Namun, Stepyan begitu ketakutan dan sekujur tubuhnya bergetar. Tak berselang lama, Stepyan pun pingsan.
Davidestorm yang melihat Stepyan pingsan pun langsung menaikkan salah satu alisnya dan nyengis, "Are? Belum bertarung sudah pingsan begitu saja, hadeh. Kalau saja dia bertarung denganku, pasti ini akan semakin menjadi seru.."
Sementara jauh dibelakang sana, terlihat Piekarski yang berdiri saling berhadap-hadapan dengan Vika.
"Oh, daritadi kau berada disini, ya?" tanya Vika.
"Ya. Bertarung bersama mereka akan sangat membebaniku. Tapi, mereka sudah kalah, bukan? Kalau begitu ini sudah saatnya bagiku untuk bertarung." ucap Piekarski dengan nada dingin.
"Setelah berhasil mengalahkanmu, maka semua pejabat yang menjadi bawahan Konstantine bersaudara telah berhasil dikalahkan. Setelah itu, hanya tingga menunggu Izumi dan yang lainnya, yang saat ini sedang berhadapan dengan para Konstantine." ucap Vika.
"Sayang sekali. Kau terlalu meremehkan mereka, para Konstantine bersaudara. Mereka itu kuat, loh. Konstantine Fischl, Konstantine Koizumi, dan Konstantine Babenko, mereka bertiga mempunyai kekuatan yang cukup merepotkan.." ucap Piekarski.
"Meski mereka mereka mempunyai kekuatan yang merepotkan seperti perkataanmu, aku yakin Izumi dan lainnya akan berhasil mengalahkannya." ucap Vika.
"Baiklah. Kalau semua antusiasmu berkata begiu. Tapi, kenapa kau tidak memikirkan dirimu sendiri saja? Apa kau sudah yakin bisa mengalahkanku? Aku punya kekuatan yang tidak kalah merepotkan loh.." ucap Piekarski.
"Aku sama sekali tidak takut. Selama petualanganku sampai ke titik ini, aku sudah berkali-kali melawan orang dengan kemampuan yang merepotkan. Aku punya banyak pengalaman dalam bertarung." ucap Vika.
"Wuih, mengerikan. Aku jadi sedikit takut." ucap Piekarski dengan nada mengejek.
"Aku juga sudah cukup lama tidak bertarung melawan musuh sejak di pulau Lunar. Jadi, ini adalah waktu yang pas, melihat seberapa jauh diriku berkembang." ucap Vika dengan nasa semangat.
"Hoi.. Aku juga sudah lama tidak bertarung loh. Aku takut akan berbuat kasar pada wanita sepertimu. Tapi apa boleh buat, kau dan kelompok Bajak Laut sampahmu itu telah mengusik acara eksekusi ini." ucap Piekarski.
Vika dengan semangatnya yang membara akan segera bertarung melawan Piekarski. Siapakah yang akan menang diantara pertarungan ini? Vika ataukah Piekarski?
See you Next Chapter.
B E R S A M B U N G