
Di sebuah ruangan yang berada di dalam kastil tua. Terlihat Xia yang sedang memandangi sesuatu keluar jendela. Xia melihat ke arah Aisah yang sedang bermain dengan beraneka macam bunga di halaman. Xia tampak tersenyum ketika melihatnya.
"Dia masih kecil yang tak tahu masalah apapun tentang hal ini. Dia masih polos dan juga suci. Tangannya pun belum ternodai sama sekali. Jadi, aku akan bersungguh-sungguh untuk melawan Pemerintah. Aku tidak ingin di generasi Aisah nanti mengalami hal yang sama seperti generasi ku.." ucap Xia.
Tak berselang lama kemudian, Xianfeng pun memasuki ruangan tersebut dan menyapa Xia sembari bersandar di pintu yang terbuka, "Yo, Xia-chan. Sudah lama kita tidak berduaan seperti ini, maukah kau beromantisan denganku, Xia-chan?" tanya Xianfeng dengan raut wajah sok cool.
Xia melirik ke arah Xianfeng, "Kemarilah." Xia mengajak Xianfeng untuk mendekat dan berdiri disebelahnya. Dan ketika Xianfeng sudah berdiri sebelahnya, "Lihatlah, Xianfeng-kun. Bagaimana perasaanmu bila di Generasi Aisah di masa depan nanti merasakan hal yang sama seperti kita? Mendapatkan ketidakadilan dari pemerintah seperti orang yang bodoh.."
"Tentu saja aku tidak mau. Aku ingin Negara ini menjadi damai serta terbebas dari tikus-tikus berdasi. Agar, anak-anak kita di kemudian hari nanti juga akan merasakan sebuah kedamaian.." ucap Xianfeng.
"Ya, aku tidak sabar untuk bertemu masa-masa itu. Aku ingin segera melihatnya. Namun, sebuah penghalang harus kita kalahkan terlebih dahulu.." ucap Xia.
"Maksudmu Pemerintah, ya?"
"Benar. Kalau dalam perang pemberontakan dari Pasukan Revolusi gagal. Maka takkan ada masa depan yang seperti itu. Yang ada hanyalah kehancuran. Tidak akan ada generasi emas di masa mendatang."
"Sekuat apapun kekuatan dari Pemerintah. Kita wajib untuk mengalahkannya dan mengubah kepemimpinan pemerintah yang baru. Kita juga harus memberantas oknum-oknum pejabat yang masih berkeliaran di lembaga."
"Sudah cukup lama Negara kita dikuasai oleh pejabat-pejabat seperti mereka. Jadi, kita harus mengakhiri hal ini. Kita tak bisa membiarkan mereka menguasainya lebih lama lagi. Hidup atau mati, kita harus berhasil memenangkan pertempuran ini.."
"Yeah."
Sementara itu, Aisah yang terlihat asyik sedang bermain dengan beraneka macam bunga pun terlihat begitu gembira. Bahkan Aisah memasangkan setangkai bunga yang cantik di sela-sela telinganya.
Tak berselang lama setelah itu, Vika pun datang menghampiri Aisah. Vika tersenyum, "Cantik sekali, Aisah. Kau lebih cantik dari hari biasanya." Vika memuji Aisah.
"Vika-Oneesan? Benarkah? Aku juga merasa begitu." Aisah tersenyum lebar. Lalu ia menunjuk ke arah setangkai bunga yang menempel pada sela-sela telinganya, "Mungkin karena bunga ini yang menambah kecantikanku, Neesan.."
"Yaps. Bunga yang sangat indah. Cocok dengan dirimu yang sekarang. Bahkan dengan bunga itu, Aisah semakin cantik." Vika terus memuji Aisah agar merasa senang.
"Yeay!!! Makasih, Oneechan!!"
"Ya!!"
Disisi lain. Di sebuah ruangan yang cukup luas didalam Kastil. Dimana ruangan itu berisi beraneka macam alat olahraga. Terlihat Yoshino yang hanya mengenakan celana panjang tanpa baju. Otot-otot nya begitu terlihat dengan jelas serta keringatnya yang bercucuran deras. Kini Yoshino sedang berusaha untuk mengangkat barbel seberat seratus kilogram.
Yoshino melampaui batasnya untuk mengangkat barbel-barbel yang berat itu. Sekilas, ketiga pedangnya juga berada di dekatnya.
