Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
99. Bodyguardnya Kesya



"Kalau aku menjualmu, dan akan membuat para anak yatim tersebut bisa memiliki masa depan, mereka bisa berobat dengan layak. Aku tidak apa-apa, sayang!" ucap Kesya malah membuat Andika cemberut.


"Jadi, Kau rela suamimu ini, menjadi pujaan wanita lain? Jadi kau rela suamimu ini dipegang-pegang, diliatin oleh perempuan-perempuan itu? Ya, betul begitu?" tanya Andika sambil cemberut. Kesya mendekati sang suami, lalu menciumnya sekilas, tetapi Andika tidak mau melepaskan istrinya tersebut.


"Kau harus mendapatkan hukuman! Karena sudah berani menjual suami kamu, demi mendapatkan donasi untuk anak-anak tidak mampu itu!" ucap Andika sambil terus menghujani Kesya dengan ciuman dan kecupan mesra.


Kesya hanya tertawa, mendapatkan hukuman sang suami. Andika kalau sudah kumat sensitif nya, selalu begitu. Kesya sudah hapal betul dengan suaminya. Setelah puas, Andika kemudian memeluk Kesya dengan penuh cinta.


"Sayang, kamu boleh menjual aku kepada mereka, asal kau berikan aku cinta kamu setiap hari seperti ini!" ucap Andika sambil mengelus rambut sang istri yang ada dalam pelukannya. Kesya menarik nafas dalam-dalam.


"Sayang! Aku nggak bermaksud menjual kamu kok! Aku hanya bermaksud, dengan kehadiran kamu, maka akan memberikan semangat kepada anak-anak itu. Setidaknya kan, kalau Owner dari rumah sakit itu, ada di sana. Itu pasti akan menjadi cambuk yang besar bagi mereka untuk berjuang melawan penyakit mereka. Adapun masalah donasi yang diberikan oleh para tamu, para undangan yang kita undang, itu merupakan sebuah bonus. Yang terpenting adalah semangat mereka dalam berjuang agar bisa sembuh dan bisa menata kembali masa depan mereka!" ucap Kesya, Andika masih menyimak penjelasan Kesya.


"Ya, sayang! Papa ngerti kok! Papa juga cuma bercanda, bilang kamu menjual Papa! Biar Papa bisa mendapatkan apa yang Papa inginkan dari kamu!" seringai licik terbit dari bibir Andika, yang malah membuat Kesya tertawa.


"Ih, dasar licik! Seenaknya saja menghukum istrinya, tapi ya sudah! Kalau di hukumnya dengan ibadah semacam ini, tidak apa-apa!" Kesya akhirnya malah membenamkan wajahnya di ceruk leher Andika.


"Ya udah yuk, sayang! Kita tidur saja, ya? Besok pasti sangat melelahkan. Tububku rasanya sudah remuk redam nih, gara-gara hukumanmu! Dasar jahil!" Kesya mengecup bibir suaminya sekilas. Andika mengeratkan pelukannya terhadap sang istri. Kemudian mereka pun tidur bersama dengan perasaan yang tenang dan nyaman. Tanpa harus merasakan ketakutan akan kehilangan satu sama lain.


Ketika rasa percaya itu sudah hadir dalam hati setiap pasangan, maka akan melahirkan sebuah kenyamanan, sebuah ketenangan untuk melepaskan pasangan kita berada di luar sana, tanpa takut, mereka akan berbuat macam-macam, saat tidak ada kita di sampingnya. Hakikat kesetiaan adalah bagaimana kita menjaga hati, disaat pasangan kita, tidak bersama dengan kita. Itulah makna kesetiaan yang sesungguhnya. Kesetiaan bukanlah arti dari seseorang yang menolak hadirnya wanita lain, saat ada sang pemilik hati, tapi ketika dia mampu menolak godaan, ketika sang pemilik hati, tidak ada di sampingnya.


Keesokan harinya, Kesya dan Andika pun bersiap-siap, untuk menghadiri acara amal yang akan diadakan oleh Abimana grup. Di rumah sakit yang telah dikelola oleh Kesya selama bertahun-tahun ini. Setelah kelulusannya dari universitas kedokteran.


Ya, begitu besarnya rasa cinta dan rasa sayang mertuanya Kesya terhadap Kesya. Sehingga di saat Kesya memulai kuliahnya di universitas Kedokteran Dubai, mereka membangun sebuah rumah sakit megah dan mewah. Untuk bisa dikelola oleh sang menantu ketika dia sudah lulus dari kuliahnya. Dan sekarang, Rumah Sakit tersebut telah membantu jutaan orang yang tidak mampu untuk berobat di sana dengan bantuan Abimana grup sebagai Leader. Untuk mengerahkan para jutawan-jutawan Dubai untuk mengulurkan tangan mereka. Dalan membantu para kaum miskin dan papa. Serta jutaan anak yatim piatu yang berprestasi dalam mewujudkan cita-cita mereka.


"Bagaimana penampilanku hari ini, Sayang? Apakah sudah cetar membahana?" tanya Andika, ketika mereka berdua tengah bersiap-siap untuk berangkat ke rumahnya sakit.


"Aduh, sayang! Jangan terlalu tampan!" teriak Kesya, sehingga membuat Andika malah keheranan.


"Karena aku takut, kalau sampai, suamiku yang terlalu tampan ini, nanti ada diculik, oleh perempuan lain! Aku akan nangis, pokoknya guling-guling di tengah jalan kalau hal itu terjadi!" ucap Kesya sambil cemberut. Andika malah tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan sang istri.


"Ih, sayang! Kayaknya lucu deh, kalau Mama nangis guling-guling di tengah jalan! Ah, Papa pengen melihatnya loh!" Andika malah menggodanya, sehingga Kesya malah bergelayut manja di lengan sang suami.


"Aku akan mengikatmu terus! Supaya Papa tidak ada yang menculik di sana! Kalau Papa berani macam-macam, Mama pasti akan memberikan hukuman yang sangat berat!" ancam Kesya dengan memasang wajah seriusnya.


Andika langsung bergidik ngeri, kalau sudah melihat istrinya dalam mode seperti itu. Sehingga dia pun akhirnya memutuskan untuk melarikan diri dari situasi tersebut.


"Ya udah yuk, Sayang! Kita sarapan dan kita langsung pergi aja ke lokasi acara! Jangan sampai, tuan rumah malah terlambat daripada undang-undang. Itu sungguh tidak baik, sayang!" ucap Andika sambil mencubit pipi sang istri.


"Ah, Papa paling pandai melarikan diri dari situasi yang tidak menguntungkan! Benar-benar seorang Abimana!" cicit Kesya pura-pura marah. Andika segera mengejar sang istri dan menghadiahkan ciuman bertubi-tubi terhadap sang istri. Sehingga Kesya akhirnya bisa tersenyum lagi.


"Sayang, hati Papa itu sudah terkunci! kuncinya sudah di buang ke tengah lautan cinta kamu! Jadi, selamanya, hanya kamu yang bisa masuk ke sana! Jangan pernah meragukan cinta Lala, Hmmmmm?" ucap Andika sambil merangkul sang istri dengan penuh Kemesraan. Kesya menghirup wewangian sang suami yang selalu sanggup menenangkan jiwa dan pikirannya.


"Ya sayang! Mama juga percaya kok dengan Papa dan Papa, juga harus percaya dengan Mama. Papa sekarang sudah bisa menarik para Bodyguard yang sudah Papa tugaskan untuk selalu mengawasi Mama!" ucap Kesya.


Demi mendengarkan apa yang dikatakan oleh Kesya, Andika hanya bisa tersenyum saja. Setelah menarik nafas dalam-dalam, Andika kemudian menjelaskan, apa yang dia maksud, dengan menempatkan beberapa Bodyguard di sisi sang istri selama bertahun-tahun lamanya.


"Papa menempatkan beberapa Bodyguard di sampingmu, bukan karena tidak mempercayaimu,sayang! Tapi, Papa ingin menjaga keamananmu dari musuh-musuh Abimana grup. Jangan sampai mereka menggunakan kamu, untuk menekan Papa dalam mengambil keputusan-keputusan bisnis. Pasti Mama paham bukan? Hal-hal tentang seperti itu? Karena Mama adalah kelemahan terbesar Papa!" ucap Andika sambil memeluk sang istri.


"Ya, sayang! Mama paham! Hanya saja, rasanya risih, di awasi terus sepanjang hari!" ucap Kesya.


"Ya sudah! Nanti Papa akan bicara kepada mereka, untuk menjagamu dari kejauhan. Sehingga kau bisa beraktivitas dengan tenang, tanpa merasa diawasi oleh mereka. Bagaimanapun, yang penting bagi Papa, hanya ingin menjamin keamananmu agar tetap aman dan selamat. Sehingga Papa bisa tenang dalam bekerja! Hanya itu saja!" ucap Andika. Kesya kemudian mengangguk-angguk setuju. Lalu mereka turun ke bawah untuk sarapan bersama. Cakra sudah menunggu kedua orang tuanya. Sudah wangi dan tampan.