"Aku harus berlatih dan berkembang. Aku tidak boleh berjalan ditempat. Kalau tidak, aku takkan bisa mengalahkan musuh-musuh kuat diluar sana.." ucap Yoshino. Lalu dia menurunkan barbel yang ia angkat.
Setelah itu, Yoshino berjalan ke sisi lain ruangan. Dan mengambil sebuah pedang kayu. Kini dia akan belajar untuk melatih teknik berpedangnya.
"Settt!! Settt!!! Settt!!!" Yoshino melakukan gerakan yang sangat lincah pada pedang kayu tersebut. Yoshino juga tampak sedang mencoba untuk melakukan gerakan terbaru dalam berpedang.
"Ah, sangat melelahkan sekali. Tapi, aku menjadi bersemangat. Aku harus meningkatkan kekuatan fisikku agar diriku menjadi semakin kuat lagi. Aku benar-benar harus melampaui batasku sendiri.." ucap Yoshino sembari tersenyum menyeringai.
Yoshino pun bangkit dan bangun kembali. Dia pun melanjutkan latihan berpedangnya kembali.
Sementara itu, di ruangan dapur. Terlihat Killa yang saat ini sendirian berada di dalam ruangan tersebut sembari membaca sebuah buku berisi resep-resep makanan. Dia tertarik dengan makanan khas Negara Grousse Kontinent, dan berniat untuk mempelajarinya.
"Ouh, cukup rumit dalam pembuatannya. Tapi, itu tidak masalah bagiku. Karena sesulit apapun, kalau aku menganggapnya sebagai latihan, maka tidak ada kata sulit bagiku." ucap Killa.
Killa tampak serius membaca buku resep makanan itu karena ia memiliki hasrat untuk memasak makanan baru di kemudian hari kepada rekan-rekan kru Bajak Laut nya ketika sudah berlayar kembali di lautan.
Di ruangan lain. Terlihat Izumi dan cukup banyak orang lainnya sedang memakan beraneka macam makanan lezat.
Izumi yang melihat makanan lezat itu pun langsung meraihnya satu-persatu, lalu memakannya dengan sangat lahap.
"Yatta!!! Makanan ini sangat lezat sekali. Dan banyak makanan lezat ini disini. Jadi, aku bisa memakan banyak makanan sepuasnya!!!" teriak Izumi.
"Yo!!!" teriak yang lainnya.
Mereka semua sekilas seolah-olah seperti sedang melakukan pesta makan besar. Sangat meriah. Bersenang-senang. Semua orang ikut makan tanpa ada perselisihan.
"Yo, senpai. Bagaimana menurutmu makanan disini? Aku ingin mendengarkan pendapatmu." Tiba-tiba Nekoniku duduk disebelah Izumi lalu merangkulnya.
"Ah, makanan disini sangat lezat. Bahkan aku ingin menghabiskan semua makanan yang berada disini." jawab Izumi.
"Ternyata seleramu itu bagus juga ya, Senpai. Mari kita makan makanan ini sepuasnya sampai kenyang, sampai perut kita meledak!!" ucap Kenokinu. Ia berjalan mendekat ke arah Nekoniku dan Izumi.
"Huh? Aku tidak mau makan sampai perutku meledak!!!" ucap Izumi yang kemudian menggigit ayam goreng, "Aku tidak ingin mati karena memakan makanan lezat ini!!!" teriak Izumi, lalu ia melahap beberapa makanan lain yang berada diatas meja.
"Huahaha, kau benar-benar hebat, Senpai!!!" teriak Nekoniku yang juga ikut melahap beberapa makanan yang berada diatas meja.
"Mari kita makan sebanyak-banyaknya sampai perut kita meledak!!!" teriak Kenokinu.
"Yo!!!"
"Tidak woi!!!" teriak balik Izumi.
Memakan makanan lezat adalah keinginan setiap orang. Kenyang karena makanan lezat. Pasti akan membuatmu merasa begitu bahagia. Kenapa begitu? Lihat saja, mereka para pejabat korup yang kebanyakan dari mereka perutnya buncit. Karena mereka sering memakan makanan lezat setiap harinya. Meski memakai uang haram.
Kita lanjut ke next Chapter.
B E R S A M B U N G